//Musa (1) : Selamat dan Hidup oleh karena Iman

Musa (1) : Selamat dan Hidup oleh karena Iman

40 Tahun Pertama Musa

 Dalam artikel Seri Iman edisi kali ini, kita akan belajar dari Musa, tokoh yang dipakai Tuhan untuk menuntun bangsa Israel berjalan ke tanah perjanjian-Nya. Musa sering disebut sebagai pangeran para nabi, sebab kepada Musalah Allah bercakap-cakap secara langsung dan menunjukkan jalan-jalan-Nya, “Dia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel,” (Mzm. 103:7). Sebelum zaman Musa, Allah telah berjanji kepada Abraham, “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya,” (Kej. 15:13). Masa 400 tahun itulah masa perbudakan bangsa Israel di Mesir, dan setelah itu Musa menjadi pemimpin pilihan Tuhan untuk membawa umat-Nya keluar dari perbudakan. Tuhan  mempunyai jadwal waktu yang jelas dan penggenapannya tepat, yang terlihat melalui kehidupan dan karya Musa.

Kita akan mempelajari iman Musa dalam tiga fase hidupnya, yang masing-masing dibahas dengan artikel tersendiri. Dalam artikel pertama ini, kita mengamati fase yang pertama, yaitu 40 tahun pertama kehidupan Musa, sejak dilahirkan sampai dia berusia 40 tahun, yaitu bagaimana iman menjadi titik awal dan alasan Musa bisa selamat dan hidup. Fase kedua ialah 40 tahun yang kedua, yaitu saat usia Musa 41-80 tahun dan iman Musa membawanya mengalami penyertaan Tuhan. Fase ketiga ialah 40 tahun yang ketiga, saat Tuhan membawa iman Musa kepada penggenapan visi-Nya atas bangsa Israel.

 

 

Selamat dari Maut oleh Iman Orang Tua

Sejak bangsa Israel pertama kali memasuki negeri Mesir pada zaman Yusuf, bangsa Israel telah beranak cucu dan bertambah banyak luar biasa. Pada suatu ketika di masa itu, bangkitlah raja baru di negeri Mesir, seorang Firaun yang tidak mengenal Yusuf. Dia khawatir bangsa Israel telah menjadi sangat banyak itu akan berbalik melawan lalu menguasai Mesir. Karena itu, dia mengeluarkan perintah perbudakan dan penindasan atas bangsa Israel. Salah satunya ialah perintah kepada para bidan Mesir untuk membunuh setiap bayi Israel yang dilahirkan, agar bangsa Israel tidak terus-menerus bertambah banyak. Pada masa itulah Musa dilahirkan.

Pasangan suami istri dari suku Lewi, Amram dan Yokhebed, melahirkan seorang bayi laki-laki. Kedua orang tua ini melihat dengan iman bahwa bayi mereka itu akan dipakai oleh Tuhan untuk rencana-Nya bagi bangsa Israel. Lagipula, bayi itu begitu indah parasnya dan menimbulkan kasih sayang orang tuanya. Oleh iman dan kasih inilah, Amram dan Yokhebed menyembunyikan bayi mereka agar tidak dibunuh oleh suruhan Firaun. Namun setelah tiga bulan, bayi tersebut bertambah besar dan tidak dapat disembunyikan lebih lama lagi. Akhirnya, mereka menghanyutkan bayi tersebut di tepi Sungai Nil. Iman membuat mereka menyerahkan nyawa dan kelanjutan hidup bayi itu ke tangan Tuhan, berharap bahwa Tuhan mengerjakan keselamatan bagi sang bayi. Mereka juga menempatkan anak perempuan mereka, kakak sang bayi, untuk mengawasi adiknya dari kejauhan. Ajaibnya, tidak satu pun buaya atau binatang buas kelaparan di Sungai Nil memakan bayi itu.

Singkatnya, Tuhan menggerakkan puteri Firaun untuk mandi di Sungai Nil. Bersama dayang-dayangnya, sang puteri berjalan-jalan di tepi sungai  dan tiba-tiba melihat ada keranjang di tengah aliran sungai dengan bayi mungil yang rupawan di dalamnya. Saat keranjang itu diambil, bayi itu menangis; puteri Firaun pun berbelas kasihan kepadanya. Melihat peristiwa itu, kakak perempuan sang bayi lekas mendekat dan menawarkan kepada sang puteri jasa seorang inang pengasuh bagi bayi itu, yang sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah ibu sang bayi sendiri: Yokhebed. Lagi-lagi ajaib, puteri Firaun setuju dengan tawaran itu! Hikmat si kakak perempuan dan belas kasihan di hati puteri Firaun sungguh menunjukkan pekerjaan Tuhan di dalam rencana-Nya.

Yokhebed pun menyusui serta mengasuh anak laki-lakinya itu sendiri. Ketika anak itu telah tumbuh besar, dibawanyalah si anak kepada puteri Firaun, yang telah mengangkatnya menjadi anak dan menamainya Musa, “karena aku telah menariknya dari air” (Kel. 2:10). Kita tahu bahwa selanjutnya Musa hidup sebagai putra yang terhormat di istana Firaun, dikasihi dan diperlakukan layaknya putra Firaun sendiri. Iman orang tua Musa membawa dia selamat dan hidup, sesuai rencana Tuhan.

 

 

Hidup Baru karena Keputusan Iman

Dalam khotbah Stefanus, salah satu dari tujuh diaken jemaat mula-mula, dijelaskan, “Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan dia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Pada waktu dia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel,” (Kis. 7:22-23). Musa, yang tumbuh besar dalam budaya dan didikan Mesir yang terunggul di segala bidang pada masa itu, mulai sadar akan siapa dirinya. Meski segala atribut gemilang yang melekat padanya itu seolah hanya perlu menunggu waktu untuk membawanya ke titik puncak pencapaian, Musa tetap ingin kembali kepada identitas aslinya: hidup sebagai bagian dari umat Tuhan. Dia tahu bahwa kehidupan yang benar baginya bukan menikmati segala kenyamanan Mesir itu, melainkan beribadah kepada Tuhan.

Ibrani 11:24-26 mencatat keputusan Musa selanjutnya, “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena dia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Dia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya dia arahkan kepada upah.” Iman orang tuanya rupanya juga terwariskan kepada Musa. Mungkin sekali, semasa kecil dalam pengasuhan orang tuanya sendiri, Musa telah diajar mengenal Tuhan sehingga punya iman akan Tuhan yang sejati yang dikenalnya itu. Itulah sebabnya Musa tetap rindu untuk hidup beribadah kepada Tuhan dan mengikuti rencana Tuhan.

Mencoba meraih keinginannya untuk kembali hidup sebagai umat Tuhan, Musa pun pergi mengunjungi lingkungan kehidupan orang-orang Israel. Saat itulah, dia melihat orang Mesir sedang memukuli orang Israel. Oleh empatinya yang bergolak dalam kemarahan sebagai sesama orang Israel, dia berusaha menolong si orang Israel dengan memukuli si orang Mesir sampai mati, lalu menyembunyikan mayatnya di tanah pasir. Pada kunjungan Musa di hari berikutnya, dia melihat dua orang Israel berkelahi dan berusaha melerai mereka karena mereka sesama saudara. Kali ini, kedua orang Israel itu justru menolak peran Musa dan berkata, “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” (Kel. 2:13-14). Musa berusaha melakukan hal yang menurutnya benar dan baik, tetapi hal itu tidak dilakukan dengan cara dan waktu Tuhan yang tepat. “Pada sangkanya (Musa) saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti,” (Kis. 7:24-26). Musa mengerti janji dan rencana Tuhan atas dirinya, tetapi telanjur bertindak dengan pemahamannya sendiri. Alhasil, karena ketakutan perbuatannya membunuh orang Mesir ketahuan, Musa lari meninggalkan Mesir hingga hidup di padang gurun.

Iman Musa yang diwariskan dari orang tuanya dan terus dipupuknya membuat dia teguh bertekad untuk hidup sebagai umat Tuhan. Meski caranya dan waktunya tidak tepat, Musa dibawa Tuhan di dalam kelanjutan rencana-Nya. Penyertaan Tuhan selama Musa hidup di padang gurun menjadi masa pelatihan pribadi baginya untuk kelak memimpin bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun. Betapa luar biasanya Tuhan di dalam seluruh rencana-Nya! Oleh keputusan imannya, Musa kini memasuki kehidupan yang baru dan makin mendekati penggenapan rencana Tuhan.

 

Teladan iman dari fase pertama kehidupan Musa ini patut untuk kita contoh. Temukan janji dan rencana Tuhan atas hidup kita pula, lalu teruslah berpegang teguh pada iman akan janji dan rencana Tuhan itu. Doakan dan bertindaklah menurut cara dan waktu Tuhan, karena di luar cara dan waktu Tuhan segala upaya kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Carilah pemahaman akan waktu dan cara Tuhan saja. Ini seperti yang dikatakan Charles Swindoll, teolog dan penulis Kristen, “Jika Anda tidak merendahkan diri Anda setiap hari di hadapan-Nya, mencari wajah-Nya, peka terhadap waktu-Nya, bekerja di bawah pimpinan Roh, Anda dapat mendorong dan menerobos serta memaksa jalan Anda sebelumnya ke tempat di mana Allah menginginkan Anda berada, namun Anda tidak akan pernah sampai pada waktu-Nya,” (Charles R. Swindoll, Musa, Cipta Olah Pustaka – Bandung, hal. 71). Kita tidak perlu membantu Tuhan agar menggenapi janji-Nya. Dia memiliki cara dan waktu yang terbaik untuk bertindak menggenapi janji itu. Yang kita perlu lakukan hanyalah bersepakat serta mengikuti cara dan waktu Tuhan. Artikel berikutnya akan membahas bagaimana Musa kemudian mengikuti cara dan waktu Tuhan atas dirinya.

2022-03-26T08:58:29+07:00