///Multiplikasi di Dalam Kerajaan Allah

Multiplikasi di Dalam Kerajaan Allah

Dalam edisi ini, kita akan mengamati bahwa kehidupan yang maksimal di dalam Kerajaan Allah pasti berlipat ganda. Melalui berbagai pengajaran dan perumpamaan-Nya, Yesus telah sering kali menunjukkan konsep pelipatgandaan di dalam Kerajaan Allah dengan sangat jelas. Pelipatgandaan adalah kelanjutan pasti dari kehidupan rohani yang makin sehat dan makin murni, yang terjadi melalui proses pemurnian dalam berbagai guncangan. Kita sudah membahas dalam beberapa edisi sebelumnya bahwa pada akhir zaman ini Tuhan sedang mengguncangkan segala sesuatu yang dapat terguncangkan, supaya tinggal tetap apa yang tidak terguncangkan. Yang tidak akan terguncangkan hanyalah segala sesuatu yang tinggal di dalam Kerajaan Allah (Ibr. 12:26-29). Itulah sebabnya, kehidupan yang tinggal tetap di dalam Kerajaan Allah akan menjadi makin sehat dan makin murni secara rohani, hingga makin berbuah dan berlipat ganda.

Mari kita lihat prinsip pelipatgandaan di dalam Kerajaan Allah ini dalam beberapa tema terpenting di sepanjang isi Alkitab dari awal.

 

Misi Allah bagi semua manusia

Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’ Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kej. 1:26-27, TB)

Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diri-Nya, agar mereka berkuasa atas segala makhluk ciptaan-Nya yang lain di bumi. Mengapa Allah menetapkan tujuan yang demikian bagi manusia? Allah di dalam ke-Mahatahu-an-Nya telah mengetahui bahwa Iblis yang jatuh hendak menguasai bumi dengan kuasa kegelapan, maka Dia menempatkan manusia (Adam) sebagai wakil-Nya di taman Eden, untuk mengusahakan dan memelihara (menjaga) taman tersebut dari pekerjaan kuasa kegelapan (Kej. 2:15). Melalui amanat Allah atas Adam, manusia ditugasi untuk menghadirkan dan meluaskan Kerajaan Allah di bumi. Bagaimanakah manusia dapat memperluas Kerajaan Allah sampai ke seluruh bumi? Satu-satunya strategi untuk itu adalah dengan berlipat ganda.

Ketika manusia bermultiplikasi (berlipat ganda) sebagai wakil Allah, Kerajaan Allah diperluas sampai seluruh bumi karena bumi jadi dipenuhi dengan kehadiran Kerajaan Allah. Untuk menghadirkan Kerajaan Allah (pemerintahan Allah) di bumi, manusia secara rohani harus beranakcucu, yaitu terus bertambah banyak dengan menghasilkan manusia-manusia lain yang juga hidup di bawah pemerintahan Allah, sampai Kerajaan Allah memenuhi bumi. Inilah yang Allah inginkan. Tuhan ingin agar manusia menaklukkan bumi hingga seluruh bumi berada di bawah pemerintahan Allah, bukan takluk di bawah kekuasaan kerajaan kegelapan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’” (Kej. 1:28, TB)

Sayang, kita tahu bahwa Adam gagal melaksanakan tugasnya. Bersama Hawa, Adam sendiri berbuat dosa dan akhirnya hidup di luar Kerajaan Allah. Karena itulah Yesus harus datang ke bumi dan menjadi Manusia yang menyelesaikan misi Allah itu, menebus seluruh manusia dari dosa lalu membawa manusia untuk kembali hidup di dalam Kerajaan-Nya. Manusia yang menerima karya penebusan Yesus ini lalu diutus untuk melaksanakan misi Allah: menjadikan sekalian bangsa murid-Nya (Mat. 28:18-20).

 

Tanah hati yang baik

Yesus datang dan hidup di bumi sebagai Manusia, dengan segala keterbatasan manusiawi yang berlaku, demi misi Allah. Melalui kehidupan dan pelayanan-Nya di bumi, Yesus mengajar kita cara hidup di dalam Kerajaan Allah. Jika kita melakukan apa yang Yesus ajarkan, kita akan mengalami hidup di dalam Kerajaan Allaah. Apabila kita mendengar Firman tentang Kerajaan Allah dan mengerti lalu melakukannya, hati kita akan menjadi seperti tanah yang baik, yang menghasilkan buah dan berlipat ganda di dalam Kerajaan-Nya.

Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu dia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat. 13:23, TB)

Semua warga Kerajaan Allah, artinya mereka yang sungguh-sungguh hidup di bawah pemerintahan Allah, pasti berbuah dan berlipat ganda. Ada yang 30 kali, 60 kali, dan 100 kali. Semua berbuah sesuai dengan kapasitas masing-masing yang dipercayakan Allah sendiri dan mencapai potensi maksimal sesuai dengan panggilan mereka di dalam Kerajaan Allah.

 

Carang pokok anggur yang berbuah banyak dan tetap

Salah satu gambaran lain yang sangat jelas tentang kehidupan seseorang yang di dalam Kerajaan Allah adalah perumpamaan pokok anggur dan carang yang Yesus jelaskan. Orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah bagaikan carang-carang yang melekat pada pokok anggur, yaitu Kristus Sang Raja di dalam Kerajaan Allah itu. Kita, umat-Nya, melekat terus-menerus pada Dia dan menerima nutrisi serta kemampuan rohani dari pokok itu sehingga pasti akan berbuah banyak.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, dia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. … Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh. 15:5, 8, 16, TB)

 

 Ragi dan biji sesawi

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ‘Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.’ Dan Dia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: ‘Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.’” (Mat. 13:31-33, TB)

Kerajaan Allah juga diumpamakan sebagai biji sesawi dan ragi. Biji sesawi itu sangat kecil, tetapi bila tertiup angin, biji-biji kecil itu akan tersebar ke mana-mana dan dalam waktu singkat akan memenuhi seluruh ladang lalu berbuah dengan tanaman sesawi yang besar. Biji sesawi kecil tetapi mempunyai kapasitas multiplikasi yang luar biasa. Demikian pula dengan ragi. Bila ragi ditaruh, dicampur, dan diaduk ke dalam adonan, seluruh adonan itu akan segera dikhamirkan (mengalami efek peragian). Ragi mempunyai kekuatan multiplikasi yang sangat cepat. Biji sesawi dan ragi itulah gambaran pertumbuhan pesat di dalam Kerajaan Allah. Dimulai dari diri Yesus sendiri, kawanan kecil (komunitas kecil) murid-murid Yesus, lalu meluas ke makin banyak orang dan setelah beberapa dekade saja bermultiplikasi dengan cepat menjangkau bangsa-bangsa.

 

Amanat Agung

Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’” (Mat. 28:18-20, TB)

Karena Adam gagal memperluas Kerajaan Allah lewat berlipat ganda di taman Eden, Yesus turun ke bumi sebagai Adam kedua/terakhir untuk menyelesaikan misi tersebut. Hal ini perlu karena sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, kuasa (otoritas) atas bumi telah diserahkan oleh manusia kepada Iblis, sehingga Iblis menjadi ilah (penguasa) atas seluruh bumi ini (Luk. 4:5-8). Setelah Yesus datang ke bumi lalu mati dan bangkit, segala kuasa di surga maupun di bumi telah diserahkan kembali kepada-Nya, termasuk segala kuasa atas bangsa-bangsa. Karena kebenaran itu, dan oleh kuasa itulah, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi dan menjadikan sekalian bangsa murid-Nya pula.

Mencermati isi Matius 28:18-20, kita dapat melihat pola multiplikasi. Sejak Kristus memanggil murid-murid-Nya (Andreas dan Yohanes) untuk mengikut Dia, hingga saat lahirnya Gereja mula-mula dalam peristiwa Pentakosta, bahkan pergerakan munculnya komunitas-komunitas murid yang baru dari di Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi, semuanya menunjukkan pertumbuhan jumlah yang bersifat multiplikatif. Angka-angkanya bukan hanya bertambah atau naik, tetapi berlipat ganda. Ini pulalah yang akan terjadi saat ini. Dengan Tuhan memurnikan Gereja-Nya untuk kembali ke pola hidup Kerajaan Allah pada akhir zaman ini, Gereja akan mengalami pertumbuhan yang lebih hebat lagi daripada yang dialami Gereja mula-mula.

 

 Penghakiman di dalam Kerajaan Allah

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat. 25:21-23, TB)

Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.” (Luk. 19:17-19, TB)

Dalam kedua perumpamaan yang diberikan Yesus ini, kita dapat melihat bahwa pada akhir zaman ketika Yesus Sang Raja datang kembali, kita semua warga Kerajaan Allah akan dinilai (dievaluasi) berdasarkan prinsip kesetiaan. Apakah definisi kesetiaan bagi hamba-hamba Tuhan di dalam Kerajaan-Nya? Orang yang setia adalah orang yang mengelola dan melipatgandakan segala talenta yang dipercayakan kepadanya, seperti hamba-hamba yang dipuji tuannya itu. Sebaliknya, orang yang tidak setia adalah yang digambarkan dengan hamba yang dipercayakan satu talenta (satu uang mina). Dalam Lukas 19:27, hamba itu disebut seteru tuannya, yaitu yang tidak suka tuannya menjadi penguasa. Inilah orang-orang yang tidak suka Yesus menjadi Raja, yang menentang pemerintahan Allah atas hidup mereka. Mereka pastilah bukan orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah. Itulah sebabnya akhirnya mereka binasa.

Tentu kita semua sebagai warga Kerajaan Allah sejati tidak ingin menjadi seperti hamba yang tidak setia itu, yang meski hanya dipercayakan satu talenta/uang mina tidak mau mengelolanya dengan baik dan menolak untuk melipatgandakannya. Kita semua pasti ingin setia dan melipatgandakan segala talenta yang diberikan Tuhan kepada kita. Mari terus hidup di dalam Kerajaan Allah, setia berjalan di bawah pemerintahan Allah, dan selalu berbuah serta berlipat ganda.

(Eddy Leo – Apostolic Team Ministry dan Penatua Jemaat Abbalove Ministries)

2022-02-25T13:08:05+07:00