///Menjadi pribadi yang lebih mawas diri

Menjadi pribadi yang lebih mawas diri

Mengapa Kita Perlu Mawas Diri?

Sebuah kapal yang akan berlayar pasti membutuhkan petunjuk arah. Namun, yang tak kalah pentingnya adalah selalu mengetahui posisi yang benar ketika di lautan lepas. Sedikit kekeliruan saja dapat membuat kapal tersesat dan kehilangan arah.

Demikian pula halnya kehidupan kita. Secara berkala, kita perlu evaluasi. Ada banyak peristiwa yang melaluinya kita harus belajar dan membiasakan mawas diri. Bercermin untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan pribadi sangatlah bermanfaat, agar kita dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Mawas  diri sangat diperlukan, karena:

* Proses tidak selalu berjalan konstan.

* Pengalaman yang serupa tidak selalu memberi hasil yang sama.

* Selalu ada keterbatasan dan perbedaan sudut pandang.

* Tiap masalah memiliki titik kritis yang tersendiri.

 

Bagaimana Cara Membangun Sikap Mawas Diri?

1. Memahami kelemahan pribadi

Mawas  diri diawali dengan sikap rendah hati, untuk menyadari bahwa kita tidak luput dari kekeliruan atau kesalahan. Orang yang sombong tidak mau melakukan evaluasi diri karena selalu merasa benar. Akibatnya, tidak ada pertumbuhan pribadi, karena kita hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan Tuhan. Memahami titik kritis berarti memiliki sikap waspada dan antisipasi. Ini berarti kemampuan untuk menjaga diri dan mewaspadai situasi sebelum terjadi hal-hal yang fatal.  

2. Agenda mawas diri

Kapan dan apa saja di dalam diri kita yang perlu dievaluasi?

Pertama, sebelum melakukan sesuatu. Pepatah berkata bahwa orang yang mau membangun menara pasti akan memperhitungkan anggaran biayanya. Mawas diri harus dilakukan sejak langkah awal yang akan dilakukan, untuk memahami bagaimana rencana dan kesanggupan atau sumber-sumber yang kita miliki.

Kedua, ketika sedang melakukan sesuatu. Mawas diri diperlukan untuk mencegah agar kita tidak terlanjur lebih jauh lagi jika ternyata ada kekeliruan. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah metode dan cara, asumsi dan pandangan, serta pengetahuan dan keahlian yang digunakan. Tahap ini melibatkan proses antisipasi titik kritis dan langkah-langkah perbaikan jika diperlukan.

Ketiga, setelah melakukan sesuatu. Pengalaman selalu merupakan guru yang terbaik. Mawas diri berguna untuk tindakan perbaikan atau recovery jika terjadi kekeliruan. Selain itu, tahap ini menjadi pembelajaran agar kelak kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

3. Proses menuju pribadi yang lebih baik

Mawas diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan diri sendiri. Mawas diri adalah bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri sendiri. Orang yang sulit mawas diri cenderung bersikap kekanak-kanakan, karena kedewasaan dan kematangan pribadi lahir dari keterbukaan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri sendiri.

 

Pengalaman tanpa pembelajaran adalah sia-sia, pembelajaran tanpa pengalaman adalah hampa.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” 
Mazmur 90: 12

2019-10-17T14:00:44+07:00