///Menjadi Pribadi yang setia

Menjadi Pribadi yang setia

Saya tidak sependapat dengan sutradara film yang tidak memahami bahwa sifat alamiah anjing itu memang setia. Anjing tidak perlu mengambil keputusan untuk setia karena sudah ditakdirkan untuk setia. Hal ini membuat pikiran saya tidak bisa mensejajarkan kesetiaan seekor anjing  dengan kesetiaan seorang manusia. Karena manusia diciptakan dengan kehendak bebas yang mutlak, serupa dan segambar dengan penciptanya, manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih setia atau tidak setia.

Pada diri manusia, kesetiaan harus direncanakan, dibentuk, dilatih, diuji dan terus-menerus disempurnakan. Apa yang muncul dalam imajinasi Anda ketika mendengar tentang suami yang setia, istri yang setia, karyawan yang setia, atasan yang setia, orang tua yang setia, anak yang setia atau sahabat yang setia? Bukankah yang sering kita bayangkan adalah bahwa orang tersebut tetap mengabdi tanpa ada suatu pergeseran atau perubahan kualitas hati. Kesetiaan sering dibayangkan sebagai suatu bentuk ketangguhan mental yang tahan uji atau bahkan tidak membantah walaupun dicaci-maki. Kalau benar imajinasi Anda seperti itu, nampaknya Anda harus merenungkan Firman Tuhan di atas, yaitu Matius 25:21.

Menurut Firman Tuhan, kesetiaan berwujud hal-hal berikut:

1. Melakukan perbuatan baik dan benar
2. Mengerjakan hal-hal yang sederhana dan kecil secara disiplin dan tekun
3. Mengambil tanggung jawab dalam tugas-tugas yang kecil hingga bertanggung jawab pada tugas-tugas yang besar.

 

Buah kesetiaan adalah kepercayaan yang lebih besar. Apakah Anda telah menerima/memiliki buah tersebut? Jika kita mempercayai Tuhan, itu wajar, karena Tuhan memang setia kepada janji-janjiNya. Sebaliknya, apakah kita sudah berlaku setia terhadap Tuhan, sehingga kita mendapatkan “kepercayaan yang lebih besar” dari Tuhan? Ini adalah suatu pertanyaan tersendiri. Tuhan akan selalu menguji kesetiaan kita. Namun jika kita ingin mengetahui apakah kita sudah menjadi pribadi yang setia, mudah saja, tanyakan kedua pertanyaan ini:

1. Apakah kita merasakan kepercayaan Tuhan yang lebih besar di dalam hidup kita?

2. Apakah kita sudah dipercaya oleh sesama kita dan semakin mendapat kepercayaan?

 

Untuk menjadi pribadi yang setia, berikut kiat-kiat praktis yang ingin saya bagikan kepada Anda:

1. Melatih keinginan tubuh kita untuk berdisiplin dengan melakukan hal-hal yang baik dan berguna
2. Belajar menguasai diri melalui penguasaan pikiran, perasaan dan kemauan
3. Mempertimbangkan perkataan dan perbuatan yang senantiasa membangun diri sendiri dan orang lain.

 

Yesus, Tuhan kita, sudah membuktikan kesetiaanNya, sehingga Dia dipercaya oleh Tuhan dan oleh manusia (Luk. 2:52). Marilah kita mengikut teladanNya dan menjadi orang-orang yang setia pula.

2019-10-17T14:15:45+07:00