///Mengawasi dan bertekun dalam ajaran yang sehat

Mengawasi dan bertekun dalam ajaran yang sehat

Penyebab semua masalah dan persoalan itu adalah karena masuknya ajaran-ajaran yang sesat yang berasal dari penafsiran yang keliru tentang hukum Taurat, termasuk larangan untuk memakan makanan tertentu dan larangan untuk menikah (1 Tim. 1:7-11; 4:1-5).

Dalam menghadapi masalah dan persoalan yang sangat genting itu, Timotius diminta untuk selalu mengawasi diri dan ajarannya:
“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1 Tim. 4:16)

Ajaran yang sehat akan sangat memengaruhi ibadah seseorang, dan selanjutnya, hasil dari ibadah yang sehat adalah buah-buah kasih.
“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Tim. 4:7-8)

“Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman. Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” (1 Tim. 1:3-5)

Perhatikan bahwa tujuan nasihat (ajaran Hukum Taurat) adalah Kasih, bukan sekadar pengetahuan, apalagi tentang silsilah dan dongeng-dongeng yang tidak berkaitan dengan tertib hidup keselamatan. Jadi ajaran-ajaran apa pun, betapa pun menariknya, jika tidak berkaitan dengan tertib hidup keselamatan (ajaran Kristus) dan tidak menuntun pada ibadah yang sehat, pasti akan menghasilkan kerusakan karakter serta segala macam persoalan dan masalah berat dalam kehidupan murid-murid Kristus (1 Tim. 6:2-10).

Di samping itu, Paulus melarang wanita untuk mengajar dan memerintah atas laki-laki (1 Tim. 2:12-15). Kita perlu memperhatikan pula di sini mengapa Paulus melarang wanita mengajar dan memerintah (memimpin) laki-laki, yaitu karena suatu latar belakang dan konteks yang khusus. Saat itu, budaya wanita Efesus yang cenderung mengontrol dan sulit tunduk kepada suami mereka berakar dari latar belakang penyembahan kepada Dewi Artemis, yang sangat mendominasi laki-laki. Wanita-wanita yang belum pulih (lemah rohani) dari latar belakang budaya itu tidak boleh dibiarkan mengajar karena mereka sangat berpotensi menyesatkan wanita-wanita lainnya, dan akhirnya menyesatkan para suami serta seluruh keluarga dalam jemaat (2 Tim. 3:5-9). Karena alasan inilah, Paulus di Efesus melarang wanita untuk mengajar dan memerintah (memimpin) atas laki-laki. Saya percaya bahwa peraturan ini tidak berlaku umum. Di jemaat Kreta, wanita diizinkan untuk mengajar dan mendidik (Tit. 2:3-5), dan kita tahu bahwa wanita sebagai anggota tubuh Kristus juga diberikan karunia untuk mengajar dan memimpin (Roma 12:5-8). Karunia diberikan tentu untuk digunakan bagi kepentingan bersama dalam jemaat, dan di dalam pertemuan-pertemuan jemaat kita semua juga diminta untuk saling mengajar (Kol. 3:16).

Dalam surat 1 Timotius, Paulus secara khusus menekankan pentingnya kita sebagai murid Kristus mengawasi dan bertekun dalam ajaran yang sehat. Mari kita lihat seluruh isinya secara singkat.

Garis Besar Isi Surat Pertama Timotius

I. Salam pembuka (1 Tim. 1:1, 2)

II. Instruksi tentang ajaran yang sesat (1 Tim. 1:3–20)

A. Ajaran sesat di Efesus (1 Tim. 1:3–11)
B. Ajaran yang sehat dari Paulus (1 Tim. 1:12–17)
C. Dorongan kepada Timotius (1 Tim. 1:18–20)

III. Instruksi tentang hidup jemaat (1 Tim. 2:1–3:16)

A. Pentingnya doa (1 Tim. 2:1–8)
B. Peran wanita (1 Tim. 2:9–15)
C. Kualifikasi pemimpin (1 Tim. 3:1–13)
D. Alasan penulisan surat oleh Paulus (1 Tim. 3:14–16)

IV. Instruksi tentang pengajar-pengajar sesat (1 Tim. 4:1–16)

A. Penjelasan tentang pengajar sesat (1 Tim. 4:1–5)
B. Penjelasan tentang pengajar yang sehat (1 Tim. 4:6–16)

V. Instruksi tentang tanggung jawab penggembalaan (1 Tim. 5:1–6:2)

A. Tanggung jawab terhadap anggota jemaat yang berbuat dosa (1 Tim. 5:1–2)
B. Tanggung jawab terhadap para janda (1 Tim. 5:3–16)
C. Tanggung jawab terhadap penatua (1 Tim. 5:17–25)
D. Tanggung jawab terhadap para hamba/budak (1 Tim. 6:1–2)

VI. Instruksi tentang manusia Allah (1 Tim. 6:3–21)

A. Bahayanya ajaran sesat (1 Tim. 6:3–5)
B. Bahayanya cinta akan uang (1 Tim. 6:6–10)
C. Karakter dan motivasi yang benar pada manusia Allah (1 Tim. 6:11–16)
D. Cara yang benar untuk mengelola harta (1 Tim. 6:17–19)
E. Cara yang benar untuk menyikapi kebenaran (1 Tim. 6:20–21)

 

2019-10-12T11:00:07+07:00