///Menjadi Murid Kristus Sejati

Menjadi Murid Kristus Sejati

Sejak beberapa bulan yang lalu kita telah mulai membahas berbagai aspek tentang konsep pemuridan menurut Alkitab. Pada bulan ini, kita akan membahas secara khusus ciri-ciri murid Kristus sejati. Dengan mempelajari apa yang Yesus ajarkan tentang ciri-ciri seorang murid, kita dapat memahami siapakah murid sejati-Nya. Dalam Lukas 14:25-35, Yesus sangat jelas menyatakan ciri-cirinya.

 

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, ‘Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’

 

Garam yang Palsu

Garam dalam sejarah dipakai untuk berbagai kegunaan, termasuk dalam konteks kehidupan pada zaman Yesus: untuk memberi rasa, sebagai pupuk, untuk ditaburkan di ladang, sebagai alat pengesahan perjanjian, sebagai bahan pemurni, dan banyak lagi. Ayat 34-35 dalam Lukas pasal 14 menunjukkan bahwa garam yang menjadi tawar tidak ada gunanya, baik untuk ladang maupun untuk pupuk. Bahkan, Matius 5:13 berkata garam yang tawar itu hanya dapat dibuang dan diinjak orang. Gambaran apa atau siapakah garam yang tawar itu? Mari kita amati maknanya.

Nah, garam pada zaman itu bukanlah seperti garam murni (NaCl) yang kita gunakan pada zaman sekarang. Pada zaman itu, garam diambil dari Laut Mati, dalam kondisi bercampur dengan mineral-mineral lain yang berwarna dan bertekstur serupa seperti garam tetapi tidak berasa asin. Kemudian campuran yang mengandung garam tersebut dikeringkan dan digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satu kegunaan garam pada zaman itu ialah sebagai alat peperangan (Hak. 9:45), serta sebagai bahan pembuatan pupuk dari kotoran binatang. Dalam Matius 5:13-16, dikatakan oleh Yesus bahwa murid-murid-Nya adalah “terang dunia” (the light of the world) dan “garam bumi” (the salt of the earth). Artinya, seperti garam, di dalam diri murid-murid Kristus ada kuasa untuk menghancurkan kerajaan kegelapan (alat peperangan), dan kuasa pemurni/transformasi (mengubah kotoran menjadi pupuk). Sebaliknya, garam palsu berarti sesuatu yang terkesan serupa dengan garam tetapi tidak memiliki kuasa-kuasa tersebut seperti garam yang asli. Garam palsu menggambarkan orang yang tidak lahir baru (murid palsu), meskipun terkesan Kristen dan mengikut Kristus.

Murid palsu adalah seperti garam palsu yang tidak berguna karena tidak memiliki kemampuan dan kualitas garam asli, sehingga hanya dapat dibuang, yaitu “dimanfaatkan” sebagai bahan pelapis jalan untuk diinjak-injak orang. Seperti terang di dalam kegelapan, garam yang asli yaitu murid-murid yang sejati memiliki kuasa untuk mengalahkan kerajaan kegelapan dan mengubah masyarakat. Maka, murid-murid Kristus sejati adalah komunitas terang dan garam yang sangat berkuasa untuk mengalahkan kerajaan kegelapan dan mentransformasi masyarakat di bumi ini.

 

Kita dapat melihat bahwa garam yang tawar yang disebut dalam perkataan Yesus itu adalah garam palsu; mereka bukanlah murid sejati melainkan murid palsu. Murid palsu tidak mungkin mempunyai kuasa untuk mengalahkan kerajaan kegelapan dan mengubah lingkungan sekelilingnya.

Lalu, siapakah murid-murid Kristus yang sejati itu? Dalam ayat 25-27 dan 33, Yesus menjelaskan bahwa ciri-ciri murid sejati ialah:

  • mengasihi Yesus lebih daripada mengasihi siapa pun, bahkan daripada mengasihi diri sendiri,
  • menyangkal diri dan memikul salıb senantiasa,
  • menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan.

 

Terang yang Tertutup Gantang 

Matius 5:13-15 juga menjelaskan bahwa ada pula murid-murid yang seperti terang yang tertutup gantang. Apa artinya? Itu adalah kelompok murid yang sudah lahir baru, tetapi hidup seperti terang yang ditutup gantang. Dalam terjemahan yang direvisi berdasarkan makna aslinya, gantang disebut dalam Alkitab bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru Edisi 2 sebagai tempayan, yang pada intinya wadah yang dibalikkan dan menutupi sesuatu di bawah/dalamnya.

Dalam konteks praktis, gantang itu mungkin berbicara tentang hal-hal yang menghalangi murid Kristus memancarkan terang Kristus dalam kehidupan mereka kepada sekeliling mereka. Wujudnya bisa berupa sistem Gereja yang mengurung murid-murid Kristus di gedung ibadah dan/atau kegiatan gerejawi, sehingga murid Kristus terisolasi dan tidak berfungsi sebagai terang di masyarakat. Selain itu, terang menjadi tertutup gantang karena murid Kristus tidak dapat mengekspresikan kehidupan Kristus melalui kehidupannya, karena mereka tidak mempraktikkan penyangkalan diri dan penyaliban “diri” setiap hari (Luk. 9:23-24). Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat menyangkal diri dan memikul salib setiap hari?

 

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” (2 Kor. 4:7-11)

 

Cara untuk menyangkal diri dan memikul salib setiap hari sebenarnya sederhana. Kita cukup mengikut Yesus setiap hari, maka Tuhanlah yang akan membawa kita ke jalan kematian melalui berbagai penderitaan sehingga kita dapat mengalami kematian dengan menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Dengan menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, seorang murid Kristus yang sejati pasti akan menjadi terang yang tidak tertutup oleh gantang. Seorang murid Kristus sejati pasti mengikut Kristus, menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari, sehingga dia menjadi terang dunia ini.

Mari, sebagai murid-murid Kristus yang sejati kita menjadi garam yang asli dan memastikan terang kita tidak tertutup gantang.

2024-05-29T12:26:04+07:00