///Menjadi Pribadi “Tahan Banting” di dunia kerja

Menjadi Pribadi “Tahan Banting” di dunia kerja

Walau AQ digunakan luas baru di jaman modern ini, namun beberapa contoh tokoh Alkitab menunjukkan tingkat kemampuan yang tinggi mengelola berbagai kesulitan dan tantangan hidup. Ibaratnya, mereka ini adalah orang-orang yang memiliki AQ tinggi. Siapa saja mereka? Mereka adalah Yusuf, Ayub, Paulus dan sudah pasti Yesus. AQ yang tinggi ini tampak karena mereka adalah orang-orang yang memiliki sikap mental dan respon yang luar biasa dalam menghadapi berbagai tekanan yang dahsyat.
Bagaimana dengan kita? Pergumulan hidup terjadi pada setiap orang, namun kita perlu melatih AQ kita agar kita semakin “tahan banting” menghadapinya. Berikut ini adalah berbagai kiat praktis bagaimana menjadikan diri kita “tahan banting” dan berespon secara benar terhadap tekanan, khususnya di dalam dunia kerja.

1. JANGAN MENYALAHKAN SITUASI
Banyak hal dalam kehidupan tidak dapat 100 persen dikendalikan oleh diri kita. Banyak peristiwa yang kita alami ternyata di luar keinginan atau harapan kita. Mungkin kita memiliki atasan yang menyebalkan, egois dan “tahu beres” saja. Atau kita ditipu oleh anak buah yang tidak jujur, padahal kita sudah bersikap baik kepadanya. Apapun peristiwa “konyol” yang kita hadapi, rumus pertama ini adalah pasti: jangan menyalahkan situasi. Pahamilah bahwa semua kejadian yang membuat kita stress adalah “sarana latihan” untuk menguji mental dan iman kita. Mari kita renungkan kisah nyata berikut mengenai situasi yang penuh tekanan.
Pada 1994-an, seorang pria ingin memesan tiket pesawat dari London ke New York untuk menghadiri pertemuan penting yang tidak bisa ditunda. Pada saat menghubungi maskapai penerbangan itu melalui telepon, ia menerima pelayanan yang tidak memuaskan dan sangat menjengkelkan. Apa reaksi orang pada umumnya? Mengeluh, marah, atau protes untuk bisa mendapatkan pelayanan yang lebih baik lagi. Namun, rupanya pria tersebut bisa menahan diri dan segera berpikir dengan jernih, dan memberikan arti seperti ini, “Mungkin saja perusahaan penerbangan tersebut terlalu sibuk melayani banyak pelanggan pada waktu yang bersamaan sehingga telepon berkali-kali tidak bisa dihubungi. Atau perusahaan tersebut telah merasa terlalu sukses”

Pria tersebut mulai diam sejenak, berpikir lebih jernih, bermimpi besar, dan akhirnya mulai bertindak besar untuk mencari peluang yang ada dan mewujudkan impiannya, bahwa di suatu saat ia akan memiliki perusahaan penerbangan dengan pelayanan yang terbaik sehingga bisa membantu banyak orang untuk mendapatkan pelayanan penerbangan yang memuaskan. Mulailah pria tersebut membuat suatu konsep penerbangan yang baru dan lebih menguntungkan, baik bagi perusahaan ataupun bagi para penumpangnya. Meskipun awalnya banyak orang yang merasa bahwa idenya terlalu besar dan sulit bahkan tidak bisa dicapai, pria tersebut terus berusaha dan komitmen untuk mewujudkan idenya dan me-marketing-kannya dengan cara yang dahsyat. Akhirnya, pria tersebut berhasil mewujudkan impiannya (yang berasal dari kejadian menerima pelayanan yang menjengkelkan).
Siapakah pria yang luar biasa ini? Ialah Richard Branson, pemilik Virgin Air, yang akhirnya bisa menjadi perusahaan penerbangan terkenal dan disukai banyak orang,salah satunya karena memiliki kualitas pelayanan yang baik.

Pelajaran penting dari kisah sukses tersebut adalah,dalam kondisi apa pun, kita jangan hanya menyalahkan situasi dan kondisi yang ada, menyalahkan orang lain, atau hanya menyalahkan hal-hal di sekitar kita. Mulailah berpikir dengan lebih jernih, ubahlah tekanan dan masalah yang kita hadapi menjadi suatu peluang keberhasilan yang baru.

2. LATIHAN DISIPLIN ROHANI

Pepatah berkata, “Sedia payung sebelum hujan.” Artinya, sebelum hal-hal buruk dan tekanan menimpa kita, biasakan diri SETIAP HARI melakukan disiplin rohani: berkomunikasi dengan Tuhan dengan cara saat teduh, berdoa, berdialog dengan Tuhan, tenangkan diri untuk mendengar Tuhan, dll. Disiplin rohani semacam ini akan membangun ketahanan mental dan iman kita dalam menghadapi berbagai “cuaca” dalam kehidupan. Jangan tunggu masalah datang dulu baru cari Tuhan. Manusia rohani kita perlu diberi makan secara teratur supaya sehat dan kuat. Inilah gunanya disiplin rohani: menjadikan kita kuat saat menghadapi tekanan yang datang sewaktu-waktu.

 

3. HAFALKAN AYAT FIRMAN
Ayat-ayat firman perlu dihafalkan dan diucapkan (“diperkatakan”) berulang-ulang setiap saat dan di manapun kita berada. Fungsinya adalah menjadi “peluru” bagi senjata kita, agar ketika musuh datang kita siap berperang dengan efektif. Ayat firman ini akan memberikan kekuatan ketika hal-hal buruk di tempat kerja menyerang kita. Tanpa kita memiliki “peluru” berupa ayat-ayat firman Tuhan, kita akan cepat menjadi lemah, mudah menyerah, dan cenderung meratapi diri serta menyalahkan banyak pihak. Misalnya, ketika Anda dibebani tugas-tugas yang “tidak masuk akal” oleh atasan atau Anda sedang ditipu oleh rekan bisnis Anda, ayat di Filipi 4:13 adalah “peluru” yang sangat dahsyat. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberikan kekuatan kepadaku.” Ucapkan, cerna dan renungkan ayat ini berulang-ulang sambil mengerjakan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Contoh berikutnya, mungkin Anda sedang mengalami kekuatiran yang besar karena terancam di-PHK oleh perusahaan. “Peluru”-nya dapat Anda peroleh dari Mazmur 27:1, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”
Ayat firman Tuhan akan memberikan kita keberanian, kekuatan, semangat dan energi yang maksimal. Berikut adalah berbagai ayat firman Tuhan lainnya, yang bagus sekali untuk direnungkan dan dihafalkan ketika kita mengalami tekanan dan kesulitan.
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Fil. 4:8)
“Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu   dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan   dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” (1 Ptr. 5:10)
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan   menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan  orang berdosa,  dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya   pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3)
“Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” (Yak. 1:6-8)

4. SELALU LIHAT DARI SISI BAIKNYA
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandang segala sesuatu dari sisi yang baik. Berpikirlah baik tentang diri sendiri. Berpikirlah baik tentang orang lain. Berpikirlah baik tentang keadaan. Berpikirlah baik tentang Tuhan. Apa dampaknya? Damai sejahtera. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah.
Adalah satu dalil yang sangat populer, yaitu Hukum Pygmalion. Nama ini berasal dari cerita mitos tentang seorang pemuda bernama Pygmalion yang berbakat dalam seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh indah. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik,“Pelit sekali orang itu.” Tetapi, Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu.”
* Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.

Nah, bagaimana aplikasi Hukum Pygmalion di tempat kerja?
* Kalau atasan memberikan kita pekerjaan yang berat dan bukan tugas utama saya, artinya atasan mau saya belajar keterampilan baru dan ia mempercayai saya.
* Kalau ada rekan kerja yang selalu menggosipkan dan bercerita buruk tentang saya, artinya ia membutuhkan saya untuk melakukan pendekatan yang positif pada orang itu.
* Kalau ada rekan kerja saya yang dipromosikan (naik jabatan) sedangkan saya tidak dipilih, berarti saya memiliki kesempatan lebih untuk bekerja lebih baik agar membuktikan bahwa saya memiliki kualitas kerja yang unggul juga.
* Kalau saya ditipu oleh pelanggan saya yang tidak membayar tagihan, artinya Tuhan sedang mengajar saya agar lebih hati-hati di dalam memberikan piutang pada orang lain.
* Kalau bisnis saya merugi, artinya saya berkesempatan untuk belajar lebih lagi bagaimana cara berbisnis secara benar, lebih kreatif dan lebih inovatif.

5. MILIKI TUJUAN YANG JELAS
Jika kita belum tahu tujuan karir atau pekerjaan kita, mulai sekarang bersiaplah untuk segera mencari dan mendapatkannya. Dengan menetapkan dan mengetahui tujuan karir dengan jelas, kita dapat membantu menjaga kemampuan otak kita agar tetap bersemangat dalam menghadapi berbagai “cuaca”.
Peneliti dari Rush Alzheimer’s Disease Center, Chicago, AS, menemukan bahwa orang yang memiliki tujuan hidup yang besar juga cenderung lebih lambat mengalami penurunan kemampuan mental, meskipun sudah ada plak dan kekusutan yang terus muncul dan berkembang dalam otaknya akibat usia lanjut. Demikian pula, menurut laporan E! Science News, sebuah artikel di jurnal Psychosomatic Medicine pada tahun 2009 menunjukkan bahwa orang yang memiliki tujuan yang jelas dalam hidup cenderung memiliki umur yang lebih panjang.

Nah, bagaimana dengan Anda di tempat kerja? Untuk memiliki mental yang “tahan banting” di dunia kerja, segera tetapkan tujuan karir/pekerjaan Anda dan buat goal setting yang jelas dan rinci. Salah satu jemaat lokal Abbalove Ministries, yaitu Abbalove Industri, memiliki sebuah program bernama “Pemuridan Dunia Kerja”, di mana setiap peserta dituntun untuk menuliskan mimpi-mimpi dan goal setting-nya, apapun jenis pekerjaannya. Goal setting ini harus terinci dan konkret. Mengetahui dengan jelas apa yang kita ingin tuju akan menolong kita untuk melalui segala rintangan dan kesulitan yang harus dihadapi dengan tetap bersuka cita, karena kita tahu dengan jelas mengapa kita harus menang atas kesulitan ini dan tetap berjuang, yaitu demi tujuan itu sendiri. Selamat menjadi pribadi yang “tahan banting”!

 

2019-10-17T17:39:36+07:00