///Menjadi Pembina PraNikah Untuk Anak Sendiri

Menjadi Pembina PraNikah Untuk Anak Sendiri

Reporter : Eh…iya…maksud saya itu…. 🙂
K’Agus :Seperti ada tangan Tuhan yang mempertemukan mereka dan yang memimpin mereka untukk mempersiapkan pernikahan mereka.

Reporter : koq..kakak bisa menarik kesimpulan seperti itu?
K’Agus : Ya, Tuhan benar-benar menjawab doa kami, karena sejak anak kami kecil, kami sudah berdoa untuk pasangan hidup mereka dan berdoa juga supaya Tuhan yang mempertemukan dan Tuhan yang mempersiapkan pernikahan anak-anak kami.

Reporter :Seberapa besar keterlibatan kak Agus dan kak Mala mulai dari awal proses membangun hubungan yang dilakukan Tia?  Apa suka dukanya?
K’Agus :Pada awalnya Tia menelpon dari Bali, ada seseorang yang mau serius dengan Tia dan dia bekerja di Jakarta, pria itu dulu pernah satu kantor dan sama-sama ada di PD (Persekutuan Doa) Kantor. Tia minta supaya didoakan oleh kami, akhirnya Philips datang kepada kami utk minta restu dan didoakan. Ini menjadi kesukaan kami sebagai orang tua, karena Philips minta untuk didoakan oleh kami. Dukanya adalah, karena mereka berjauhan, yang satu di Bali dan yang satu di Jakarta, sehingga selama mereka membina hubungan, hanya melalui telepon.

Oleh sebab itu apabila terjadi salah paham di antara keduanya, Tia biasanya telepon kami, nah di sinilah masa-masa di mana kami ambil doa dan puasa untuk mengawal proses hubungan mereka, supaya kehendak Tuhan yang terjadi.

Reporter : Bagaimana caranya Tia bisa menerima nilai-nilai pranikah kudus itu dengan hati yang sadar dan percaya?
K’Agus :Sejak mereka kecil, kami biasa melakukan mezbah keluarga dan disitulah kami bisa sharing dengan anak-anak tentang nilai kebenaran dan kekudusan, sehingga kami saling terbuka. Setelah Tia menikah, dia berkata bahwa dia sangat bersyukur, karena orang tuanya mendoakan dan menaruh nilai-nilai sejak kecil, karena menurut dia, bisa saja dia mengambil jalan atau keputusan yang salah dalam hidupnya, tetapi dia merasa seperti ada tangan yang tidak kelihatan yang melindungi dan membimbing dia untuk terus hidup benar dan menjaga kekudusan.
Jadi ini bukan kehebatan kami, atau karena kemampuan kami. Kami sebagai orang tua, lebih banyak mengcover anak-anak dengan doa dan puasa dan meminta supaya rencana Tuhan genap dalam mereka.

Reporter : Apa saja yang seringkali menjadi kesalahan orang tua sehingga anak akhirnya menjadi anti dengan nilai-nilai pranikah yang diajarkan oleh orang tuanya?
K’Agus :Kesalahan dari orang tua adalah tidak mendoakan, tidak menabur Firman Tuhan dan tidak menghidupi Firman Tuhan itu (om-do omong doang-red), dari sejak mereka kecil, tetapi orang tua menuntut anak-anaknya supaya sempurna, sehingga sikap dan tindakan yang seperti ini membuat anak terluka. Jadi permasalahan bukan pada anak-anak, tetapi pada kesehatian dan tanggung jawab orang tua, bahwa apa yang mereka hidupi akan berdampak pada anak-anak mereka.

Reporter :Apa nasehat kakak untuk para orang tua yang anaknya mulai beranjak dewasa dan mulai membangun hubungan serius dengan sahabat lawan jenisnya?
K’Agus :Bersikaplah sebagai teman atau sahabat yang mau mendengarkan mereka, tanpa menghakimi dan mencurigai mereka. Bangunlah saling menghargai, saling mengasihi dan menjaga kepercayaan, sehingga ketika kita menasehati, mereka dapat menerima dengan hati yang terbuka. Pesan kami sebagai orang tua,biarlah kita hanya mengandalkan Tuhan dan kita percaya kepada firmannya, Yesaya 49:17;”Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang merombak dan merusak engkau meninggalkan engkau.” 
(wawancara hy dengan kak Agus Sugianto 12/13)

 

2014-01-21T04:48:53+07:00