///Menjadi Teladan

Menjadi Teladan

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Ketika Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia…” perkataan itu adalah karena dunia berada dalam kegelapan dan sedang mengalami proses pembusukan. Alangkah sedihnya jika garam menjadi tawar dan terang menjadi pudar. Tidak ada lagi gunanya selain dibuang diinjak orang. Rasul Paulus memberi mandat penting kepada Timotius agar ia menjadi teladan. Usia Timotius yang relatif muda bukanlah penghalang untuk menunjukkan kualitas kedewasaannya secara rohani. Paulus mendorong dan meneguhkan Timotius karena ia memiliki tugas penting untuk membangun jemaat di Efesus, kota yang terkenal dengan penyembahan berhala dan berbagai pengajaran sesat. Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita mendengar berita dan melihat situasi yang buruk terjadi di mana-mana. Apakah kita tetap tinggal sebagai penonton yang baik sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kasihan? Sadarkah kita bahwa kita bisa memberi kontribusi penting untuk menjadi garam dan terang dunia serta untuk menjadi teladan di lingkungan kita masing-masing? Mengapa selama ini kita sulit menjadi teladan?

1. Merasa tidak percaya diri

Sering kali, kita kurang menyadari bahwa sadar ataupun tidak sadar, sebenarnya ada ribuan pasang mata di sekitar kita yang sedang meneliti kita. Kita menjadi orang yang “rendah hati” dan biasa-biasa saja, padahal kita terpanggil untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Ingat, kepala selalu diikuti oleh ekor, tidak pernah ada kepala yang mengikuti ekor. Rasa tidak percaya diri adalah penghalang utama untuk menjadi teladan. Ketika kita merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kita kehilangan daya upaya untuk membangun diri pribadi dan menjadi tidak berani menampilkan diri sebagai teladan.

2. Gagal dalam disiplin pribadi

Sejujurnya, kita semua cenderung tidak disiplin. Memang, sikap disiplin tidak muncul begitu saja. Disiplin merupakan pilihan dan keputusan yang harus dimulai dan dilatih. Disiplin memang tidak menyenangkan dan justru melelahkan, sehingga banyak dalih dan alasan biasanya kita buat untuk menunda atau tidak melakukannya. Namun jika kita tidak memulai untuk belajar berdisiplin sekarang, risikonya akan kita tuai di kemudian hari.

3. Ketiadaan atau kehilangan figur panutan

Mengapa Rasul Paulus begitu yakin Timotius dapat menjadi teladan bagi jemaat di Efesus? Mari kita memperhatikan surat-suratnya kepada Timotius. Paulus menulis bahwa Timotius adalah anaknya yang sah di dalam iman. Timotius telah mengikuti ajaran dan cara hidupnya. Nilai-nilai hidupnya, imannya, kesabaran, kasih, dan ketekunannya. Sebagaimana Paulus telah mengikuti teladan Kristus, demikianlah Timotius memiliki keberanian untuk menjadi teladan bagi orang lain. Tanpa figur yang dapat diteladani, kita pun akan sulit menjadi teladan bagi orang lain.

Lalu, bagaimana cara mengembangkan karakter keteladanan?

1. Melatih disiplin dan penguasaan diri

Sebuah kota tidak dibangun dalam semalam. Tidak pernah ada jalan pintas yang mudah untuk suatu pencapaian yang bernilai. Penguasaan diri berarti mampu mengatur keinginan dan tindakan diri pada hal-hal yang benar. Latihan dan motivasi yang tepat menjadikan disiplin aktivitas yang menyenangkan yang lambat laun menjadi good habit atau kebiasaan yang baik.

2. Bersikap konsisten dalam motivasi, perkataan, dan tindakan

Sikap integritas berarti selaras dalam pikiran, perasaan, dan kehendak. Penting sekali untuk memiliki nilai-nilai dan keyakinan yang benar. False belief atau keyakinan palsu menggiring kita menjadi tidak konsisten dalam keinginan dan tindakan. Pepatah mengatakan bahwa keteladanan berbicara lebih keras dari perkataan. Tetapi, perkataan yang disertai tindakan pun memiliki kuasa yang besar.

3. Belajar setia dalam perkara-perkara sederhana

Kesetiaan merupakan ekspresi dari ketekunan dan sikap tahan uji. Kualitas karakter inilah yang membuat kita berhasil mencapai tujuan untuk dipercayakan hal-hal yang lebih besar lagi. Ketika kita sukses, kita akan menjadi teladan bagi orang lain. Dan kesuksesan yang bertumbuh dari hal-hal yang sederhana menjadi hal-hal yang lebih besar ini pun menghasilkan keteladanan yang membawa pengaruh semakin dan semakin luas pula.

Kata-Kata Bijak : “Kita tidak mungkin menerangi jalan orang lain tanpa menerangi jalan kita sendiri.”

2019-10-17T12:07:52+07:00