//Menyala, Abangku!

Menyala, Abangku!

Masih ingat cerita tentang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dibakar hidup-hidup? Kalau lupa, coba baca lagi di Daniel 3:13:30. Kalau sudah ingat, syukurlah, kita bisa membahasnya sekarang…

Waktu kejadian itu, apakah sebelum masuk ke perapian, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sudah berpikir bahwa Raja Nebukadnezar yang keras kepala itu akan percaya kepada Tuhan? Mungkin tidak. Bahkan, mereka mungkin tidak menyangka juga bahwa Tuhan akan ikut menampakkan diri-Nya di dalam perapian.

Sebelum diancam oleh Raja, mereka bahkan sudah teguh tidak akan menyembah patung buatannya, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;” (Dan. 3:17). Itu pernyataan iman yang teguh! Mereka percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah pasti mampu menyelamatkan mereka. Dengan sengaja mereka “melawan” kekolotan perintah raja dengan iman mereka yang “keras kepala”. Di hadapan perapian dengan panas yang menyengat itu, mereka tetap menolak untuk tunduk.

Lebih hebat lagi, deklarasi iman mereka tidak berhenti di situ. Mereka pun berkata, “… tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,” (Dan. 3:17). Para tentara, para hakim, para pelayan raja dan semua orang yang mendengar pernyataan ini mungkin akan melongo. Entah kagum dengan iman ketiga laki-laki tersebut atau tidak percaya dengan kebodohan mereka. Bayangkan saja, mereka menyatakan tetap akan menyembah Tuhan meski Tuhan tidak menyelamatkan mereka dari kobaran api hukuman sang raja!

Sebenarnya, mungkin tidak hanya Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang enggan untuk menyembah patung enam puluh hasta buatan raja; mungkin ada beberapa orang lain yang juga menentang titah raja, tetapi mereka semua diam dan memilih menaati aturan tirani yang konyol tersebut. Apa yang mereka rasakan ketika mendengar perlawanan “tetapi seandainya tidak” dari mulut Sadrakh, Mesakh dan Abednego?  Apakah mereka merasa malu? Atau justru terinspirasi? Jika kisah ini terjadi sekarang pada tahun 2024, mungkin mereka jadi ingin berseru “Menyala, Abangku!”, karena kekaguman atas keberanian mereka bertiga.

Menyala, Abangku!” Seruan atau catchphrase yang menggambarkan kobaran api itu memang pernah menjadi tren karena sering diucapkan orang-orang untuk mengekspresikan pujian terhadap seseorang. Memang awalnya catchphrase ini berasal dari ekspresi para pendukung di pertandingan olahraga yang menyerukan kekaguman kepada atlet yang sedang berjuang di arena. Kemudian, seruan itu merebak ke berbagai media sosial dan membanjiri berbagai konten maupun kolom komentar.

Pujian yang menganalogikan seseorang dengan api yang menyala memang sudah lazim dipakai, dan kita pun mungkin sering atau setidaknya pernah menggunakannya. Alkitab dalam Perjanjian Lama pun menggambarkan Tuhan sendiri turun dalam wujud api (Kel. 19:18), serta dalam Perjanjian Baru melukiskan turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta sebagai lidah-lidah api menyala yang bertebaran dan hinggap di atas para murid Yesus (Kis. 2:3). Api itu memurnikan dan memanaskan, dan karena kemampuannya itu bisa juga bersifat destruktif, sehingga juga dipakai untuk mengambarkan pemurnian dan penghakiman Tuhan (2 Tes. 1:7).

Di Babel pada masa mereka, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah orang-orang paling “menyala” dari Yehuda. Mereka muda, keturunan bangsawan, berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas, dan beriman amat sangat teguh. Ketika Nebukadnezar menaklukkan Yehuda, dia mengambil mereka bertiga bersama dengan Daniel, memberikan nama baru kepada mereka semua, memasukkan mereka ke dalam sistem pendidikan elite di istana, dan memastikan perlakuan yang sama bagi mereka seperti yang diterima keluarga raja selama tiga tahun. Maka, mereka tentu sangat mengenal Nebukadnezar, dan tidak perlu melihat dapur perapian untuk tahu “kegilaan” Nebukadnezar. Mereka tahu segala konsekuensi yang akan mereka hadapi bila menolak tunduk raja yang “gila” itu. Bukan saja kehilangan semua privilege, mereka tentu akan dieksekusi di depan umum.

Namun, tepat di momen yang mungkin akan menjadi detik terakhir mereka bernapas, ketiga pria Yehuda tersebut masih menghormati raja. Mereka tidak mengejek Raja bahwa dia sesat, tidak mencaci Raja dengan sikap arogan, tidak memimpin pemberontakan dengan mengumpulkan orang-orang yang sepaham, dan tidak mengutuk orang yang melaporkan mereka. Karakter mereka teruji bukan ketika mereka di dalam perapian, tetapi sejak sebelumnya, yaitu ketika mereka diperhadapkan dengan perapian.

Apakah kita bersikap yang sama terhadap otoritas kita? Terhadap orang tua di rumah, guru di sekolah, atau atasan di kantor? Ketika ada prinsip kita yang berbeda dengan prinsip mereka, walau kita sangat yakin kita yang benar, apakah kita bisa bersikap benar dengan tetap menghormati mereka? Apakah kita bisa tidak berkata kasar kepada mereka, tidak menggosipkan mereka, dan tetap mengasihi mereka?

Tuhan tidak memadamkan dapur perapian. Dia mengizinkan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menerima konsekuensi iman mereka. Namun, Tuhan hadir di dalam perapian itu bersama dengan mereka. Tuhan ikut dibakar bersama mereka. Dapur perapian yang tujuannya dimaksudkan untuk penghakiman, berubah menjadi “mimbar” pertunjukan kebenaran dan kuasa Tuhan. Awalnya, Nebukadnezar ingin mengirim pesan ketakutan ke seluruh negeri, ingin menunjukkan dialah yang berkuasa, tetapi akhirnya justru nama Tuhan yang dimuliakan. Bahkan, sang raja itu pun mengakui dan mendeklarasikan kebesaran nama Tuhan! “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego!” seru sang raja ketika melihat perapian tidak mampu melukai mereka bertiga; bahkan, pakaian mereka sama sekali tidak terbakar. Iman mereka yang menyala membuat nyala terang Tuhan terlihat di hadapan seluruh kerajaan.

Kita mungkin akan lebih rela menghadapi “perapian” karena kesalahan kita sendiri, karena menerima konsekuensi dari kesalahan kita. Namun, bagaimana dengan “perapian” yang ada karena kita setia dalam iman kepada Tuhan? Apakah kita rela menerima konsekuensi ketika menjaga prinsip yang benar? “Dapur api” kita mungkin berbeda, tetapi sama saja “panasnya”: mungkin kita dikucilkan karena menolak memberi contekan, menjadi bahan gosip karena menolak melakukan yang salah, dipecat karena tidak mau membuat laporan keuangan palsu, mendapat beban tugas tambahan yang berlebihan karena kita bertanggung jawab dengan pekerjaan kita, dan lain sebagainya. Siapkah kita untuk menjalani semuanya itu bersama dengan Tuhan?

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diberikan kedudukan yang tinggi setelah keluar dari dapur api. Setelah menjalani waktu di dalam dapur api itu bersama dengan Tuhan, dan mengizinkan Tuhan menyatakan diri melaluinya. Bagaimana dengan kita? Tuhan mampu menyatakan diri melalui dapur api mereka, mengubah dapur api yang dimaksudkan untuk memusnahkan menjadi sesuatu yang menaikkan kelas, dan Tuhan juga mampu melakukan hal yang sama dengan “dapur api” yang sedang kita hadapi. Jangan takut, tetaplah menyala.

2024-06-27T11:03:36+07:00