///Menjadi pribadi yang mengampuni dan melupakan

Menjadi pribadi yang mengampuni dan melupakan

 

1. Tidak dapat menerima kegagalan

Tuntutan yang semakin tinggi membuat kita berpacu untuk menjadi yang terbaik dan tidak mampu mentoleransi segala kegagalan yang ada, karena kita terobsesi untuk menjadi sempurna sehingga ketika terjadi kegagalan kita akan langsung menyalahkan dan menghakimi orang lain.

 

2.  Dipenuhi oleh pikiran negatif dan selalu mengingat kesalahan orang lain

Kita cenderung lebih mudah mengingat kesalahan daripada kebaikan yang pernah dilakukan, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Sekali saja orang berbuat salah, kita akan cenderung berpikiran negatif bahwa dia sudah pernah menyakiti kita dan pasti akan mengulanginya lagi. Akibatnya apa pun yang dilakukan oleh orang tersebut menjadi salah di mata kita.

 

3. Mempertahankan ego

Rasul Petrus pernah bertanya kepada Yesus mesti berapa kali kita mengampuni orang lain. Bagi Petrus sampai tujuh kali saja sudah cukup, tetapi Yesus mengatakan bukan tujuh kali melainkan 7 dikalikan 77 kali. Sebenarnya bukan kuantitas frekuensilah yang dimaksud Yesus, tetapi kita diajarkan tentang kualitas kasih yang sejati, yaitu tentang kesabaran dan pengampunan. Dengan kesabaran oleh kasih, hati kita tidak akan dipenuhi dengan dendam dan kebencian, dan kita pun menjadi mampu mengampuni. Dengan mempertahankan ego, kita cenderung sulit untuk mengampuni karena kasih menjadi “keras” akibat gengsi yang tinggi di dalam hati.

 

Lalu, bagaimana mengembangkan karakter mengampuni dan melupakan?

1. Menyadari bahwa setiap orang pernah berbuat salah

Kita memang dituntut untuk mengerjakan segala hal dengan baik. Namun, dalam proses tersebut kita harus belajar dari kesalahan supaya menjadi lebih baik lagi. Karenanya, kita perlu menyediakan “ruang gagal” untuk diri sendiri dan orang lain.

 

2. Melatih kemampuan mengontrol amarah dan berpikir positif

Amarah dapat dikendalikan jika kita mau bersabar.. Menenangkan diri kita secara emosional akan membuat kita dapat berpikir jernih. Dalam setiap peristiwa dalam kehidupan, ada hikmah yang dapat dipetik dan dari hikmah itulah kita melihat permasalahan dari sisi yang lain, yaitu sisi yang positif.

 

3. Belajar untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain

Rasanya sulit berbagi kebahagiaan dengan orang lain jika kita sendiri belum mendapatkan kebahagiaan tersebut. Namun, sebenarnya kita dapat melakukan berbagai hal sederhana untuk itu, misalnya tertawa bersama orang lain. Dengan demikian, beban yang kita rasakan akan sedikit terangkat dan kita tidak akan selalu mengingat kesalahan orang lain sehingga tidak memupuk sakit hati dan kebencian dalam hati. Berbagi kebahagiaan berarti belajar menurunkan ego.

 

Word of Wisdom : Mengampuni dan melupakan adalah sebuah keputusan, semuanya terserah pada pilihan kita.

2019-10-17T12:52:27+07:00