///Menghitung Hari

Menghitung Hari

Biangga duduk tercenung, malam itu rasanya dia capek sekali sampai tidak sanggup lagi mengingat apa saja aktivitasnya sepanjang hari. Sebuah tarikan napas panjang keluar terdengar. Itu tarikan napasnya sendiri, seolah memberikan tanda “pause” kepada pikirannya untuk menemukan ketenangan. Helaan napas itu diikuti dengan pejaman mata dan bisikan pelan di hatinya, “Tuhan… aku lelah…” sambil melepaskan napas panjang dan membuka kembali matanya. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu, kalender meja disamping tempat tidurnya yang seolah berbicara dan memanggil untuk diperhatikan… “Ya Tuhan, ternyata ini sudah masuk bulan Desember, sudah akhir tahun..! Cepat sekali waktu berlalu!Hmm… bukan berlalu, mungkin tepatnya berlari…”

Diambilnya kalender meja itu dan dibaliknya lembaran 11 bulan yang sudah terlewati. Rasanya baru kemarin tahun baru, sekarang sudah mau tahun baru lagi…Sambil memegang kalender meja di tangannya, matanya tertumbuk pada foto keluarga di sampingnya. “Betapa banyak peristiwa terjadi sepanjang tahun ini, tapi rasanya belum banyak yang kulakukan…” Biangga berkata kepada dirinya sendiri. Ditaruhnya kalender meja dan diambilnya foto keluarganya, diusapnya perlahan setiap wajah yang ada di foto itu. Wajah Putro suaminya, Kinanti putrinya yang mulai beranjak remaja, dan  Rangga putranya yang baru masuk SD. Senyum kecil tersungging di bibir Biangga dan syukur mengalir lirih dari mulutnya, “Tuhan, terima kasih untuk keluargaku…”

Sepertinya malam itu Tuhan memberikannya waktu khusus untuk “berdua saja dengan Dia.” Putro dan kedua anaknya pulang ke Yogyakarta karena ada kerabat yang meninggal, sementara dia sendiri terpaksa tidak bisa ikut karena ada proyek di kantor yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditunda. Menyadari hal itu, Biangga yang semula berencana mau tidur cepat segera berubah pikiran. Matanya mencari sesuatu: Alkitab. Ya, rasanya sudah lama buku tebal itu tidak lagi dipegangnya, apalagi dibacanya. Seketika itu dia merasakan kerinduan yang begitu dalam untuk berdoa, bertemu dan berbicara dengan Tuhan, berdua saja dengan Dia.

Di samping tempat tidurnya,Biangga berlutut dan mulai menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan. Begitu dalamnya perasaan dan kerinduannya, sampai dia tidak tahu berapa lama dia berdoa… Air mata mengalir turun dan membasahi wajahnya, dan dia bisa merasakan bahwa hati dan pikirannya seolah disegarkan. Setelah mencurahkan isi hatinya, dia melanjutkan doanya, “Bapa di surga, aku sudah selesai dengan semua rasa di hatiku… Terimakasih untuk waktu yang indah ini… Sekarang, aku mau mendengar suaraMu…”

Dalam kesenyapan malam itu dan kebeningan hatinya ada suara muncul di hatinya, “Anakku, Aku mengasihimu…” Tiga kata sederhana itu seolah membuncah di hatinya dan membuatnya menangis sesenggukan seperti anak kecil. Betapa banyak hal yang dia tahu mesti dilakukan tetapi dia tidak melakukannya, dan Tuhan tetap mengasihinya? Malam itu Biangga mengerti apa itu kasih Allah, dan pengertian itu menyadarkan asa dan nuraninya untuk berkata, “Tuhan, ampuni aku… Ampuni aku karena menyia-nyiakan waktu yang Kau berikan. Ampuni aku karena tidak melakukan hal yang aku tahu sebagai yang utama.Ampuni aku karena mengandalkan kekuatanku sendiri. Ampuni aku Tuhan…” Diambilnya Alkitab di tangannya, dan dilanjukannya doa itu,“Tuhan, aku mau bertobat dan menjadikan Engkau yang utama dalam hidupku: mengatasi setiap kekhawatiranku, memercayaiMu dengan segenap hati bahwa Engkau berdaulat atas hidupku.”

Tanpa disadarinya, saat itu posisi duduknya bukan lagi berlutut di samping tempat tidur tetapi bersujud di lantai kamar tidur. Kelegaan menguasai hati dan pikirannya, dan dibulatkannya tekadnya untuk melanjutkan dengan membaca Alkitab yang jarang dibukanya selama ini. Teringat nasihat ibunya, bahwa tidak ada persoalan yang tidak ada jawabannya di dalam Alkitab, dan itu meneguhkannya untuk mencari jawaban bagi segala hal yang selama ini membuatnya “sibuk” dengan hidupnya.Dipilihnya kitab Mazmur pasal 23: Tuhan, gembalaku yang baik. Ini pasal favoritnya sejak masa Sekolah Minggu dulu. Dibacanya perlahan-lahan keenam ayatnya, kali ini tidak dalam hati tetapi dengan mulutnya, sehingga telinganya mendengar suaranya sendiri. Ada yang terasa berbeda, terutama di ayat ketiga, “Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.” Itu dia! Itulah jawaban bagi pertanyaannya tadi tentang mengapa Tuhan tetap mengasihinya walaupun banyak hal sepertinya tidak dia lakukan dengan benar, “oleh karena namaNya…” Oleh karena namaNya-lahDia adalah Tuhan, karena Dia-lah kasih itu sendiri.

Malam itu Biangga seolah tenggelam dalam samudera kasih Allah. Kekaguman pada pribadi Tuhan itu menenggelamkan seluruh kekhawatiran dan persoalan hidupnya yang sebelumnya seolah tak pernah ada habisnya. Bahagia, haru, kagum, indah, mulia, manis, semua rasa itu memenuhi hati dan pikirannya. Ringan, lepas, merdeka…Ya, kebenaran itu memerdekakan jiwanya..! Diambilnya buku catatan, dan ditulisnya semua yang dialaminya malam itu.

Esok harinya saat suami dan anak-anaknya kembali dari Yogyakarta, Biangga menyambut mereka dengan senyum bukan hanya di wajahnya tapi juga di hatinya. “Mas Putro, ada yang aku mau ceritakan nanti malam, ya…” bisik Biangga kepada suaminya. Wajah suaminya tampak penasaran, tetapi melihat senyum sang istri, Putro tahu bahwa sesuatu yang baik telah terjadi pada istrinya.

Malam harinya, Biangga menceritakan semua pengalamannya bersama dengan Tuhan dan juga menunjukkan apa yang dicatatnya. Sekarang semua rasa itu bukan hanya milik Biangga seorang,karena Putro pun bisa merasakannya juga. Dipegangnya tangan istrinya, dan dipimpinnya dalam doa besama, “Bapa di surga, aku bersyukur untuk semua keindahan yang dialami oleh istriku. Terima kasih karena Engkau adalah Allah yang setia menjawab doa-doa kami, terima kasih karena Engkau ada dan nyata untuk kami. Engkau lebih besar dari segala masalah dan kekhawatiran kami. Terima kasih untuk firmanMu, terima kasih untuk kasihMu… Kami menyerahkan keluarga ini ke dalam tanganMu. Di dalam nama anakMu Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.” Doa sederhana ini diakhiri dengan pelukan hangat Putro untuk Biangga. Bersama-sama, mereka berkomitmen untuk saling mengingatkan hal yang utama dilakukan dalam keluarga mereka  yaitu makin mengenal, mengasihi, dan melakukan kehendak Tuhan lewat setia membaca firman dan berdoa. Akhir tahun menjadi saat berharga.Semua karena Biangga dan Putro kini menyadari betapa penyertaan Tuhan itu nyata, mensyukuri setiap hal yang terjadi dalam kedaulatanNya yang sempurna, makin mengasihi Dia, dan menjadikan Dia sebagai yang utama dalam hidup ini.

Mazmur 90 : 12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikan, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”

Pertanyaan refleksi :

1. Bagaimana kualitas hubungan pribadi Anda dengan Tuhan dalam setahun ini?
2. Berapa banyak resolusi yang Anda buat di awal tahun yang sudah Anda lakukan?
3. Buatlah catatan pribadi di akhir tahun ini yang berisi daftar setiap berkat yang Anda terima, setiap janji Tuhan yang digenapi, setiap pergumulan baik yang sudah maupun yang masih harus dihadapi,  dan setiap komitmen yang akan Anda lakukan di tahun depan.

2019-10-17T13:51:01+07:00