//Miryam : Wanita terhormat yang terpuruk

Miryam : Wanita terhormat yang terpuruk

 

Jauh sebelumnya, Miryam kecil adalah seorang anak yang pandai. Ibunya berani memercayakan tugas yang sangat penting kepadanya dan menyangkut keselamatan nyawa adiknya. Miryam melaksanakan tugasnya dengan penuh keberanian dan kebijaksanaan; ia mempertemukan ibunya, seorang wanita Ibrani, dengan puteri Firaun, putri raja Mesir sendiri. Dengan demikian, adiknya selamat dari eksekusi mati oleh titah Firaun, sehingga mendatangkan manfaat bagi keluarganya maupun bagi umat Allah. Setelah dewasa, Miryam menjadi seorang wanita yang terkenal. Sifatnya dibentuk dalam kehidupan sebuah keluarga yang menjadikan iman sesuatu yang nyata dalam keseharian.

Umur Miryam hampir seratus tahun ketika terjadi mujizat di Laut Teberau. Sejak peristiwa itu, Miryam membangun kebiasaan baru di tengah-tengah bangsa Israel, selalu menyanyi bila memperoleh kemenangan yang istimewa. Dialah yang menjadi pemimpin barisan, tetap lincah dan bersemangat meskipun usianya tidak lagi muda. Miryam memang berbakat sebagai pemimpin. Pujian yang dinaikkannya menjadi sumber semangat yang tidak ada habisnya di masa pengembaraan dalam padang gurun. Miryam memiliki kepribadian yang kuat. Kepemimpinan bukan hal yang sukar baginya. Namun sayangnya, kekuatannya justru menjadi kelemahan bagi dirinya.

Rupanya, Miryam sukar menerima keputusan Musa untuk menikah lagi dengan seorang perempuan dari bangsa asing. Ini membuat dirinya terlihat seolah-olah merisaukan pengaruh yang mungkin terjadi bagi bangsa Israel akibat pernikahan campur ini. Ditinjau dari segi ini, kekhawatiran Miryam tampaknya merupakan reaksi rohani yang sudah sepantasnya dari seorang wanita dewasa. Tetapi, kenyataannya jauh dari itu. Posisi yang dimilikinya dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya telah membuat dirinya melangkah melampaui batas-batas yang Tuhan tetapkan. Ia memandang dirinya setara dengan Musa dan meremehkan wewenang Musa, padahal Musalah yang ditunjuk langsung oleh Tuhan untuk memimpin keluarnya bangsa Israel dari Mesir untuk menuju tanah Kanaan. Miryam pun kehilangan loyalitasnya kepada pemimipin.

Di lain pihak, Musa tetap tenang. Ia tidak menunjukkan keinginan untuk membela diri. Ada Pribadi yang membela hak-hak Musa, dan pembelaan ini menjadi suatu pengalaman yang mengerikan bagi Miryam dan Harun. Allah di surga mendengar, tahu, dan melihat apa yang terjadi di bumi. Ia segera bertindak menghentikan pemberontakan yang terjadi terhadap kepemimpinan Musa. Miryam (dan Harun) telah menyerang orang yang sangat dihargai dan dinilai tinggi oleh Allah. Ketika Allah dalam pertimbangan dan wewenangNya yang ilahi meminta mereka untuk memberikan pertanggungjawaban, mereka tidak dapat mengajukan alasan apa pun. Allah pada akhirnya meninggalkan mereka dalam kemurkaanNya sehingga Miryam terkena penyakit kusta. Penyakit ini adalah yang paling ditakuti di antara penyakit-penyakit lainnya karena menggerogoti kekuatan penderitanya, sedikit demi sedikit. Penyakit ini merendahkan penghargaan orang terhadap si penderita karena vonis kematian yang melekat pada dirinya, menjadikannya seolah-olah mayat hidup. Allah telah mengutuk Miryam dengan penyakit kusta yang najis itu. Wanita yang selama bertahun-tahun telah memimpin rombongan sambil menyanyi dan mendorong para kaum wanita untuk menyanyikan puji-pujian bagi Allah, kini telah dipecat dari kedudukannya sebagai pemimpin. Anggota-anggota tubuhnya menjadi makin menyeramkan, bahkan cacat dan terputus-putus. Ia hampir pasti akan hidup seterusnya dalam keadaan cacat dan kesepian sampai ajalnya.

Akhirnya, penyakit itu memang sementara saja, namun Miryam telah mengalami secara pahit bahwa dosanya dipandang besar di mata Allah. Miryam, wanita yang berani dan cekatan itu tidak dapat membela diri terhadap kutukan Allah. Sebaliknya, Musalah yang memohonkan kesembuhan bagi Miryam kepada Allah. Musa tidak menunjukkan pernyataan setuju atas hukuman Allah dan ia pun tidak menegur Miryam (atau Harun). Ia hanya berdoa kepada Allah, dan doanya membuat hukuman Miryam berkurang. Penderitaan yang semestinya berlangsung seumur hidup menjadi penderitaan selama tujuh hari saja.

Sikap Miryam bukan hanya merugikan dirinya sendiri, melainkan juga bangsa Israel. Perjalanan mereka terhambat akibat perbuatannya. Seluruh bangsa tidak melanjutkan perjalanan sebelum Miryam kembali ke tengah-tengah mereka. Ketujuh hari yang dijalaninya dalam keadaan terbuang itu tentunya memberikan kesempatan yang luas bagi Miryam untuk merenungkan dalam-dalam segala sesuatunya, dan Alkitab tidak mencatat terjadinya pemberontakan lagi sesudah itu. Apakah pengalaman itu telah mematahkan kekuatan Miryam? Apakah ia kehilangan karunia bernubuatnya? Alkitab tidak menjelaskan hal ini, tetapi yang pasti Miryam meninggal sebelum bangsanya masuk ke negeri perjanjian.

Miryam merupakan seorang perempuan yang telah mencapai kedudukan yang paling tinggi, jabatan istimewa yang dipercayakan Allah kepadanya. Sayangnya, Miryam tidak menyadari perubahan yang ia alami di dalam hatinya; mula-mula ia mengizinkan Allah mengendalikan hidupnya, kemudian sejalan dengan bertumbuhnya kepercayaan yang ia terima, ia mengendalikan dirinya sendiri. Hal ini tidak terjadi secara tiba-tiba ataupun terencana. Perubahan itu terjadi sedemikian halusnya, tetapi seandainya ia menyelidiki hatinya secara jujur sebelum terlambat, mungkin ia akan dapat mencegah dirinya berbuat dosa dan dengan demikian mencegah hukuman Allah itu. Ia tidak akan perlu sampai melangkah keluar batas. Kisah Miryam ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menggunakan kedudukan/posisi kita bagi dan dalam konteks kemuliaan Allah, bukan kemuliaan diri sendiri.

 

Perenungan pribadi:

1. Hal-hal apakah yang Anda pelajari dari kehidupan Miryam?

2. Bagaimanakah caranya agar kita dapat tetap memelihara loyalitas terhadap kepemimpinan (Tuhan, suami/orang tua, pemimpin pelayanan/pekerjaan)?

2019-10-11T12:39:26+07:00