///Menjadi Sahabat: Apa Adanya, Melangkah Bersama

Menjadi Sahabat: Apa Adanya, Melangkah Bersama

Bukanlah hal yang mudah untuk membangun sebuah hubungan pemuridan yang efektif, apalagi jika hubungan pemurid dan murid sudah ditetapkan tanpa adanya kedekatan di antara kedua pihak. Tidak sedikit kelompok pemuridan berjalan tanpa komitmen terhadap kedekatan hubungan itu sendiri. Kebanyakan kegiatan pemuridan justru sekadar melakukan pertemuan rutin, dipimpin oleh salah satu orang yang “bertugas” untuk membawakan renungan kepada sekelompok orang yang berkumpul bersama.

Hal itulah yang lama dialami oleh Sara sebagai seorang istri pemimpin di dalam komunitas jemaat, ketika dia harus memuridkan istri para anggota komsel-nya. Sara kenyang kerepotan menghadapi para istri yang sulit memberi waktu oleh karena kesibukan pekerjaan, urusan rumah tangga dan anak-anak mereka, maupun aktivitas lainnya di gereja. Bila kesempatan bertemu itu ada, semuanya dilakukan hanya sebatas formalitas dan saling berbagi pencerahan Firman Tuhan. Sekian lama waktu berlalu, tetap saja tidak ada perubahan hidup dan karakter yang berarti pada setiap anggota kelompok pemuridan itu, bahkan rasanya mereka makin jarang bertemu dan berinteraksi. Sara pun sebagai pemurid telah kelelahan mengurus kelompok pemuridan itu.

Hingga suatu saat, terjadilah sebuah tragedi di dalam rumah tangga Mira, salah satu istri yang dimuridkan Sara. Waktu itu, Mira mengalami persoalan rumah tangga yang cukup berat. Peristiwa demi peristiwa yang dialami oleh Mira bersama dengan suaminya, Bambang, membuat dirinya undur dari komunitas, enggan untuk melayani di gereja, bahkan menarik diri dan menghindari pertemuan-pertemuan ibadah. Mira juga menghindar dari Sara.

Segala cara sudah berusaha dilakukan Sara untuk mendekati Mira, tetapi semakin lama Mira semakin menghindar. Sara mulai memperhatikan berbagai unggahan di akun media sosial Mira, lalu menemukan bahwa kini Mira lebih sering memilih berkumpul dan melakukan kegiatan “healing” bersama sahabat-sahabatnya sesama alumni sekolahnya dahulu.

Mengamati berbagai unggahan itu, timbul banyak pertanyaan dalam pikiran Sara, “Mengapa Mira begitu nyaman dengan sahabat-sahabatnya dari sekolah? Bukankah mereka tidak semuanya orang Kristen? Mengapa Mira lebih memilih bergaul dengan mereka dibandingkan dengan dirinya? Apakah dalam pergumulan rumah tangganya Mira bisa mendapatkan sukacita yang sejati dari obrolan mereka itu, yang tentunya bukan membicarakan Firman Tuhan?” Memang, Mira terlihat sangat menikmati berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya itu. Wajahnya tampak tertawa lepas dalam beberapa foto terbaru. Pose-pose mereka dalam foto-foto interaksi itu pun selalu tampak akrab dan rileks. Sara pun sadar, hubungan persahabatan semacam itu tentu tidak terbangun dalam waktu singkat. Butuh waktu yang cukup lama dan keterbukaan untuk saling mengenal secara mendalam, sampai terjadi saling jujur apa adanya, dekat, peduli, setia, percaya, dan mendukung, seperti yang terlihat dari foto-foto persahabatan di media sosial Mira itu.

Dari kesadaran itu, Sara mulai mendoakan Mira dengan hati yang tulus. Kali ini, doanya bukanlah meminta Tuhan membuat Mira kembali aktif dalam komunitas dan kegiatan gereja atau supaya Mira kembali hadir dalam pertemuan kelompok pemuridan. Doanya berubah menjadi meminta Tuhan membuka jalan untuk dia dapat membangun hubungan kembali dengan Mira sebagai sahabat.

Suatu hari kira-kira hampir seminggu setelah doa Sara itu, dia mendapat kabar bahwa Mira sakit hingga dirawat inap di sebuah rumah sakit. Konon, kadar hemoglobin (hb) dalam darah Mira terus menurun sampai terlalu rendah di bawah kadar normal. Selama beberapa hari di rumah sakit, kecenderungan kadar hb dalam darah Mira tidak kunjung naik ke rentang normal. Sara pun berpikir pasti Mira mulai merasa takut dan khawatir dengan hal itu. Apalagi, Sara tahu di rumah Mira tidak ada asisten rumah tangga atau pengasuh anak yang mengurus dua anaknya yang masih kecil. Dari pikiran itu, Sara memutuskan untuk menjenguk Mira di rumah sakit, sambil membawa sedikit makanan yang berefek baik untuk menaikkan kadar hb darah.

Benarlah pikiran Sara. Mira memang sedang kalut. Pikiran-pikiran negatif menyerang hati dan benaknya. Ketakutan akan penyakit kelainan darah atau penyakit lain yang akan membahayakan dirinya membuatnya terbayang akan berbagai skenario buruk tentang keluarga kecilnya.

Dalam kondisi lemah itu, Mira mendapat sepercik kelegaan yang menyejukkan saat dikunjungi oleh Sara. Matanya bersinar kembali melihat Sara beserta suaminya memasuki kamar opnamenya. Setelah mengobrol singkat, suami Sara keluar dari kamar itu untuk menunggu kedatangan Bambang suami Mira, yang akan segera datang sepulang dari pekerjaannya. Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh Sara untuk memulai pembicaraan pribadi dengan Mira.

“Apa yang kamu rasakan Mira?” tanya Sara.

Mira, yang awalnya sempat berpikir kedatangan Sara itu hanya untuk berdoa dan menguatkan dirinya dengan ayat-ayat Alkitab, agak kaget mendengar pertanyaan itu. Dia pun mulai menceritakan perasaannya. Mendengarkannya dengan penuh perhatian, Sara pun ikut merasakan kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran Mira. Sambil memegang tangan Mira, Sara akhirnya mendoakan Mira dan memberi kata-kata penguatan dan penghiburan untuknya. Setelah bertemu suami Mira, Sara dan suaminya juga mampir ke rumah Mira untuk membawakan makanan untuk anak-anak Mira dan Bambang, karena ibu Bambang yang membantu mengurus anak-anak dan rumah mereka pun sudah kelelahan. Bahkan, Sara dan suaminya juga sempat menemani anak-anak Mira dan Bambang makan malam, lalu menyiapkan makanan sarapan untuk mereka keesokan paginya sebelum berangkat ke sekolah bersama sang nenek.

Rupanya, semua yang dilakukan Sara itu menyentuh hati Mira secara berbeda. Setelah kondisinya dinyatakan membaik dan dia diperbolehkan berobat jalan, Mira mulai membuka hatinya untuk membangun hubungan pertemanan dengan Sara. Sara pun tahu, itulah jawaban doanya dari Tuhan: jalan telah terbuka untuk dia bersahabat dengan Mira.

Mereka kini sering mengobrol melalui pesan teks di sela-sela kesibukan sehari-hari, dan Mira bersedia dikunjungi di rumahnya maupun bertemu untuk sekadar minum teh bersama di kedai-kedai yang nyaman. Dalam semua interaksi itu, mereka mengobrol tanpa agenda apa pun dan tanpa formalitas apa pun. Perlahan-lahan, akhirnya Mira juga bersedia untuk diajak berdoa bersama. Berbagai kebenaran Firman Tuhan justru mengalir begitu saja dalam obrolan akrab mereka, tanpa terstruktur dengan materi apa pun. Sejak saat itu, Sara dan Mira menjadi seperti sahabat, dapat terbuka apa adanya, bercerita tentang apa saja, saling menguatkan, saling berbagi dan saling mendoakan. Mira belajar dari Sara, dan Sara belajar dari Mira. Tanpa terasa, interaksi itu menjadi sesuatu yang rutin mereka lakukan bahkan selalu mereka nantikan, dan bahkan mereka telah mengajak tiga orang teman lainnya untuk melakukan interaksi serupa. Persahabatan mereka berkembang secara alamiah dan indah, dan mereka semua bersama-sama bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus dan masing-masing menunjukkan perubahan karakter menuju keserupaan dengan Kristus. Kini hubungan Mira dan Bambang telah pulih dan keduanya menikmati pernikahan yang indah, Sara mengalami hikmat-hikmat Tuhan makin jelas menuntunnya dalam kesehariannya, dan ketiga teman mereka yang lain pun memiliki kisah perubahan masing-masing yang indah.

Sara dan Mira tidak sendirian sebagai pemurid dan murid yang sempat mampet dalam perjalanan pemuridan mereka. Banyak dari kita pun mengalami hal yang sama, terjebak dalam pemuridan yang sekadar “kelas” atau “ceramah” dari si pemurid. Padahal, pemuridan justru harus juga didasarkan pada persahabatan yang tulus dan waktu bersama. Hal itulah yang menjadikan pemuridan efektif dalam menghasilkan perubahan hidup yang nyata menuju kedewasaan iman, dan hal itulah yang Tuhan Yesus lakukan bersama dengan murid-murid-Nya saat di bumi.

Tuhan Yesus menggunakan banyak waktu-Nya untuk bersama dengan murid-murid-Nya, menyamakan diri dengan mereka, dan menjalin persahabatan dalam keseharian yang alamiah. Dia makan bersama mereka, berjalan ke berbagai tempat bersama mereka, menangkap ikan bersama mereka, menangis bersama mereka, dan berdoa bersama mereka. Tuhan Yesus memperkenalkan Injil kepada murid-murid-Nya sementara mereka melewatkan waktu bersama-sama setiap hari. Dia sering menggunakan berbagai peristiwa sehari-hari, saat-saat yang spontan, hal-hal yang nyata dan relevan, untuk membagikan kebenaran-kebenaran rohani dengan para murid-Nya. Ajaran-ajaran-Nya sering muncul langsung dari pelayanan-Nya sehari-hari. Injil itu menjadi pengalaman-pengalaman hidup mereka bersama setiap hari. Tak heran, meskipun dalam ketakutan mereka sempat lari dari Yesus saat Yesus ditangkap untuk disalibkan, murid-murid itu kembali pada ingatan akan kasih Yesus serta semua yang Dia ajarkan kepada mereka, bahkan sampai Yesus sudah naik meninggalkan bumi. Amanat Yesus pun, termasuk janji penyertaan-Nya sampai pada akhir zaman, mereka pegang teguh dan laksanakan dengan segenap hati sepeninggal Yesus ke surga, “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman,” (Mat. 28:19-20).

Mengapa kita harus memuridkan? Karena Tuhan Yesus pun memuridkan dan Dia adalah teladan kita. Mengapa penting bagi kita untuk membina hubungan persahabatan dengan orang lain? Karena Tuhan Yesus pun membangun pemuridan-Nya melalui persahabatan dan Dia adalah teladan kita.

Berkaca dari kisah Sara dan Mira dan belajar dari Tuhan Yesus sendiri, mari kita ubah cara pandang kita tentang pemuridan, dari aktivitas dan relasi permukaan menjadi hubungan yang mendalam dan terbuka serta saling bertanggung jawab. Pemuridan merupakan hubungan persahabatan rohani secara pribadi, yang apa adanya dan melangkah bersama menuju keserupaan dengan Kristus. Jadikan komitmen Tuhan Yesus terhadap hubungan yang mendalam dengan murid-murid yang dipilih-Nya itu komitmen kita sendiri pula. Persahabatan rohani ini harus menjadi konsentrasi dalam pemuridan yang kita lakukan. Yuk, mulai menjadi sahabat!

 

Refleksi Pribadi:

  1. Apakah Anda memiliki seorang pemurid? Kalau ada, sudahkah Anda bersahabat dengan pemurid Anda? Kalau belum, carilah seorang pemurid dan mulailah terlibat dalam pemuridan.
  2. Apakah Anda sudah memuridkan? Kalau ya, sudahkah Anda menjadi sahabat bagi orang yang Anda muridkan itu? Kalau belum, bangunlah persahabatan dengan seseorang untuk dimuridkan!
  3. Dalam hal apa Anda dapat menjadi sahabat rohani yang lebih baik bagi pemurid Anda maupun bagi orang yang Anda muridkan? Buatlah komitmen yang jelas dalam hal itu dan mulailah melakukannya!
2024-03-27T11:05:28+07:00