///Musuh Tersembunyi

Musuh Tersembunyi

kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”Lukas 19:42-44, TB

 

Kemenangan yang terhebat dan paling bermartabat bukanlah kemampuan seseorang menaklukkan ribuan lawan atau memenangi kejuaraan dunia, melainkan justru melawan sosok di dalam diri sendiri. Di dalam diri kita sendiri masing-masinglah tersembunyi musuh yang paling kuat dan paling lihai!

Siapa itu sosok musuh di dalam diri kita? Musuh di dalam diri adalah titik kritis atau titik rentan, kelemahan, emosi buruk, pikiran negatif, respons salah, kebiasaan buruk, kepercayaan palsu, trauma masa lalu, paranoid, dan kecenderungan dosa setiap orang. Musuh ini sering tidak terlihat, karena manusia memang lebih suka mempersalahkan hal-hal di luar diri sendiri dalam setiap situasi. Itulah sebabnya kita menyebutnya musuh yang “tersembunyi”. Musuh ini tidak mudah terlihat dan sering tidak disadari keberadaannya, tetapi sangat kuat dan sanggup menghancurkan diri kita dari dalam secara diam-diam! Untuk menaklukkannya, kita perlu mengendalikannya, dan ini tidak semudah ucapannya. Syukurlah, Firman Tuhan jelas mengenali musuh di dalam diri kita masing-masing dan menyediakan hikmat untuk kita menaklukkannya.

Musuh tersembunyi hanya bisa dideteksi oleh diri sendiri; dan demikian pula halnya, tidak ada yang mampu melawan, mengendalikan, serta menaklukkannya kecuali diri sendiri!

 

2 Korintus 10:3-6, TB, menjelaskannya, “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, …”

Kehidupan kita adalah peperangan rohani yang tak pernah berhenti, yang di dalamnya kita secara khusus memerangi musuh di dalam diri kita. Dalam peperangan rohani ini, Allah telah memilihkan perlengkapan senjata yang terjamin ampuh bagi kita, seperti yang tertulis di dalam Firman-Nya di atas. Mari kita berhenti sejenak dan memandang diri kita dengan “cermin” Efesus 6:10-18, untuk melihat apakah kita telah diperlengkapi dengan baik dengan “seluruh perlengkapan senjata Allah”. Supaya dapat menang terhadap musuh tersembunyi di dalam diri, kita tidak bisa berperang dengan senjata duniawi, tetapi harus dengan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.

Apa artinya “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” dan “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”, sebagaimana yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di kota Korintus? Bagaimana caranya? Lukas 9:23 adalah rumus singkatnya: “Kata-Nya kepada mereka semua: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

 

  1. Menyangkal Diri

Yesus berkata kepada semua orang yang ada di sekitar-Nya dan mendengarkan-Nya, “Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya tiap-tiap hari, dan terus mengikuti Aku.” (Luk. 9:23, BIMK) Dasar dari penyangkalan diri adalah kesadaran dan pengakuan bahwa keselamatan hanyalah anugerah Tuhan, bukan hasil usaha diri sendiri (Ef. 2:8-9). Setelah diselamatkan, kita menempatkan Tuhan sebagai penguasa (Tuan, yang mengendalikan) di dalam seluruh kehidupan kita, sehingga kita tidak melakukan atau mengusahakan lagi keinginan serta kepentingan kita, tetapi mengerjakan kehendak Tuhan. Versi BIMK menerjemahkan “menyangkal diri” dengan frasa “melupakan kepentingannya sendiri”. Mengesampingkan apa yang menjadi keinginan atau kepentingan kita sendiri demi mengarahkan kehidupan kita pada kehendak Allah atau kepentingan Kerajaan-Nya akan melemahkan musuh tersembunyi kita, yaitu sosok ego pribadi kita dengan segala desakannya. Ini adalah strategi perang yang efektif, karena kita mengajar ego kita untuk tunduk dan membuatnya mengerti bahwa desakannya tidak lagi berkuasa atas perilaku kita.

 

  1. Memikul Salib

Pada zaman Romawi, seseorang yang dijauhi hukuman salib akan dipaksa untuk memikul sendiri salibnya dari tempat dia dijatuhi vonis hukuman sampai ke tempat penyaliban. Dengan cara demikian, dipertontonkan kepada orang banyak bahwa orang itu telah bersalah kepada negara dan harus tunduk kepada negara, sampai mati. Kita yang telah ditebus oleh darah Kristus melalui karya salib-Nya telah menjadi milik Kristus, dan harus tunduk kepada Kristus. Kita harus menjalani hidup sebagai orang yang telah dijatuhi “vonis hukuman mati” itu, yaitu ego kita mati terhadap nilai-nilai dunia dan tunduk kepada Kerajaan Allah. Memikul salib berarti hidup dengan cara yang jelas menunjukkan bahwa ego kita telah mati, dan segala hal yang kita lakukan menjadi selaras dengan kehendak Allah.

 

  1. Mengikut Aku

Jika ditinjau dari segi bahasa, kata dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk makna “mengikut” dalam konteks ini adalah “koine”, dalam bentuk kala kini yang terus-menerus (present tense, simple and continuous). Lukas menekankan maknanya, bahwa mengikut Yesus merupakan proses yang terus-menerus, seperti dalam terjemahan BIMK: “terus mengikuti Aku”. Mengikut Tuhan bukan sekadar komitmen yang diambil atau diucapkan satu kali saja, tetapi cara hidup yang harus dilakukan tanpa berhenti seumur hidup. Mengikut Yesus terus-menerus akan mengalihkan kita dari cara hidup yang mengikuti desakan ego yang menjadi musuh tersembunyi kita.

 

Mari lakukan ketiga hal ini senantiasa di dalam kehidupan kita, maka kita akan menjadi orang-orang yang menang atas musuh yang tersembunyi. Roma 8:37, TB, menjamin kemenangan ini, yang telah tersedia oleh kasih Allah bagi kita, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

2022-08-30T08:42:26+07:00