///Mulai dari diri sendiri

Mulai dari diri sendiri

Saat membaca build! edisi kali ini, kita sedang berada dalam suasana pergantian tahun. Angka di kalender berubah dari 2017 menjadi 2018, acara-acara perayaan Natal dan penutupan tahun mulai mereda, evaluasi dan perencanaan demi pencapaian yang lebih baik diprioritaskan sebagai agenda penting, dan pikiran kita penuh dengan berbagai harapan. Sayang, tahun demi tahun berganti, tetapi hidup tidak menjadi lebih mudah dan dunia tidak menjadi lebih baik. Sebagai orang Kristen, tentu kita mempunyai banyak harapan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk sesama dan untuk lingkup yang lebih besar. Kita menginginkan hubungan yang lebih rukun, keluarga yang lebih bahagia, pelayanan yang lebih efektif, komunitas orang percaya yang lebih mengalami mukjizat, gereja yang bersatu dan yang lebih berdampak, lingkungan yang lebih aman dan damai, pejabat yang lebih jujur, pemerintah yang lebih adil, semua orang yang belum percaya menjadi bertobat, bangsa-bangsa sujud menyembah dan mengakui ketuhanan Yesus Kristus, dunia dipulihkan menjadi sempurna. Bukankah ini semua kehendak dan rencana Tuhan? Namun, tak dapat dipungkiri, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga dan dunia sekeliling kita, segala harapan terlihat semakin jauh dari kenyataan. Kita menjadi lelah berharap dan memilih untuk apatis saja.

Jika kita simpulkan, semua harapan yang kita miliki bagi sesama dan dunia adalah Kristus menjadi pusat seluruh alam semesta dan seluruh umat manusia. Kerajaan-Nya datang, kehendak-Nya jadi. Ini memang sebuah mimpi, tetapi ini mimpi yang dijanjikan di dalam Alkitab. Kita berdoa dan berpuasa dan berharap, tetapi mengapa sampai saat ini mimpi sepertinya tak kunjung terjadi? Apa yang salah? Mengapa Tuhan tidak turun tangan dan langsung mewujudkan mimpi ini?Sebenarnya, yang salah bukanlah Tuhan. Yang salah ialah kita lupa untuk mulai dari diri sendiri. Sebelum Kristus menjadi pusat seluruh alam semesta dan seluruh umat manusia, apakah Kristus sudah menjadi pusat kehidupan dalam diri kita sendiri?

Dalam Alkitab dan di sepanjang sejarah, Allah selalu bekerja (menyadarkan, memulihkan, memberkati, mempersatukan, atau apa pun lainnya) mulai dari lingkungan terdekat-Nya dahulu, umat-Nya, kemudian baru menyentuh orang-orang lain yang tidak/belum mengenal-Nya. Kita orang Kristen, orang percaya, orang yang mengenal Dia, orang yang terbiasa dan diajar untuk berhubungan dekat dengan Dia. Berdoa dan berpuasa dan berharap adalah baik, tetapi lebih dari itu, kitalah yang seharusnya menjadi cermin dan contoh bagi dunia tentang Kristus sebagai pusat kehidupan dan pusat segala-galanya. Apa artinya? Bagaimana kita bisa menjadi cermin dan contoh bagi dunia?
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36)

Segala sesuatu bersumber dari Kristus. Segala sesuatu terjadi oleh Kristus. Apakah penghasilan kita bersumber dari Kristus dan bukan dari usaha kita sendiri yang menghalalkan segala cara? Apakah kemenangan kita atas dosa terjadi oleh Kristus dan bukan oleh kekuatan sendiri yang sementara? Apakah hubungan yang kita jalin dengan orang terkasih bersumber dari Kristus dan bukan dari keinginan hati kita sendiri yang diwarnai oleh hawa nafsu? Apakah pelayanan yang kita bangun terjadi oleh Kristus dan bukan dari ambisi kita sendiri untuk berprestasi dan diakui?

Segala sesuatu kembali kepada Kristus. Apakah pemberian kita untuk orang yang berkekurangan adalah untuk menyalurkan kasih Kristus dan bukan untuk membanggakan diri sendiri sebagai orang yang murah hati? Apakah prestasi kerja kita adalah untuk menunjukkan kehebatan Kristus dan bukan demi kebanggaan diri sendiri atau promosi dari atasan? Apakah kerajinan kita menghadiri pertemuan ibadah adalah untuk berhubungan lebih dekat dengan Kristus bersama jemaat dan bukan demi dipandang baik oleh orang-orang sekitar? Apakah kegiatan kita berkomsel adalah untuk saling membangun supaya bertumbuh semakin serupa dengan Kristus dan bukan untuk mengisi waktu luang atau memuaskan diri dengan kesenangan bersama teman-teman? Apakah semangat kita bersaat teduh dan membaca Firman setiap pagi adalah untuk lebih mengenal Kristus secara pribadi dan bukan demi memenuhi kewajiban diri sendiri sebagai orang Kristen? Apakah kepedulian kita dalam mendoakan orang sakit adalah untuk menyalurkan kasih serta kuasa Kristus dan bukan untuk menyelesaikan tugas dari pemimpin pelayanan? Apakah keramahan kita kepada sahabat baru adalah untuk menunjukkan kebaikan Kristus dan bukan untuk mencapai target jumlah anggota komsel kita sendiri? Apakah perkataan kita tentang Firman adalah untuk mengajarkan kebenaran Kristus dan bukan untuk membuktikan kebenaran diri kita sendiri?
Mari merenung sejenak. Hanya Dia dan diri kita masing-masing yang tahu apakah Kristus sudah menjadi pusat dalam kehidupan kita atau belum. Kalau sudah, lanjutkan, karena semua janji-Nya pasti tergenapi. Kalau belum, lakukan, karena Dia sedang menantikan perwujudan rencana-Nya melalui diri kita. Mulailah dari diri sendiri dan bergeraklah menjangkau sesama dari yang paling dekat sampai dunia yang lebih luas, sesuai bidang kita masing-masing.
Saat pergantian tahun kali ini, mari berhenti memelihara harapan kosong dan berhenti bermimpi sia-sia.

2019-10-17T10:16:45+07:00