MURID KRISTUS

 

 

Mengapa gereja masa kini seperti itu? Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Namun, salah satu faktor penyebab yang utama adalah karena adanya kekeliruan konsep pemuridan, dan juga karena metode pemuridan yang tidak efektif.

Pemuridan adalah sebuah proses dimana seorang percaya dengan contoh hidup membiarkan Kristus memakainya sebagai alat untuk melayani sejumlah orang tertentu dalam waktu tertentu, dalam perjumpaan satu demi satu (one on one), untuk mencapai keserupaan Kristus (potensi maksimalnya), demi tujuan pembangunan rumah Tuhan, serta mereproduksi dirinya sampai generasi ketiga. Tuhan memerintahkan kepada semua muridNya, bukan hanya kepada rasul-rasulNya saja, semua orang percaya/ orang kudus, dari pemimpin tertinggi sampai orang yang baru percaya (Matius 28:19-20) untuk melakukan pemuridan.

Inti pemuridan dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu menjadi “contoh” atau “model”.
Ada seorang anak kecil berusia 4 tahun, lari dari rumah karena terancam disiksa oleh orang tuanya. Namun, ia tersesat di hutan, dan setelah belasan tahun kemudian ia ditemukan telah hidup sama seperti monyet. Anak tersebut bertingkah laku seperti monyet, tidak dapat berjalan tegak, dan tidak dapat berbicara bahasa manusia.

Mengapa anak tersebut tidak hidup normal seperti manusia-manusia lainnya, padahal ia adalah manusia sejati? Penyebabnya adalah karena ia tidak terus-menerus melihat contoh manusia normal lainnya, tetapi melihat contoh dari monyet-monyet yang menerimanya di hutan.

Demikian pula begitu pentingnya peranan contoh dalam menuntun orang lain untuk mencapai potensi maksimalnya, yaitu keserupaan dengan Kristus. Jadi satu-satunya jalan untuk belajar adalah melalui contoh/ model.

Kristus berkata, “Jadikanlah sekalian bangsa muridKu ..” (Matius 28:19). Dulu ketika Kristus datang ke dunia sebagai manusia, Ia-lah yang menjadikan orang-orang menjadi muridNya/ pengikutNya (Matius 4:19, Lukas 9:23-24). Setelah Ia mati, bangkit, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia tetap melakukan pemuridan. Ia tetap menjadikan orang-orang muridNya, tetapi sekarang melalui tubuhNya, yaitu murid-muridNya (Matius 28:19-20). Jadi pemuridan bukanlah menjadikan orang murid kita, tetapi menjadikan orang murid Kristus.

Ada 2 hal yang ekstrim dalam pemuridan:
a.Tidak perlu peranan orang lain untuk menjadikan kita murid, karena kita langsung murid Kristus. Ini prinsip yang salah. Kita perlu adanya model.
b.Menjadikan orang lain berpusatkan diri kita, sehingga orang lain mengikut kita, bukan Kristus. Ini dapat mengarah kepada pembinaan yang bersifat kontrol manusia.

Seharusnya konsep pemuridan yang benar adalah: “Kristus memakai anggota tubuhNya, untuk menjadikan seseorang muridNya.” Jadi Kristuslah yang memuridkan, sedangkan peranan si pembuat murid adalah sebagai anggota tubuh yang dipakai sebagai alat untuk mengekspresikan Kristus. Jadi diperlukan seseorang untuk “menjadikan” orang lain murid Kristus. Ingat! Satu-satunya cara Kristus membuat murid adalah melalui seseorang yang telah terlebih dahulu dimuridkan.

Melayani adalah sikap hati yang terutama, yang harus dimiliki oleh seorang pembuat murid.
Di dalam pemuridan tidak boleh terjadi kontrol, manipulasi, dominasi dari si pembuat murid agar si murid mengikuti kemauan si pembuat murid dan bukan kemauan Kristus. Seharusnya si pemurid adalah seorang pelayan atau hamba yang siap melayani agar Kristus dapat berekspresi untuk menjadikan orang lain murid Kristus (Markus 10:42-45). Apabila seorang pembuat murid tidak melayani dengan hati hamba melainkan menjadi seperti orang yang memerintah (kontrol),maka yang dimuridkan berhak menasehati si pembuat murid, bahkan dapat melaporkannya kepada pembuat murid yang di atasnya. Hanya orang yang berhati hamba yang dapat mengekspresikan Kristus, sedangkan orang yang berhati “bos /raja” hanya akan mengekspresikan “diri sendiri / ego” (1 Petrus 5:1-6).

(sumber: Build My home – One on One, Eddy Leo)

2012-02-29T08:39:22+00:00