//Merdeka dan Berdampak. Bersama-sama.

Merdeka dan Berdampak. Bersama-sama.

“Gimana sih caranya lepas dari overthinking?!”
Overthinking. Berpikir secara berlebihan, biasanya tentang hal-hal atau kemungkinan-kemungkinan negatif, sampai taraf sulit berhenti dan terpengaruh oleh pikiran-pikiran negatif tersebut. Banyak anak muda sering terjebak dengan pikirannya sendiri secara berlebihan. Hal ini begitu menyita waktu, energi, dan fokus. Selain itu, overthinking yang terus-menerus bisa melemahkan produktivitas dan bahkan melumpuhkan dengan mengganggu kesehatan fisik maupun mental, lho! Ih, ngerinya! Nah, daripada semakin lama dipikirkan, semakin kita terjebak hingga overthinking tentang cara lepas dari overthinking, jauh lebih baik kita belajar cara mengubahnya dari Firman Tuhan.

Overthinking adalah salah satu kebiasaan buruk yang banyak menguasai manusia di zaman modern. Selain overthinking, banyak lagi kebiasaan buruk lainnya, yang sebenarnya dapat kita kalahkan. Dalam Alkitab, Tuhan sudah menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan kalau kita ingin berubah dari kebiasaan buruk. Ayo kita lihat!

Percaya Yesus membuat kita bisa hidup bersama teman-teman seiman sebagai manusia yang baru, yaitu manusia-manusia yang tidak lagi terikat dengan segala kebiasaan buruk dan dosa-dosa lamanya, lalu hidup bersama dalam komunitas dengan cara hidup yang merdeka dalam kebenaran. Di suratnya kepada jemaat di kota Efesus, Paulus menulis topik kehidupan sebagai manusia baru ini, khususnya tentang apa yang harus dilakukan komunitas orang percaya untuk berubah dan menjadi merdeka dari kebiasaan buruk, di Efesus 4:17-32. Ayat 28 menunjukkan contoh yang menjabarkan langkah-langkahnya.
“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan,” (Ef. 4:28).

Dari contoh kebiasaan buruk mencuri (mungkin ini kebiasaan buruk yang sering muncul di masyarakat zaman itu), ada tiga langkah utama yang Firman Tuhan ajarkan untuk kita bisa berubah:
1. Berhenti melakukan kebiasaan buruk itu (“janganlah ia mencuri lagi”)
2. Memenuhi kebutuhan pribadi di balik kebiasaan buruk itu (“bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri”)
3. Melakukan kebiasaan baik yang secara langsung berlawanan dengan kebiasaan buruk awal, yang berdampak baik/berkat kepada sesama (“membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan”)
Nah, berubah dari kebiasaan buruk bukan berarti berhenti melakukan kebiasaan buruk itu saja. Kalau hanya sampai titik itu, orang cenderung tergoda untuk melakukan kembali kebiasaan buruknya, karena sudah telanjur terbiasa dan nyaman dengan kebiasaan buruk itu. Kita baru benar-benar berubah kalau kita menjadi terbiasa dengan kebiasaan baik yang secara langsung berlawanan dengan kebiasaan buruk itu, yang berdampak berkat kepada sesama. Kalau kita biasa overthinking, kita perlu berubah sampai biasa tenang dan memberkati sesama dengan pikiran-pikiran damai sejahtera. Kalau kita biasa malas belajar atau bekerja atau melakukan tugas-tugas di rumah, kita perlu berubah sampai biasa raijn melakukan semua itu tanpa perlu disuruh-suruh. Kalau kita biasa lupa membaca Firman dan bersaat teduh, kita perlu berubah sampai biasa merenungkan Firman dan melakukan serta membagikan hasil perenungan itu kepada sesama.

Pertanyaannya, tiga langkah tadi: menghentikan kebiasaan buruk, memenuhi kebutuhan pribadi di balik kebiasaan buruk itu, dan memberkati sesama lewat kebiasaan baik yang berlawanan; apakah semua itu bisa kita lakukan sendirian?
Tentu tidak.
Kita butuh pendampingan, dukungan, topangan, dan pelayanan dari orang-orang yang tepat. Ketika melakukan kebiasaan baik pun, kita perlu sesama yang menerima berkat dari kebiasaan baik kita itu. Lalu, siapa orang-orang yang tepat itu? Sudah pasti, jawabannya adalah komunitas teman-teman seiman kita.

Kembali ke topik overthinking, contoh yang sering terjadi pada kita, berarti selain stop overthinking, kita juga perlu membangun kebiasaan untuk merenungkan kebenaran yang mendatangkan ketenteraman dan damai sejahtera, lalu berlatih memikirkan hal-hal yang esensial, positif, dan membangun diri kita. Ganti pikiran-pikiran negatif yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran dengan pikiran positif yang berdasarkan kebenaran, sehingga mendatangkan damai sejahtera dan sukacita. Terbukalah tentang kebutuhan dan perjuangan ini kepada teman-teman seiman dalam komunitas, lalu lakukan proses ini dengan dukungan dan pendampingan mereka.
Setelah itu, kita juga perlu membagikan pikiran positif yang penuh damai dan sukacita tersebut kepada sesama kita. Temukan teman-teman sekomunitas, atau bahkan di luar komunitas seiman, yang hidupnya perlu dibangun dengan apa yang dapat kita bagikan itu. Kita bisa menenangkan mereka yang sedang takut, menyemangati mereka yang sedang hilang harapan, dan menghibur mereka yang sedang bersedih. Kita juga bisa pakai pikiran dan perkataan kita untuk menginspirasi orang lain dengan kesaksian hidup kita, ide-ide kita, atau karya-karya kita. Secara khusus, kita bisa menceritakan bagaimana Tuhan mengajarkan kita untuk menyerahkan pikiran ke Tuhan dan membiarkan Tuhan menggantikannya dengan pikiran-pikiran yang berasal dari Tuhan.

Yuk kita terus berjalan bersama dalam komunitas untuk berubah dari berbagai kebiasaan buruk dan berdampak dalam kebiasaan baik, supaya kita semakin merdeka dan dewasa dalam Tuhan, bersama-sama!

2023-10-30T13:49:19+07:00