Mudik

Bulan Mei lalu merupakan masa libur hari raya Idulfitri/lebaran, dan tradisi mudik kembali diizinkan oleh Pemerintah. Banyak orang, setelah berlebaran tanpa mudik selama dua tahun terakhir, kali ini memanfaatkan pelonggaran peraturan yang ada untuk berkumpul dengan keluarga serta kerabat di kampung halaman. Di antara mereka yang mudik, banyak terdapat pekerja rumah tangga (PRT), termasuk dua orang PRT di keluarga kami. Seperti pada tahun-tahun sebelum pandemi, mereka mengambil waktu untuk mudik sejak sekitar dua minggu sebelum hari libur lebaran tiba.

Menariknya, saya jadi memperhatikan bahwa ketika para PRT mudik, sebagian sukacita dan damai sejahtera di keluarga kami sering kali juga ikut “terbawa” mudik. Mengapa begitu? Karena ketika PRT mudik, banyak pekerjaan rumah tangga harus kami selesaikan sendiri bersama-sama; dan biasanya porsi terbesar menjadi bagian tanggung jawab istri, sebagai ibu rumah tangga. Masa libur yang diharapkan penuh kedamaian dan kegembiraan pun menjadi masa yang penuh kesibukan dan kewajiban. Bahkan, penuh tuntutan, apalagi bagi sang ibu rumah tangga. Semuanya baru akan kembali terasa tenang dan lega saat para PRT kembali datang untuk melanjutkan bekerja seperti sebelumnya. Kamilah salah satu keluarga yang mengalami “kehilangan” sebagian sukacita dan damai sejahtera ini setiap kali para PRT mudik. Duh!

Syukurlah, karena kami hidup di dalam kebersamaan dengan keluarga rohani saudara-saudari seiman, tahun ini kami belajar memandang kerepotan saat PRT mudik dengan perspektif yang berbeda. Sementara biasanya kami merasa normal-normal saja jika kelelahan dan emosional saat PRT mudik, kali ini kami mulai melihat bahwa ini bukanlah sebuah kebiasaan yang harus terjadi pada kami. Kami belajar menggunakan perspektif kasih karunia.

Sebenarnya, kita semua yang telah ditebus oleh Kristus, termasuk kami sekeluarga, telah hidup di dalam kasih karunia Bapa. Tidak ada lagi tuntutan atau beban yang mengikat hidup kami, dan kasih karunia Bapa itu sangat mampu untuk memberi kami kelegaan. Meski harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga, kasih karunia Bapa cukup untuk menjamin ada istirahat (rest) yang tenteram bagi kami. Dalam proses bersama sekeluarga, akhirnya banyak pikiran dan perasaan yang kami tukarkan dengan kebenaran Fiman Tuhan, khususnya kebenaran di area pengenalan atas Bapa yang benar. Saudara-saudari seiman kami sesama anak Bapa, termasuk para pemurid sebagai wakil Bapa bagi kami, menolong menuntun kami untuk mengalami kelegaan itu. Masa libur lebaran dan PRT mudik bagi kami pun menjadi masa pembelajaran yang penuh makna sekaligus kesempatan bagi kami sekeluarga untuk sungguh-sungguh mengalami kasih karunia Bapa.

Sungguh keluarga rohani dan pengayoman rohani ini sangat menolong kami untuk hidup berdasarkan kebenaran akan kasih karunia. Selama PRT mudik tahun ini, kami tidak membutuhkan waktu terlalu lama seperti pada tahun-tahun sebelumnya untuk merasakan kelegaan (rest) di tengah-tengah keluarga kami. Kami jadi makin mengerti bahwa Allah adalah Bapa yang penuh kasih, dan sebagai anak-Nya kita telah mewarisi hidup yang penuh kasih karunia. Kami tidak lagi terbebani oleh tuntutan, sehingga kami bisa menikmati setiap hari dengan penuh kelegaan dalam sukacita dan damai sejahtera; tanpa menunggu para PRT kembali datang dari mudik.

Bagaimana dengan Anda? Saya berdoa bahwa kehilangan sukacita dan damai sejahtera akibat PRT mudik tidak terjadi di rumah tangga sahabat-sahabat semua, tetapi kalau hal itu terjadi, mari kembali ke kasih karunia Bapa yang memberi kelegaan itu.  Biarlah kita tetap teguh memegang kebenaran bahwa tidak ada hal yang mampu merenggut sukacita dan damai sejahtera kita, jika kita senantiasa hidup di dalam kasih karunia Bapa.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” – Matius 11:28-30

2022-05-27T13:17:57+07:00