Merdeka!!

Perayaan hari kemerdekaan RI biasa dilakukan di setiap sudut kota dan daerah. Berbagai perlombaan dan hiburan dihelat sehingga rakyat Indonesia riuh dengan sukacita khususnya pada hari tersebut.

Sayang, sukacita perayaan itu sifatnya sementara; karena setelah semua acara selesai, biasanya sukacita itu hilang pula. Padahal kalau kita mau merenungkan lebih dalam, sukacita itu seharusnya telah lama ada dan sifatnya tidak sementara, karena perasan sukacita itu muncul sebagai hasil dari kondisi meredeka. Kondisi merdeka itu telah ada sejak 73 tahun yang lalu dan selama ini kita tetap merdeka, maka seharusnya sukacita itu menetap.

Sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia tidak terikat lagi oleh kekuasaan bangsa lain. Bangsa Indonesia bebas melakukan apa pun dan bebas menguasai serta memanfaatkan semua sumber daya yang ada di wilayah negara Indonesia. Kita juga menikmati rasa aman karena tidak ada penindasan dari bangsa lain. Sukacita kebebasan inilah yang seharusnya terus ada setiap hari dan tidak hanya muncul dalam perayaan hari kemerdekaan saja.

Bagaimana sukacita kebebasan atau kemerdekaan ini kita alami dalam konteks posisi kita sebagai anak Tuhan dan murid Kristus?

Bukankah kita sering hanya merasakan sukacita di hari tertentu saat peringatan atau perayaan digelar? Kita bersukacita ketika pesta Natal, peringatan Paskah, dan perayaan kebangkitan Yesus; baik di ibadah raya atau bersama komsel. Setelah acara itu berlalu, sukacita kita pun berlalu. Kalau ini biasa terjadi pada diri kita, berarti kita belum mengerti makna kemerdekaan yang Tuhan sudah berikan bagi hidup kita.

Sukacita kemerdekaan seorang anak Tuhan atau murid Kristus jauh lebih besar maknanya daripada acara-acara peringatan atau perayaannya. Bahkan, sementara sebuah bangsa berjuang dalam pertempuran dan segala jerih-lelah untuk meraih kemerdekaan, kemerdekaan kita justru diberikan sebagai anugerah dan kasih karunia Tuhan atas hidup kita. Harganya memang mahal, tidak gratis, tetapi Tuhan telah membayar harga itu tanpa kita sendiri harus berjuang. Yesus mati bagi kita sehingga kita menjadi orang merdeka yang tidak lagi dibelenggu oleh penindasan iblis, ikatan dosa, atau hukum yang mati.

Karenanya, seharusnya sukacita atas kemerdekaan yang diberikan karena anugerah ini jauh lebih besar daripada apa pun. Kita sudah merdeka dari penindasan iblis yang sering mengintimidasi dengan kesedihan, kemarahan, kekecewaan, perasaan tidak berarti. Kita sudah merdeka dari ikatan dosa yang dulu membuat kita terus-menerus berdusta, membenci, berbuat cabul, dan melawan Tuhan. Kita sudah merdeka dari hukum yang mati, yang memaksa kita menerima kenyataan bahwa kita akan selalu menjadi pelanggar hukum kebenaran dan membuat hidup kita terkutuk dalam hukuman dosa. Kita sudah merdeka dari semuanya ini dan kita bisa bersukacita setiap saat!

Ketika kita pertama kali menerima Dia sebagai Tuhan, kita menjadi anak-Nya dan murid-Nya. Kita menerima roh-Nya, yang lalu tinggal di dalam diri kita dan menuntun kita hidup di dalam jalan kemerdekaan yang benar. Maka, jika kita percaya akan kebenaran ini, sukacita kemerdekaan itu juga telah ada dan tetap ada di dalam diri kita. Kita tidak lagi kembali hidup sengsara sebagai orang-orang yang belum merdeka dari penindasan iblis, ikatan dosa, dan hukum yang mati. Mari nyatakan iman percaya dan sukacita itu setiap saat dengan hidup sebagai orang-orang yang merdeka karena kasih Kristus. MERDEKA!

“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” (2 Kor. 3:17)

2019-10-11T11:19:53+07:00