//Menjadi Teladan di Tempat Kerja

Menjadi Teladan di Tempat Kerja

Seorang yang menduduki posisi tinggi seringkali merasa gengsi untuk turun ke bawah. Yang lebih sering dilakukan adalah mendengarkan laporan dari para direksi yang mengelilinginya. Padahal, banyak peluang yang bisa dilakukan dengan turun ke ’dataran yang lebih rendah’. Jack Welch adalah segelintir orang yang mampu menjadi teladan orang sekelilingnya sehingga ia dihormati oleh seluruh karyawan dan dunia usaha. Jack Welch dikenal memiliki sikap perilaku yang sangat rendah hati, sehingga dicontoh oleh banyak orang.

Banyak dari kaum profesional di tempat kerja memiliki paradigma atau cara berpikir bahwa, prestasi kerja seseorang hanya dinilai dari kemampuan ia mencapai tugas tertentu, hanya dinilai dari kepandaian dan kecerdasannya saja, hanya dinilai dari kemampuan ia memecahkan suatu masalah atau hanya dinilai dari keterampilan tehnis yang ia miliki. Pandangan seperti ini adalah pandangan yang sangat keliru. Kecerdasan dan keterampilan tehnis, hanya dinilai seharga 40% saja. 60% prestasi kerja kita akan dinilai dari aspek non-tehnis, yaitu sikap perilaku kita, cara kita berkomunikasi dengan orang lain, cara kita memperlakukan karyawan, rekan kerja maupun atasan, cara kita berespon terhadap suatu kondisi, dsb.

Jadi sikap perilaku kita di tempat kerja sangat “disorot” oleh atasan maupun perusahaan, untuk menilai apakah kita dianggap sebagai karyawan atau leader yang cukup potensi untuk dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan kata lain, sukses atau tidak karir seseorang, 60% ditentukan oleh sikap perilakunya dia sehari-hari di tempat kerja.
Firman Tuhan dalam 1Timotius 4:12, mengajarkan kita mengelola sikap perilaku dengan cara menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih kesetiaan dan kesucian.

Menjadi teladan berarti kita mampu mengelola sikap perilaku serta memberi contoh kepada orang sekeliling kita. Dan orang bisa melihat diri kita berbeda dari kebanyakan orang karena Kristus “hidup” di dalam sikap perilaku kita sehari-hari di tempat kerja.
Di bawah ini akan diulas beberapa sikap teladan yang bisa dipraktekan di perusahaan Anda:
1. Tidak “Mencuri” (Efesus 4:28)
Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

Mencuri? Seringkali kita akan berkata, “Saya tidak pernah mencuri…saya jujur kok…?”
Akan tetapi tanpa disadari, banyak sikap perilaku kita telah “mencuri” hak perusahaan, sebagai contoh :

* Ketika kita datang terlambat 10 menit ketempat kerja, berarti kita telah mencuri 10 menit dari 8 jam kerja yang harusnya kita berikan pada perusahaan.
* Di tengah-tengah jam kerja, kita mencuri waktu dengan cara browsing, googling atau searching di internet untuk baca hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tugas.
* Chatting di Facebook atau Bbm dengan sahabat-sahabat kita.
* Membawa pulang pulpen atau spidol milik perusahaan untuk keperluan anak kita di rumah.

2. Tidak Menunda-nunda

Amsal 6:10-11
“Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata”

Tanpa disadari, kita sering mempraktekkan sikap menunda seperti :
* Menunda-nunda tugas yang diberikan atasan dengan membeberkan 1001 alasan dan kesulitan kepada dia.
* Menunda-nunda untuk mempraktekan ilmu baru yang didapatkan dari pelatihan yang diberikan oleh perusahaan.
* Menunda-nunda untuk menyelesaikan suatu masalah hingga tuntas.

Sikap perilaku seperti ini akan mempengaruhi prestasi dan penilaian kita dari atasan. Firman Tuhan dalam Amsal 6:10-11, secara tegas sudah mengingatkan kita, bahwa sikap menunda seperti ini akan membawa “kemiskinan” kepada kita.

Kita akan mengalami kemiskinan antara lain misalnya :
* Kepercayaan dari orang sekitar kita.
* Keterampilan yang baru, karena selalu menunda untuk belajar hal-hal baru.

 

3. Sikap Rendah Hati

1 Petrus 5:6
“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”

Pada umumnya orang berpikir merendahkan hati itu tidak penting. Setiap orang mau merendahkan diri tetapi mereka mau ditinggikan pada saat sekarang ini juga. Mereka ingin dipromosikan sekarang. Apakah Anda telah melihat bintang film atau penyanyi? Mereka tidak menjadi terkenal dalam satu malam. Kita harus menanyakan kerja keras mereka untuk sampai pada keadaan mereka sekarang. Banyak yang dulunya bekerja di rumah makan. Ada juga yang pertama-tama menjadi penyanyi pendukung tetapi mereka melakukan yang terbaik.

Mereka (orang yang telah berhasil) selalu mau merendahkan hati untuk :
* Bekerja apa saja tanpa merasa gengsi atau malu
* Bersedia dicaci maki atau direndahkan
* Selalu mau membantu siapapun tanpa pandang bulu
* Mau belajar dari orang lain
* Selalu rendah hati ketika diberi masukan atau dikritik

Mereka yang sudah sukses tidak menjadi sukses dalam waktu satu malam, tetapi mereka bekerja keras sampai berkeringat dan tidak sombong hati. Selalu mau belajar, bersedia dikoreksi dan tidak pilih-pilih tugas ketika diperintahkan.

4. Hargai Orang Lain

Matius 7:12a “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Kalau kita mau dihargai dan dihormati oleh orang lain, kita harus menghargai dan menghormati orang lain terlebih dahulu. Apa yang kita tabur dimasa lalu, akan kita tuai hari ini. Kalau kita mau ditaati oleh anak buah, kita harus menabur kepedulian terlebih dahulu. Bila kita mau dihargai oleh atasan, harus tanya pada diri sendiri terlebih dahulu, apa yang telah kita tabur kepada si atasan? Apakah selama ini kita sudah mendukung habis-habisan target-target dia? Apakah kita sudah perhatikan dengan seksama segala instruksi dia? Sekali lagi, orang lain tidak akan tertarik dan peduli kepada Anda, sampai kita peduli terlebih dahulu terhadap mereka.

Bagaimana cara kita bisa menghargai orang lain di tempat kerja?

* Bila diundang rapat jam 10 pagi, datangnya 10 menit lebih awal di ruang meeting
* Bila Anda yang mengundang anak buah untuk rapat, hadirlah 10 menit lebih awal di ruang rapat, jangan biarkan orang lain yang menunggu Anda
* Jangan bolak-balik panggil anak buah untuk berbagai urusan, sehingga Anda mengganggu agenda kerja anak buah. Lakukan briefing pagi dengan anak buah untuk diskusikan berbagai hal yang Anda butuhkan untuk hari itu
* Dengarkan dengan seksama ketika ada orang yang berbicara, jangan dipotong atau dialihkan, sekali lagi dengarkan hingga tuntas, baru Anda berkomentar (kecuali orang tersebut sudah ngalor ngidul kemana-mana)

5. Jangan hanya menyuruh, tetapi lakukan dan beri contoh terlebih dahulu

1 Petrus 5 : 3 “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah  atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan  bagi kawanan domba itu.”

Banyak pemimpin di tempat kerja yang hanya bisa membuat peraturan, menyusun sistem prosedur atau menetapkan berbagai kebijakan, namun ia sendiri sering melanggar apa yang ia susun. Pemimpin seperti ini hanya bisa mengatur orang lain, tetapi tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Leader seperti ini sering melanggar apa yang sudah ia atur dan tidak memberi contoh bagaimana seharusnya peraturan tersebut dilaksanakan. Ada beberapa perilaku sederhana yang bisa dicontohkan terlebih dahulu oleh si pemimpin, misalnya :

* Bila di koridor kantor ada sampah, langsung pungut dan buang ke tong sampah (bukan “dicuekin” dan berlalu begitu saja)
* Bila sudah ada larangan merokok di dalam ruangan, taati dengan tidak merokok di dalam ruangan
* “Saya mau kalian datang tepat waktu ya…”. Maka Anda sebagai leader harus datang lebih awal dari mereka
* “Saya ingin kalian selama jam kerja harus fokus”. Maka Anda juga tidak boleh bolak balik googling, baca koran atau “BBM” an
* “Saya ingin kalian berpikiran positif dan tidak mengeluh”. Maka Anda juga tidak boleh mengeluh di forum meeting, ketika mengalami berbagai kesulitan

Pada tahun 1991, Stanley Gault ditunjuk menjadi CEO baru Goodyear Tire and Rubber Company. Kala itu, Goodyear dibebani utang jangka panjang sebesar US$ 3.7 milyar.
Untuk melakukan penghematan atas biaya-biaya yang tidak perlu, Gault memindahkan 25 lampu dari ruang kantornya dan rela bekerja dalam situasi remang-remang. Dia juga membawa sendiri alat-alat kantor dan perangko yang dibeli dengan kocek pribadi. Dalam setiap rapat, Gault juga meminta pemakaian slide transparan biasa, bukan proyektor canggih dengan grafik yang spektakuler. Penghematan tersebut tentu saja sangat kecil dibanding utang perusahaan, tetapi tindakan Gault mengirimkan sinyal yang penting buat seluruh karyawan. Tak lama setelah itu, para karyawan mengikuti langkah penghematan yang dilakukan Gault dan berhasil menghemat jutaan US$ per tahunnya.
Seperti yang kita lihat dari kisah di atas, keteladanan, bahkan untuk hal-hal kecil, merupakan salah satu esensi dari kepemimpinan. Tingkah laku dan standar etika para pengikut sering meniru pemimpinnya. Contoh-contoh kecil sering bisa membuat perbedaan besar dalam waktu panjang.

Sekali lagi, orang tidak akan peduli terhadap kita, sampai kita peduli kepada orang lain dan memberikan berbagai teladan kepada mereka.

(Untuk baca artikel tips & tricks di dunia kerja, kunjungi website saya “www.freddway.com) (Freddy Liong, MBA, CBA)

2019-09-29T05:23:54+07:00