//“My First Kiss is My Wedding Kiss”

“My First Kiss is My Wedding Kiss”

2008 – Waktu “jadi”-an
(Ronald menulis)
Perjuanganku merebut hatinya dimulai dari 2005 dan aku selalu bertepuk sebelah tangan hingga hari itu, 14 November 2008, kami memutuskan untuk tidak berkomunikasi selama 40 hari dan berdoa sebelum memutuskan keseriusan hubungan kami. Aku tidak ingin main-main dengan keputusanku. Karena keputusanku hari itu akan menyangkut masa depan dari wanita yang kucintai. Aku tidak bermaksud mencari pacar, melainkan mencari seorang istri. Berpacaran bagiku berarti mempersiapkan pernikahan bersama.
(Astri menulis)
Aku masih ingat, 40 hari sebelumnya, Ronald memintaku supaya aku benar-benar mempertimbangkan dan berdoa selama 40 hari tanpa komunikasi dengannya sebelum aku menolaknya lagi. Baiklah, pikirku saat itu. Kami tidak berkomunikasi dan kami berdoa. Dalam waktu-waktu itu, aku berdoa dan share tentang hal ini ke beberapa orang yang kupercayai dapat memberikan masukan-masukan dan nasehat yang bijaksana.

(Ronald menulis)
Malam itu kujemput dia dan kami memesan tempat di sebuah rumah makan daerah Margonda, Depok. Seperti seorang sales, aku mempresentasikan isi dari buku catatanku, hasil doaku, berisi rencana kehidupanku bertahun-tahun ke depan. Kutunjukkan padanya bahwa aku memiliki keyakinan yang pasti akan masa depanku. Kapan aku hendak menikah, pekerjaan apa yang aku inginkan dan di mana aku ingin tinggal. Visi hidupku dan rencana untuk masa depan anak-anakku.
(Astri menulis)
Setelah itu, kami bertemu. Ia tidak membawa bunga atau coklat untukku saat itu, mungkin karena dia pikir kali ini dia juga akan ditolak lagi. Ia hanya menyodorkan buku catatan berisi visinya selama 3 tahun ke depan bersamaku jika aku mau menerimanya. So sweet sekali. Lebih sweet dari pada bunga atau coklat.

(Ronald menulis)
Kondisi keuanganku saat itu tidaklah baik, namun aku percaya bahwa rencana yang jelas dan doa yang terarah akan membawaku ke dalam rencana Tuhan yang terbaik. Dalam bahasa sederhananya, aku menyatakan kepadanya, jadilah istriku dan hiduplah bersamaku, masa depanmu akan aman bersamaku. Jawaban yang tidak kusangka, ia menerimaku!
(Astri menulis)
Aku menerimanya dan ia terlihat sangat bahagia.

(Ronald menulis)
Malam itu kami berdua juga membuat kesepakatan pertama dalam hubungan kami. Tidak bersentuhan, dan berdoa bersama setiap malam. Komitmen ini kami ambil untuk menjaga agar hubungan kami dilandaskan kasih yang dari Tuhan, dan bukan dengan nafsu. Aku sadar, sebagai seorang pria, jangankan bergandengan tangan, menyentuh kulitnya pun membuatku bergetar dan ingin merasakan sentuhan lebih banyak lagi. Banyak anak muda jatuh dalam dosa percabulan karena batasan yang tidak disepakati. Aku ingin mengasihi Astri seperti seorang ayah yang menjaga anaknya. Menghormatinya sebagai seorang wanita yang kudus di hadapan Tuhan dan menjaganya dari ancaman hasratku sendiri sebagai seorang pria.
(Astri menulis)
Hari-hari selanjutnya, mungkin tak se”indah” seperti kisah kasih di sinetron-sinetron jaman sekarang. Tidak juga se”mesra” seperti adegan di film-film Bollywood. Ronald kerja di Cikarang, tinggal di Puri dan aku di Depok. Jadi, kami hanya bertemu seminggu sekali dengan perjuangannya naik motor dari Cikarang menuju Depok dan pulang ke Puri. Kami hanya bertemu beberapa jam dalam seminggu, kecuali ketika liburan, lebih panjang sedikitlah. Perjuangan yang berat buat Ronald. Bahkan, ketika kami sedang konflik pun, Ronald tetap datang. Aku sampai merasa aneh, lagi berantem kok ya masih mau ketemu diem-dieman. Tapi ya, kalaupun lagi adem ayem, kami juga ga ngapa-ngapain sih, karena kami sepakat untuk tidak melakukan sentuhan selama kami pacaran, termasuk gandengan tangan. Kuno ah, terlalu ekstrim, kata beberapa orang dan terasa lebay buat beberapa orang yang lain. Tapi buat kami, inilah keromantisan yang sesungguhnya. Romantis karena Ronald menjagaku dan memperlakukanku sebagai wanita yang terhormat. Ia benar-benar menepati janjinya pada ayahku akan menjaga anaknya. Menjaga dari apa? Menjaga dari tangan pria-pria termasuk tangannya sendiri. Ia berkomitmen akan mengendalikan dirinya dan menjalani hubungan sebelum menikah dengan dasar kasih, bukan nafsu. Dan komitmennya ini membuatku semakin mempercayainya dan mengasihinya. Aku merasa aman bersamanya.

Setahun berlalu dengan berbagai konflik yang melanda hubungan mereka, sekalipun mereka mengawali hubungan melalui doa dan menjaganya dengan komitmen menjaga kekudusan (termasuk tidak berciuman); tapi akhirnya mereka menyadari bahwa mereka MEMBUTUHKAN ORANG LAIN untuk menolong mereka bisa tetap berjalan dalam komitmen dan mimpi yang mereka bangun.

2009 – Waktu Pertolongan yang diharapkan
(Ronald menulis)
Mulai 2010 kami mengikuti kelas BPN dan setiap hari Jumat malam aku berangkat ke Depok dari Cikarang untuk mengikuti kelas BPN. Kami semakin bertumbuh dalam persiapan pernikahan kami. Kami mendapatkan nilai-nilai kekudusan, kesepakatan, keterbukaan, komunikasi dan kami mempraktekkannya dalam hubungan kami.

2011 – Waktu KemuliaanNYA Dinyatakan
(Astri menulis)
Hari itu datang juga. Persiapan teknis yang panjang selama dua tahun hanya untuk satu hari, hehe. Dari H-1, aku tidak bisa tidur semalaman. Setelah selesai dirias, aku menuju gedung tempat aku akan diberkati dalam pernikahan yang kudus. Acara pemberkatan pernikahan kami dimulai tepat waktu. Aku masuk ke ruangan di dampingi papaku. Sedangkan, Ronald menungguku di depan altar. Saat berjalan ke arah altar, aku seakan tidak percaya akan menikah dengan sahabatku sendiri. Sahabat yang mungkin ketika pertama kali bertemu tidak sedikit pun terbersit dalam benakku akan menjadi suamiku.
(Ronald menulis)
Begitu memasuki ruangan, dadaku sesak dan nafasku tercekat. Baru pertama kali aku merasakan sensasi seperti ini. Rasa haru mulai terasa dan Aku terus melangkah, tanpa mengkhawatirkan apa saja yang akan terjadi nanti. Aku melangkah ke depan dan berdiri menanti pasangan hidupku, Astri, yang masuk diantar oleh ayahnya, tanda penyerahan anaknya yang terkasih kepada calon suaminya untuk resmi dinikahkan oleh Gereja.

(Astri menulis)
Aku berjalan mantap, semantap jawaban “YA” ku ketika gembala nikah menanyakan kesediaanku menjadi isteri Ronald. Kami mengucapkan janji pernikahan kami di hadapan Allah, keluarga kami dan para jemaat untuk saling setia dan menerima satu sama lain dalam kondisi apapun sampai selamanya.

(Ronald menulis)
Setelah janji pernikahan selesai kami ucapkan, dilanjutkan dengan pemakaian cincin dan doa berkat dari gembala pernikahan. Di momen ini aku sudah tak kuasa menahan air mataku. Selama didoakan air mataku mengalir deras tanpa dapat kumengerti kenapa. Aku percaya urapan Tuhan turun atasku untuk bisa menjadi suami yang berkenan di hati Tuhan. Setelah doa selesai, kami lanjutkan dengan perjamuan kudus sebelum wedding kiss.

(Ronald dan Astri menulis)
Wedding kiss kami merupakan ciuman kami yang pertama sejak kami bertemu. Kami bahkan menulis di souvenir pernikahan kami, my first kiss is my wedding kiss. Statement ini bukanlah sekedar kata mutiara bagi kami, tapi sebuah visi. Sebuah visi yang kami persembahkan untuk kemuliaan Tuhan, untuk menunjukkan pada semua orang bahwa kekudusanmu berharga di mata Tuhan dan itu mungkin untuk dilakukan. Kami punya mimpi bahwa anak kami nanti, baik itu pria maupun wanita, akan menghargai kekudusan dan menjaga first kiss dengan pasangannya hingga hari pernikahan, dan mereka memiliki teladan yang pertama, yaitu orangtuanya.
Allah sungguh menyatakan kemuliaanNYA atas komitmen yang dituntaskan oleh Ronald dan Astri dengan “First Kiss” yang mereka nyatakan dalam Pernikahan Kudus. Kehidupan keluarga ini saat ini menerima begitu berlimpah-limpah anugerah Tuhan juga atas Ethan, anak yang dikaruniakan oleh Tuhan.

“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” 2 Taw 16:9a
(Ronald & Astri jemaat Abbalove Depok)

2019-10-11T11:18:38+00:00