///Menjadi Pemimpin yang Terampil Berkomunikasi

Menjadi Pemimpin yang Terampil Berkomunikasi

“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.”  – Ibrani 10:24-25

Ayat Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk mempraktikkan sikap saling yang membangun dalam berbagai hal, termasuk di lingkungan kerja/bisnis. Untuk bisa saling mendorong dalam kasih dan dalam perkerjaan baik, terutama di lingkungan kerja/bisnis, kita perlu belajar menjadi lebih terampil berkomunikasi, yaitu dengan memahami berbagai gaya komunikasi orang.

Di dalam setiap organisasi atau perusahaan, tentu kita akan menjumpai berbagai gaya komunikasi. Jika Anda seorang pemimpin, Anda harus mengenali setiap gaya komunikasi ini pada diri pemimpin lain yang mengatasi Anda, rekan-rekan pemimpin yang setara, maupun orang-orang yang Anda pimpin, supaya Anda bisa berkomunikasi balik dengan efektif dan mampu mengelola sumber daya manusia secara produktif. Memahami berbagai gaya komunikasi menolong kita untuk berelasi secara lebih kondusif, mengelola perbedaan dan konflik dengan baik, serta memberi pengaruh positif kepada orang lain.

Perlu diingat bahwa tidak ada orang yang dilahirkan dengan kemampuan alami yang ahli untuk berkomunikasi dengan berbagai tipe manusia. Selain itu, gaya komunikasi setiap orang adalah kecenderungan pribadi yang berkembang melalui berbagai faktor, dan tidak dapat kita paksakan untuk berubah menjadi sesuai keinginan kita. Selama hidup, kita masing-masing perlu mengasah dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi pada diri sendiri. Jika Anda ingin sukses sebagai seorang pemimpin, belajar memahami berbagai gaya komunikasi dan berkomunikasi balik secara efektif adalah hal yang wajib dan alkitabiah.

Pada umumnya, berikut adalah lima gaya komunikasi yang perlu Anda kenali serta hal-hal yang perlu Anda lakukan dan yang perlu Anda hindari dalam menghadapinya, dalam daftar “do’s and dont’s“.

 

  1. Gaya komunikasi asertif

Orang yang memiliki gaya komunikasi asertif biasanya mudah berterus terang dan berbicara apa adanya. Mereka memiliki rasa percaya diri yang baik dalam menyampaikan pemikiran atau sikap diri, dan mampu mengendalikan diri agar tidak terlalu menekan atau memanipulasi orang lain. Gaya komunikasi asertif khas dalam hal menunjukkan sikap dan keputusan diri dengan jelas, tegas dan transparan, tetapi tidak menyerang. Menghadapi gaya ini, Anda tidak perlu menerka maksud di balik kata-kata yang terucap atau sikap yang ditunjukkan. Di sisi lain, orang yang terlalu peka atau punya gaya komunikasi yang cenderung halus dan berhati-hati mungkin merasa gaya ini terlalu tegas.

Do’s (yang perlu dilakukan dalam menghadapi “si asertif”): 

  • Jaga pikiran Anda agar tetap terbuka dan simak setiap pandangan si asertif.
  • Bersikaplah lugas dan terbuka untuk berdiskusi.
  • Tetaplah pakai kacamata positif dalam memaknai pesan dan informasi si asertif.

Dont’s (yang jangan dilakukan saat berkomunikasi dengan “si asertif”):

  • Kurang memberi perhatian/konsentrasi selama proses komunikasi.
  • Menginterupsi si asertif saat berbicara atau menyampaikan pesannya.
  • Menunjukkan sikap mengabaikan atau menyepelekan terhadap ide-ide si asertif.

 

  1. Gaya komunikasi agresif

Gaya komunikasi agresif pada dasarnya bersifat “win/lose”, yaitu komunikasi yang bertujuan untuk mencapai tujuan atau keinginan diri (“win“; memenangkan perdebatan) meski dengan mengorbankan kepentingan atau kenyamanan orang lain (“lose“; kalah dan mengalami kerugian). Harus disadari, gaya ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang bergaya komunikasi agresif hanya peduli tentang kepentingan diri sendiri dan cenderung tidak berempati terhadap orang lain. Dia merasa ide, kebutuhan, dan emosi dirinya lebih penting daripada ide, kebutuhan, dan emosi orang lain. Orang yang bergaya komunikasi agresif memiliki kebiasaan menyerang orang lain di sekitar mereka dan dapat membuat orang lain merasa defensif. Karena itu, orang seperti ini sering kali mengundang sikap permusuhan dari sekitarnya dan cenderung dijauhi lingkungan.

Do’s (yang perlu dilakukan dalam menghadapi “si agresif”):

  • Hadapi dengan tenang dan pikiran positif.
  • Siapkan data dan fakta untuk menjawab “serangannya”.
  • Fokus pada tujuan atau hal-hal inti yang sudah disepakati.

Dont’s (yang jangan dilakukan saat berkomunikasi dengan “si agresif”):

  • Membuat janji yang tidak bisa Anda tepati.
  • Menyinggung hal-hal yang terkait identitas (suku, agama, ras, antargolongan).
  • Terpancing menjadi emosional dan subjektif.

 

  1. Gaya komunikasi pasif-agresif

Orang-orang yang berkomunikasi secara pasif-agresif tampak pasif secara eksternal, tetapi menyimpan sikap agresif di dalam diri, misalnya berupa rasa kecewa atau marah di dalam hati. Sering kali, mereka merasa takut, tidak berdaya, dan tidak mampu menunjukkan sikap yang apa adanya, sehingga menjadi kesal, bahkan lama kelamaan menjadi apatis. Kadang-kadang, simpanan emosi negatif di dalam diri mereka meluap keluar dalam wujud sikap yang sarkastik/menyindir, menggurui, atau humoris yang berlebihan. Kekhasan orang-orang pasif-agresif adalah kecenderungan untuk bergosip di belakang orang lain. Mereka juga sangat cepat dipengaruhi oleh lingkungan yang negatif. Selain itu, jika tidak mendapatkan keinginan mereka atau gagal mencapai tujuan, biasanya mereka menyalahkan orang lain atau situasi dengan dalih-dalih atau keluhan-keluhan. Seorang komunikator yang pasif-agresif cenderung kelihatan bersikap manis dan menyenangkan di hadapan Anda, tetapi menyembunyikan sikap dan perasaannya yang sebenarnya.

Do’s (yang perlu dilakukan dalam menghadapi “si pasif-agresif”): 

  • Pahami akar penyebab atau pendorong perilaku pasif-agresif itu.
  • Perhatikan inti keluhan dan dalih si pasif-agresif.
  • Tetapkan dan sepakati aturan dasar komunikasi yang objektif, demi menjaga aliran komunikasi agar tidak melebar ke hal-hal lain yang tidak terkait.
  • Fokus pada isu atau masalah inti dan tujuan untuk menemukan solusi.

Dont’s (yang jangan dilakukan saat berkomunikasi dengan “si pasif-agresif”):

  • Menanggapi dengan ikut bersikap pasif-agresif pula.
  • Terlalu terbawa arus perilaku negatif si pasif-agresif hingga kehilangan fokus pada solusi.
  • Terpancing menjadi marah atau kesal hingga gagal melanjutkan komunikasi yang efektif.

 

  1. Gaya komunikasi manipulatif

Seorang komunikator manipulatif jarang menyampaikan maksudnya secara langsung. Sebaliknya, dia cenderung merencanakan taktik dan berusaha mengendalikan proses komunikasi demi memengaruhi orang lain, dengan tujuan meraih keinginannya. Contohnya, membuat orang lain merasa berkewajiban membantu dirinya atau perlu berkorban demi menolongnya. Orang lain, terutama yang lugu, jarang menyadari tujuan negatif di balik sikap luar orang manipulatif sampai akhirnya telanjur menjadi korban, karena memang dia sengaja bersikap tidak tulus dan berpura-pura. Perilaku orang-orang semacam ini dapat membuat frustrasi banyak orang atau menyebabkan orang lain merasa bersalah.

Do’s (yang perlu dilakukan dalam menghadapi “si manipulatif”):

  • Tetaplah ingat bahwa manipulasi sering muncul karena kecemasan di dalam diri pelakunya.
  • Kenali keinginan dan tujuan Anda sendiri sejak sebelum berkomunikasi dengan si manipulatif, lalu tetaplah berfokus pada hal-hal itu selama proses komunikasi.
  • Perjelas ekspektasi dan tujuan Anda kepada si manipulatif.
  • Ajukan pertanyaan, ungkapkan komentar, atau nyatakan sikap Anda secara langsung tanpa basa-basi.
  • Mintalah bantuan pihak perantara yang tepat (misalnya, pemimpin lain yang netral dan posisinya berada di atas Anda dan si manipulatif) saat Anda tidak yakin dapat menangani perilaku si manipulatif sendiri.

Dont’s (yang jangan dilakukan saat berkomunikasi dengan “si manipulatif”):

  • Goyah dan terombang-ambing oleh berbagai argumen emosional si manipulatif.
  • Meminta maaf ketika Anda sebenarnya tidak bersalah.
  • Menanggapi perilaku atau ucapan negatifnya dengan sikap negatif pula (ini membuang waktu dan memicu emosi negatif pada diri Anda sendiri).
  • Terpancing untuk bernegosiasi dan tawar-menawar secara tidak perlu, sehingga Anda perlahan-lahan kehilangan kendali dan ketegasan.

 

  1. Gaya komunikasi “people-pleaser

Para people-pleaser selalu berusaha membuat orang lain senang, dan takut membuat orang lain marah atau terluka. Mereka sangat membenci konflik, sering kali karena latar belakang trauma pribadi, sehingga cenderung otomatis menganggap kebutuhan orang lain lebih penting daripada kebutuhan diri sendiri. Kadang, meski mereka tidak berbuat salah, mereka justru meminta maaf. Orang-orang ini biasanya merupakan sasaran empuk orang-orang yang manipulatif, karena memang people-pleaser suka membiarkan orang lain membuat keputusan untuk diri mereka. Mereka merasa kesulitan mengungkapkan sikap dan perasaan mereka karena ingin menghindari konfrontasi. Mereka mungkin memiliki ide yang bagus, tetapi jarang merasa mampu mengungkapkan pemikiran mereka dengan percaya diri.

Do’s (yang perlu dilakukan dalam menghadapi “si people-pleaser“): 

  • Berikan ruang untuk si people-pleaser terbuka dan dengarkan apa yang dia ungkapkan.
  • Ciptakan rasa aman untuk si people-pleaser bersikap jujur dan apa adanya, tanpa dinilai atau dihakimi.
  • Bersabarlah dalam memberi waktu lebih untuk si people-pleaser berproses dalam komunikasi yang lebih jujur dan apa adanya.
  • Dukunglah ide dan/atau keputusannya, jika secara objektif memang hal itu merupakan pemikiran yang tepat.

Dont’s (yang jangan dilakukan saat berkomunikasi dengan “si people-pleaser“):

  • Marah-marah atau bersikap emosional (misalnya, berbicara dengan nada tinggi dan volume keras, membanting barang, dsb.) terhadap upaya komunikasi si people-pleaser (ini akan membuatnya makin takut dan tertutup).
  • Mengabaikan ide dan pendapat si people-pleaser.
  • Menyindir, menginterupsi/menyela, atau merendahkan apa yang si people-pleaser
  • Memanipulasi si people-pleaser demi tujuan atau keinginan Anda sendiri.
2022-06-28T09:28:49+07:00