///MERDEKA atau MATI

MERDEKA atau MATI

Sejarah bangsa kita mencatat, totalitas terhadap visi inilah yang membuat bangsa Indonesia dapat memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, mencapai visi kemerdekaan ini tidak semudah meneriakkan atau menulisnya. Warga negara Indonesia banyak yang gugur sebagai pejuang dan tidak dapat merasakan pilihan kemerdekaan. Itulah kenyataan dari pilihan merdeka atau mati, di mana visi bukan menjadi sebuah slogan semata tetapi memang dilakukan dengan sebuah kesadaran penuh oleh para pejuang bangsa kala itu.

Paulus, seorang hamba Kristus, dalam suratnya di Filipi 1:21 menulis juga sebuah kalimat yang berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Ketika menulis ini, Paulus sedang ada dalam penjara, ia secara fisik tidak sedang menikmati kemerdekaan, karena terkurung di suatu ruang tertutup dalam penjara. Pada salah satu ayat sebelumnya (Fil. 1:13), Paulus menulis bahwa dia dipenjarakan karena Kristus. Pertanyaannya adalah, mengapa Paulus yang mengalami ketidakmerdekaan dalam penjara yang dikatakannya karena Kristus, dapat tetap berpegang teguh pada visinya untuk memperjuangkan pemberitaan akan Kristus yaitu Injil agar semakin maju tersebar (Fil. 1:12)?

Semua ini terjadi karena Paulus telah mengalami kemerdekaan sesungguhnya dalam Kristus. Paulus memiliki visi yang penuh totalitas karena mengerti dan mengalami kebenaran yang sesungguhnya membuat hidupnya merdeka, sepertinya yang ditulisnya dalam Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Oleh karena kebenaran ini, Paulus dapat memiliki komitmen untuk menyerahkan hidupnya secara total untuk Kristus, seperti yang ia nyatakan dalam Filipi 1:20-22a: “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.  Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.”

Paulus mengetahui bahwa sesungguhnya akhir kehidupannya sebelum mengalami Kristus adalah kematian kekal, dan bahwa setelah dirinya mengalami Kristus, hidupnya berubah serta ia menjadi warga Kerajaan Surga, seperti yang ditulisnya dalam Filipi 3:20-21: “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya.” Paulus menyadari bahwa setelah mengalami Kristus, ia adalah warga yang menjadi bagian dari surga. Karena itu cara berpikir, cara bertindak, gaya hidup bahkan kehendak hidup Paulus berubah setelah mengalami kemerdekaan dalam Kristus, yaitu menjadi sesuai dengan kewargaannya di dalam surga. Inilah yang membuat Paulus dapat menulis, “… Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Paulus mengisi kemerdekaan hidup sesungguhnya karena Kristus, dengan menjalani hidupnya sesuai kerinduan dan kehendak Allah untuk setiap orang. Ia memiliki totalitas visi,  untuk setiap orang dapat mengalami kemerdekaan hidup yang sesungguhnya di dalam Kristus, melalui Injil yang diberitakannya. Paulus bekerja memberi buah, untuk menjalani dan mengisi kehidupannya yang merdeka karena Kristus, bagaimana dengan kita?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” (2 Kor. 5:17-18)

2019-10-17T15:45:26+07:00