//Murid Siapa?

Murid Siapa?

Pemuridan. Pemurid. Kakak rohani.

Mungkin kita sering sekali mendengar istilah-istilah semacam ini di gereja, tapi sebenarnya, apa sih maksudnya? Awalnya, waktu aku mendengar istilah-istilah ini, timbul beberapa pertanyaan di dalam pikiranku. Apakah ini artinya program yang membuatku wajib bertemu dan melaporkan hidupku kepada si pemurid secara rutin? Mungkin, harus sebulan sekali, atau bahkan dua minggu sekali? Apakah aku perlu berbagi segala detail kisah hidupku setiap hari kepada pemuridku? Atau, haruskah aku menceritakan seluruh rahasia dan aib keluargaku juga kepada dia?

Semua pertanyaan ini menjadi kebingungan bagiku selama beberapa saat, tapi lalu akhirnya aku tergerak untuk mencoba dulu saja mengikuti pemuridan. Aku pun memiliki pemurid.

Minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berlalu… Ternyata, semakin lama dijalani, pemuridan di gereja bersama si kakak rohani terasa semakin melelahkan. Aku capek. Kenapa? Karena ada rasa bersalah yang timbul di hati ketika menjalaninya. Aku seakan-akan menjadi murid yang tidak baik kalau malas bercerita tentang sesuatu ke kakak rohaniku. Aku seperti kurang sungguh-sungguh ketika terlalu sibuk untuk bertemu kakak rohaniku secara khusus. Sebenarnya, memang tidak bisa dipungkiri, aku banyak belajar dan sangat terberkati lewat segala diskusi, doa bersama, dan kisah hidup dari kakak rohaniku. Ada banyak perubahan pula yang aku alami melalui perjalanan pemuridan ini, itu benar, tapi, kok besar sekali komitmen yang diperlukan untuk melakukan pemuridan ini… Menjalaninya jadi terasa berat dan penuh dengan rasa bersalah karena sepertinya aku merasa bukan murid yang sungguh-sungguh sepenuh hati.

Perasaanku itu aneh sebenarnya. Kalau kita pelajari lebih dalam apa yang Alkitab katakan tentang menjadi murid, seharusnya proses itu memberikan kelegaan untuk diri kita. Seharusnya proses perjalanannya enak dan bebannya pun ringan. Di Matius 11:28–30, Yesus Kristus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

 

Dalam proses pemuridan selama beberapa tahun yang terasa berat bagiku, perlahan-lahan aku mulai menyadari bahwa aku salah paham. Ada hal yang aku salah mengerti tentang pemuridan ini, yang kusadari dari perkataan Yesus lainnya di Matius 28:19a, “… jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Dalam seluruh proses pemuridan, fokus seharusnya adalah untuk setiap orang menjadi murid Kristus, bukan murid manusia mana pun. Aku seharusnya bukan menjadi murid kakak rohaniku, aku seharusnya menjadi murid Kristus. Kakak rohani, pemurid kita, “hanyalah” alat Tuhan yang membantu kita menjadi murid Kristus dalam proses perjalanan bersama. Pemuridan yang sesungguhnya terjadi ketika kita, baik si murid maupun si pemurid, mengalami Kristus bersama-sama; yang artinya berjalan bersama mengikuti tuntunan Kristus, belajar dari Kristus, dan terus-menerus berubah untuk menjadi makin serupa Kristus. Itulah proses pemuridan. Murid membutuhkan pemurid untuk mengarahkan, berdoa bersama, dan berjaga-jaga akan hidup si murid, termasuk mengingatkan dan mengarahkan si murid untuk selalu berjalan sesuai Firman Kristus.

Lalu, kenapa kita harus sering-sering bertemu dan berinteraksi dengan pemurid? Pertemuan atau interaksi rutin dengan pemurid sama sekali bukanlah penentu kesuksesan pemuridan itu sendiri. Sama seperti pribadi si pemurid, pertemuan dan interaksi antara murid dan pemurid juga “hanyalah” alat atau ruang untuk belajar bersama, dengan si pemurid dan si murid berbagi hidup dengan komitmen untuk bertumbuh terus sesuai tuntunan Kristus. Kalau dalam hubungan dengan pemurid, si murid mengeraskan hati dan tidak mau berubah, atau kalau si pemurid menempatkan dirinya sebagai otoritas yang mutlak harus ditaati, “pemuridan” itu menjadi sia-sia. Tanpa komitmen dan tindakan nyata dari kedua pihak, baik si pemurid maupun si murid, segala yang dilakukan dalam interaksi mereka pun sia-sia, termasuk “curhat”, “fellowship”, liburan bareng, atau apa pun.

 

Nah, kamu sendiri bagaimana, sudah menjalani proses pemuridan? Kalau kamu sudah tergabung dalam pemuridan, coba ambil waktu sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri. Apa sih yang menjadi fokusmu selama ini dalam pemuridan? Apakah masih ada fokus dan pemahaman yang salah dari pemuridan yang kamu jalani? Murid siapakah kamu? Lewat pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita bersama-sama belajar menjadi murid Kristus yang sejati. Dimuridkan oleh siapa pun sebagai kakak rohani kita, dan memuridkan siapa pun sebagai kakak rohani, mari kita belajar semakin lemah lembut dan rendah hati untuk senantiasa belajar dari Kristus. Dalam prosesnya, kita mengalami Kristus, kita berubah, dan kita bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus.

2024-01-31T11:53:19+07:00