//Not Complete without U

Not Complete without U

Ting! Notifikasi ponselku berbunyi. Rupanya ada pesan masuk dari salah seorang sahabatku, Nisa.

“Hey! Sabtu ini pergi ice-skating yukk!” 

Ini sudah kali ketiga Nisa mengajakku untuk hangout bersama. Biasalah, hangout saat weekend sudah menjadi kebiasaan yang wajar di kalangan pertemananku. Ajakkannya yang pertama dan kedua sebelumnya sudah kutolak langsung karena urusan pelayananku di gereja, dan kali ini sebenarnya aku sudah siap untuk menolak lagi. Sambil aku melamun memikirkan mengapa Nisa seakan merasa harus hangout setiap weekend, tiba-tiba… Ting! Ting!

“Jangan bilang kamu pelayanan lagi…”

“Buat apa sih pelayanan terus? Kamu mau jadi pengurus gereja? Atau malah pendeta? Lol”

Aduh, harus kujawab apa pesannya ini? Bukannya aku tidak mau pergi bersamanya, aku juga penasaran apa rasanya bermain ice-skating, tetapi aku tidak mau bolos pelayanan dan ibadah. Sejujurnya muncul rasa takut dan khawatir untuk menolak ajakannya yang ketiga kali ini; aku takut disebut “si paling pengurus gereja” atau “si paling pendeta”. Hmm… Aku punya ide! Aku ajak saja si Nisa ke gereja bareng?

“Sa! Gimana kalau Sabtu ini kamu ikut aku gereja? Selesai urusan di gereja, kita langsung pergi ice-skating”, tanyaku membalas pesan Nisa.

“Hah? Gak dulu deh, aku bisa ibadah sendiri kok… Lagian kalau perginya habis selesai kamu ibadah, nanti kesorean”, balas Nisa.

Astaga! Aku baru ingat, Nisa ‘kan biasanya ibadah onlinestreaming dari YouTube. Dulu sebelum pandemi Covid, Nisa sempat tertanam di gereja lamanya. Oh! Dia dulu pelayanan sebagai usher.  sejak adanya pandemi, Nisa jadi gak pelayanan lagi karena gak bisa ke gereja. Ibadahnya pun jadi online sampai sekarang ini, padahal gerejanya sudah membuka ibadah on site. Aku denger-denger sih, Nisa udah nyaman ibadah online, jadi males buat pergi ibadah dan pelayanan on site lagi. ‘Duh, ini gak bisa dibiarin!

 

Guys, sayang banget lho, kalau kamu nggak tertanam di gereja! Kamu akan kehilangan banyak manfaat dan kesempatan dari persekutuan bersama saudara seiman kalau kamu nggak tertanam di gereja. Sejak adanya pandemi Covid, dunia internet berkembang dengan sangat pesat. Segala sesuatu dapat dilakukan secara online, termasuk bergereja. Ibadah dapat dilakukan hanya dengan menatap layar pada ponsel atau laptop, bahkan sempat muncul ibadah secara metaverse. Bukannya bersekutu langsung dengan bertemu teman-teman seiman, dengan adanya teknologi, kita jadi bisa bergabung bersama teman virtual di ruang ibadah virtual juga. Keren sih, tetapi pertumbuhan rohani kita tidak akan maksimal dengan cara ini. Sayangnya, banyak remaja Kristen yang terjebak dalam “gereja online” ini dan tidak lagi berniat untuk kembali bersekutu langsung dengan komunitas teman-teman seiman.

 

Sebetulnya, teknologi internet memang baik dan berguna dalam segala hal. Kita dapat melakukan segala sesuatu dengan lebih fleksibel dengan adanya internet. Namun, di Efesus 2:13-14 tertulis, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” Dengan kematian Kristus di kayu salib, kita telah beroleh identitas baru setelah lahir kembali, yaitu “anak Allah”, dan setiap orang yang menerima Kristus dan lahir baru, telah dilahirkan juga menjadi anggota keluarga Allah yang perlu bersekutu secara langsung dengan saudara seiman dalam Tubuh Kristus. Apa persekutuan Tubuh Kristus itu? Gereja. “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan,” (Ef. 2:19-21).

Dalam konteks komunitas baru, kita adalah kawan sewarga Kerajaan Allah dan sesama anggota keluarga Allah. Ibarat sebuah bangunan yang tersusun dari banyak batu bata yang kokoh, kita masing-masing adalah salah satu dari batu bata itu dan kita semua rapi tersusun di posisi yang tepat menjadi Bait Allah. Artinya, kita masing-masing punya peran dan fungsi penting dalam Tubuh Kristus. Tuhan telah memberikan kita masing-masing kemampuan khusus dan karunia yang berbeda-beda, untuk saling membangun dan melengkapi anggota yang lain. Keberadaan kita yang menetap di dalam komunitas gereja menjadi berkat bagi sesama anggota komunitas itu dan menyalurkan berkat Tuhan melalui mereka bagi kita. Karena itulah, penting sekali untuk bisa tertanam dan berkomitmen bertumbuh dalam gereja lokal tempat kita masing-masing berada.

 

Pertanyaannya, lalu apa saja yang harus kita lakukan sebagai anggota Tubuh Kristus? Pertama, persekutuan dengan saudara seiman. Pernah mendengar kata “komsel”? Kata ini versi pendek dari “komunitas sel”, yang adalah komunitas berisi beberapa orang seiman yang berbagi hidup bareng untuk bertumbuh di dalam Kristus dan “saling”: saling mengasihi, saling membangun, saling menguatkan, saling menegur, saling mendengarkan, dan lain-lain. Di komunitas inilah kita semakin diperlengkapi menjadi anggota yang berkontribusi dalam Tubuh Kristus. Kedua, melayani. Melayani merupakan sikap hidup mendasar yang harus kita jalani sebagai pengikut Kristus. Melayani bukan hanya berarti kita ikut mengerjakan pelayanan yang langsung terkait acara-acara ibadah saja, lho… Melayani bisa dan harus kita lakukan dengan karunia masing-masing: memimpin sebuah tim, mengatur makanan, mengarahkan teman yang sedang stuck, memberi ide, mendoakan, dan banyak lagi lainnya. Kita perlu paham bahwa melayani tidak terbatas di gedung gereja saja, tetapi harus kita lakukan juga di lingkungan dan komunitas sehari-hari. Ini berkaitan dengan hal yang ketiga, menjangkau. Menjangkau berarti kita datang kepada orang-orang yang belum kenal Kristus dan menolong mereka dengan cara apa pun sesuai karunia kita dan sesuai tuntunan Tuhan agar mereka jadi mengenal Kristus. Tertanam di gereja lokal membuat kita semakin diperlengkapi untuk menjangkau keluar. Setiap murid Kristus, kita masing-masing, dipanggil untuk menjadi penjala manusia, dan kita tidak bisa melakukannya seorang diri. Kita memerlukan komunitas untuk bergerak dan melayani bersama. Inilah anggota Tubuh Kristus yang maksimal!

 

Ingat ya, teman-teman… Jangan sampai kita menjadi seperti Nisa yang terperangkap dalam zona nyaman kesendirian dan kesenangan pribadi. Nisa memang tetap menolak untuk kembali ke gereja, tetapi semoga kita yang mengerti pentingnya tertanam di gereja lokal tetap hidup tertanam dalam komunitas gereja itu. Kalau kalian masih ada di zona nyaman tetapi sekarang sadar tidak bisa bertumbuh dengan maksimal, pastikan kalian mengambil komitmen untuk bersama-sama bersekutu langsung dan menetap dalam gereja lokal. Dan, kalau kalian belum memiliki gereja lokal untuk bertumbuh, segera cari teman Kristen di sekitar kalian yang siap mengajakmu bergabung, lalu mulailah bergereja dengan dia!

Each of us has a special place in the church community, and “CHURCH” is not complete without “U”!

2023-07-28T10:21:56+07:00