//Nias adalah Tanah Perjanjian Kami

Nias adalah Tanah Perjanjian Kami

Sejak bertobat pada tahun 1986, saya tertanam dan bertumbuh di Abbalove Ministries untuk melayani sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan yakni hamba Kristus dalam kasih persaudaraan. Pada tahun 1996, saya merasa bahwa ada suatu panggilan khusus untuk memberkati Indonesia, khususnya di Nias. Memang visi ini membutuhkan waktu yang lama, kira-kira 10 tahun. Pada saat Gelombang Tsunami melanda Aceh dan Nias pada Desember 2004 serta gempa bumi pada Maret 2005, saya pergi ke Nias untuk mempelajari banyak hal di sana. Akhirnya kami putuskan untuk pergi dan tinggal di Nias secara tetap bersama seluruh keluarga.

Image

Memang visi membutuhkan proses yang panjang dan bahkan seakan-akan “Mati.” Tetapi karena percaya bahwa panggilan ini berasal dari Tuhan, maka saya bersedia untuk taat. Kira-kira 10 tahun lalu, saya bersama isteri pergi ke Nias dan di sana saya merasa Tuhan berbicara, “Aku mau, suatu saat kamu ada di tempat ini untuk melakukan tugas yang Aku percayakan kepadamu untuk memberkati Nias.” Karena hanya impresi di dalam hati, saya membiarkannya tidak terusik selama 10 tahun. Lalu, Tuhan menuntun saya untuk melihat secara jelas kondisi gereja-gereja dan keadaan masyarakat di sana.

Hal ini membuat saya sadar bahwa Tuhan telah memperlengkapi saya sesuai bakat dan talenta yang saya miliki. Talenta ini muncul dari kerinduan dan pengalaman bersama Tuhan, di mana Ia mengajar saya tentang apa yang akan saya lakukan di ladang misi. Ternyata saya temukan banyak hal yang dilakukan Tuhan untuk mempersiapkan diri saya dan keluarga untuk menjadi misionaris. Saya sadar bahwa untuk menjadi misionari, maka kita harus memiliki visi / panggilan dan skill / keahlian. Hidup kita adalah menjadi berkat dan misi kita adalah menjangkau dunia ini bagi Yesus.

Memang untuk meninggalkan area kenyamanan dan usaha yang saya bangun selama 20 tahun serta rumah yang bagus, dan meninggalkan keramaian Jakarta dengan fasilitas pendukung yang memadai, tidaklah mudah. Tetapi karena kerinduan untuk menggenapkan janji Tuhanlah, yang mengalahkan segala keinginan pribadi. Kami berani meninggalkan semua ini bukan karena kami kuat, tetapi karena kami mengejar panggilan Tuhan di dalam hidup kami. Panggilan Tuhan begitu kuat sehingga daya tarik yang lain pun pelan-pelan hilang. Sekarang kami harus taat atau tidak sama sekali. Kemuliaan yang disediakan Tuhan lebih besar dari apapun yang ditawarkan oleh dunia.

Ibu Aprilin berkata, “Saya bergumul selama satu tahun tentang sekolah anak-anak dan menghadapi intimidasi orang tua yang tidak setuju dengan ide gila kami untuk datang ke Nias. Sejak suami melontarkan ide ini, saya terus bergumul begitu lama untuk melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Maksudnya, agar jika terjadi sesuatu di Nias, kami tidak akan saling menyalahkan. Setiap kali suami bertanya pada saya, maka saya jawab bahwa saya belum mendengar suara Tuhan. Visi itu belum lahir di dalam hati saya. Tiba-tiba suami saya menyentak saya dengan kata-kata: Kalau begitu kita tunggu sampai 5 atau 10 tahun lagi baru Tuhan berbicara kepada kamu. Lalu Tuhan berbicara kepada saya tentang Tanah Perjanjian. Kata “Tanah Perjanjian” membuka roh saya untuk melihat apa yang tidak terlihat selama ini. Apa yang Tuhan berikan sebagai Tanah Perjanjian harus diambil, apapun resiko dan harga yang harus dibayar. Tuhan bertanya: Berapa besar yang kamu ingin lihat. Hal ini membuat saya ketakutan untuk membayangkan tantangan Tuhan tersebut. Ketika saya putuskan untuk taat, maka semua kekhawatiran dan beban berat yang mengikat saya selama ini lenyap seketika entah ke mana. Hanya ada sukacita di dalam hati saya dengan langkah yang ringan.“

Sebagai penerima visi, maka visi saya sudah jelas yakni Melahirkan Generasi Baru di Nias untuk Memberkati dan Mengubah Nias. Dengan kata lain: Nias mengalami transformasi karena Kerajaan Allah datang di Nias. Untuk itu, ada 4 hal utama yang akan saya kerjakan:

  • Jalur Rohani. Saya percaya bahwa kami tidak bisa mengerjakan sendiri, tanpa dukungan rekan-rekan yang lain. Saya akan fokuskan untuk bagaimana membangun kerohanian yang menang di dalam Tuhan dengan cara menjadikan murid: berkotbah, mengajar SPK dan pemuridan lainnya.
  • Jalur Jasmani. Kami juga menggabungkan dengan pelayanan jasmani untuk menjawab kebutuhan mereka. Saya menyebut pelayanan ini sebagai 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Maksudnya adalah kita memberdayakan masyarakat dengan membuka lapangan kerja bagi mereka. Nias adalah daerah yang tanahnya subur dan banyak ikan harus diolah demi memenuhi kebutuhan mereka. Ini yang disebut pemberdayaan ekonomi masyarakat.
  • Jalur pendidikan. Sebenarnya anak-anak mereka pintar, tetapi karena tidak ada fasilitas belajar yang memadai, makanya mereka ketinggalan.
  • Jalur Kesehatan. Masalah terbesar di Indonesia adalah kemiskinan dan kekurangan gizi. Hal ini hanya dapat dicegah melalui penyuluhan kesehatan masyarakat yang memadai. Untuk visi Tuhan inilah, maka pada tanggal 8 Januari 2007 ini, kami sekeluarga pindah ke Nias untuk tinggal di sana.
Image

Senta Leo sekeluarga : Senta Leo, Aprilia Naulie, Abigail Marcia Leo (9 thn) dan Michele Abiah Leo (7 thn)
2019-10-02T11:42:44+00:00