Tanpa terasa, begitu cepat kita telah sampai di bulan terakhir dalam tahun ini. Tahun ini, banyak di antara kita yang mengalami guncangan-guncangan kehidupan, yang diizinkan Tuhan terjadi sehingga memurnikan kita agar kita semua menjadi Gereja yang siap menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali.
Pada akhir tahun ini, saya ingin mengajak kita berpikir, ke manakah Tuhan akan membawa kita sebagai Gereja ke depan? Perenungan yang saya tulis dalam artikel ini bukanlah sebuah “nubuat” atau hasil riset ilmiah, melainkan hasil dari sebuah upaya mengumpulkan data-data Alkitab tentang Gereja akhir zaman serta beberapa perkiraan pakar Gereja pada era sekarang, terutama sesudah pandemi Covid-19. Dari informasi-informasi itulah saya mendapatkan gambaran Gereja masa depan.
Gereja masa depan sudah pasti harus merupakan Gereja yang apostolik, yaitu Gereja yang meneruskan visi-misi dan nilai-nilai jemaat mula-mula yang didirikan oleh Kristus dan dijalankan oleh para rasul-Nya (apostles). Di sisi lain, Gereja masa depan juga adalah Gereja yang kontekstual, yang dapat bertahan dalam situasi dan kondisi penuh guncangan pada akhir zaman.
Sifat-sifat kunci Gereja yang apostolik adalah “build” (membangun) dan “send” (mengutus). Seorang rasul disebut ahli bangunan di 1 Korintus 3:10, karena oleh peran para rasul Gereja dibangun, dengan Kristus sebagai dasar serta Batu Penjuru dan melalui ajaran para rasul dan para nabi (Ef. 2:19-22). Gereja apostolik terus-menerus membangun di atas dasar tersebut sampai Tubuh Kristus mencapai kepenuhan-Nya. Di samping membangun, Gereja apostolik juga terus-menerus mengutus untuk menjangkau suku-suku bangsa (kelompok-kelompok masyarakat dalam berbagai konteks) yang belum terjangkau. Ini sesuai dengan arti kata “rasul” (apostolos), “yang diutus”. Maka, Gereja apostolik adalah gereja yang terus-menerus mengutus para utusan Injil untuk merintis jemaat baru, yang juga bersifat apostolik sampai terjangkaulah semua suku bangsa yang belum terjangkau.
Untuk dapat menghidupinya sendiri sebagai Gereja akhir zaman, mari kita amati hal-hal yang menjadi arahan Alkitab untuk dilakukan berdasarkan kedua sifat kunci Gereja apostolik tersebut.
- Membangun jemaat yang apostolik ke arah kepenuhan Kristus yang kontekstual
- memuridkan para pria/kepala rumah tangga agar mereka memuridkan keluarganya (Mzm. 128:1-6),
- mencetak murid-murid Kristus yang sejati (menjadi disciple-making church) (Mat. 28:18-20),
- membangun unit-unit dasarnya (komunitas kecilnya) dengan semua karunia-karunia pemberian Tuhan (lima karunia Kristus, tujuh karunia Bapa, sembilan karunia Roh Kudus), sehingga jemaat secara bersama bertumbuh mencapai kepenuhan Kristus (Ef. 4:7-16; 1 Kor. 12:4-6),
- terus-menerus memperlakukan (equipping) atas orang-orang kudus sehingga mereka dapat melakukan pekerjaan pembangunan Tubuh Kristus (Ef. 4:7-16),
- mengembangkan unit-unit penggembalaan yang relevan jumlahnya (angka yang disarankan oleh para ahli adalah antara 150-300 orang),
- melakukan pelayanan multigenerasi yang relevan terhadap tantangan era informasi di masa depan.
- Mengutus untuk membangun jemaat apostolik yang kontekstual di suku-suku bangsa dan kelompok-kelompok masyarakat yang belum terjangkau
Kristus berkata, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya,” (Mat. 24:14, TB). Artinya, Kristus tidak akan datang sebelum semua bangsa (suku, etnis, kelompok) terjangkau. Apakah sasaran penjangkauan tersebut? Bukan sekadar penginjilan, melainkan perintisan gereja yang apostolik, yang mandiri dan sanggup menghasilkan gerakan perintisan gereja.
Pada akhir tahun ini, mari kita mengevaluasi kehidupan kita sebagai Gereja. Dengan merenungkan sifat-sifat apostolik yang dibahas dalam artikel ini, kita membangun dan mengutus jemaat yang siap menyongsong kedatangan Kristus kembali.
Selamat Natal, selamat menjalani pergantian tahun dengan semangat baru untuk bertumbuh menjadi Gereja yang apostolik.