///Mengungkap dan Meninggalkan Iri Hati

Mengungkap dan Meninggalkan Iri Hati

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16)

 

“Iri hati” (bahasa Inggrisenvybahasa Latininvidia), yang kadang disebut juga “dengki” atau “hasad”, adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang tidak memiliki suatu keunggulan, baik prestasikekuasaan, atau yang lainnya, tetapi menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya itu, atau dia mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangan sesuatu itu. Iri hati ialah sifat manusia yang benci ketika orang lain mendapatkan sesuatu yang melebihi yang dia sendiri dapatkan/miliki.

 

Bertrand Russell, seorang ahli filsafat dan logika peraih penghargaan Nobel, pernah menyatakan sebuah filosofi bahwa iri hati adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan. Orang yang iri hati tidak hanya menyebabkan ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri, tetapi juga mengharapkan serta ingin menimbulkan kemalangan bagi orang lain. Bertrand Russell berpendapat bahwa ketidakstabilan status sosial di dunia modern, juga doktrin kesetaraan dari demokrasi dan sosialisme, sangat berperan dalam memperluas penyebaran iri hati dalam suatu kelompok masyarakat. Karena itu, iri hati adalah sesuatu yang jahat, tetapi menurutnya kejahatan ini perlu ditanggung oleh masyarakat demi tercapainya suatu sistem sosial yang lebih berkeadilan, dan memang iri hati merupakan suatu fenomena yang ada di berbagai budaya masyarakat (https://www.wikidoc.org/index.php/Envy#:~:text=Bertrand%20Russell%20said%20envy%20was,rendered%20unhappy%20by%20his%20envy).

 

Dikisahkan dalam Matius 20:1-16, seorang tuan mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Pagi-pagi benar sang tuan mendapatkan pekerja dengan kesepakatan upah sebesar satu dinar sehari kerja. Kira-kira pukul sembilan pagi, didapatkannya juga pekerja-pekerja lain, yang lalu disepakati untuk diberikan upah yang pantas pula bagi mereka. Pada pukul dua belas dan pukul tiga petang sang tuan melakukan hal yang sama, mendapatkan beberapa pekerja lagi. Kemudian pada pukul lima petang, didapatnya juga pekerja untuk bekerja di kebun anggurnya. Ketika malam, waktunya tiba bagi setiap pekerja itu untuk masing-masing menerima upahnya. Pekerja-pekerja yang pertama masuk adalah mereka yang memulai bekerja paling akhir, yang masing-masingnya menerima upah satu dinar. Selanjutnya, masuklah para pekerja yang paling awal mulai bekerja, sejak pagi-pagi benar. Mereka berharap akan menerima upah yang lebih besar karena jam kerja yang lebih panjang. Namun, yang mereka masing-masing terima sama besarnya, satu dinar juga. Hal ini membuat mereka bersungut-sungut kepada sang tuan, lalu sang tuan menjawab mereka, “Tidak adilkah aku, bukankah sudah kita sepakati bahwa upah satu dinar sehari? Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku. Atau, iri hatikah engkau?”

 

Apakah Anda dan saya pernah iri hati? Berikut ini adalah gejala-gejalanya:

  1. Kesal melihat keberhasilan orang lain,
  2. Kecewa karena tidak memiliki seperti yang dimiliki orang lain,
  3. Sedih karena merasa kurang beruntung/diberkati lalu membandingkan diri dengan orang lain,
  4. Marah karena merasa lebih berhak daripada orang lain: “Mengapa orang lain bisa mendapatkan itu tetapi aku tidak?”,
  5. Menghakimi dengan asumsi jelek tentang orang lain, misalnya menuduh orang itu melakukan kolusi, nepotisme, kecurangan, atau hal-hal buruk lainnya,
  6. Gusar dan tidak mau kalah, bahkan ingin merusak kondisi baik yang sudah ada,
  7. Menyesali diri karena tidak seperti orang lain, termasuk merasa lesu dan malang karena menganggap tidak ada keadilan dan/atau menuntut kesamaan hak,
  8. Menyalahkan situasi dan orang lain,
  9. Putus asa dan/atau menyalahkan Tuhan.

 

Selain menimbulkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat, iri hati juga muncul dalam berbagai gejala di atas, yang pada intinya dapat disimpulkan sebagai ketidakbahagiaan. Mari kita berhenti iri hati, dengan memperhatikan beberapa prinsip utama berikut:

  1. Allah tidak pernah berpihak kepada siapa pun yang iri hati.

Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia.” (Kisah Para Rasul 7:9)

 

  1. Allah senantiasa melihat dan menilai respons hati kita.

Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:13)

Ketika situasi, orang, bahkan barang-barang di sekitar kita tidak benar atau tidak ideal sesuai yang kita inginkan, kita perlu tetap berespons benar. Ingatlah bahwa Tuhan senantiasa mengetahui isi hati kita. Iri hati bisa dikalahkan dengan respons hati yang benar. Ketika orang lain disembuhkan, diberkati, ditolong Tuhan lebih cepat, Tuhan pun tetap menguji hati kita apakah kita iri hati atau tidak. Hiduplah dalam kebiasaan untuk selalu memilih berespons benar.

 

  1. Allah menghendaki kita bersyukur dalam segala hal.

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Allah.” (Efesus 5:20-21)

 

Iri hati adalah pilihan yang menolak sukacita dan damai sejahtera. Berhentilah iri hati dan mulailah bersyukur.

2022-07-27T10:33:51+07:00