//(Not) Doomsday Preppers

(Not) Doomsday Preppers

Setahun lalu, tepatnya di tahun 2017, beredar sebuah berita perkiraan kiamat terjadi di bulan September 2017. Rumornya, kiamat akan terjadi akibat bumi bertabrakan dengan sebuah planet yang tidak diketahui, sebut saja Planet X. Pemerintah Rusia kabarnya bahkan membangun sebuah bunker untuk menampung 40 juta rakyatnya agar selamat, lengkap dengan pelatihan situasi darurat yang dilakukan bagi seluruh rakyat.

Meskipun sebenarnya rumor tentang hari kiamat ini sudah berulang kali muncul dan beredar (tetapi sejauh ini tidak ada yang sungguh-sungguh terjadi), tetap saja manusia berbondong-bondong melakukan persiapan—baik untuk menyelamatkan diri di bumi, maupun untuk menyelamatkan diri di akhirat. Saking hebatnya, sebuah stasiun TV di Amerika Serikat membuat sebuah reality show yang mendokumentasikan persiapan kelompok ini dalam menyambut kesudahan zaman. Mereka menyebut diri mereka kelompok Doomsday Preppers. Mulai dari membuat ruang bawah tanah, penyimpanan makanan hingga puluhan tahun, belajar pertanian, mengumpulkan senjata api, dan sebagainya. Semua ini dilakukan bukan hanya oleh individu, melainkan juga sekeluarga, termasuk anak-anak mereka yang sejak kecil sudah ditanamkan bahwa bumi akan hancur dalam waktu dekat. Setidaknya, itulah yang mereka percayai tentang akhir zaman: bahwa persiapan dalam menghadapi hari-hari yang kelam sangatlah penting. Bahkan, sebagian besar di antara mereka percaya hal itu lebih penting daripada menikmati hari-hari sekarang.

Yang jelas, memang benar bahwa semakin dekat kita kepada kesudahan zaman, akan semakin gelap bumi ini. Bagaimana tidak, yang jahat semakin jahat, bahkan kasih benar-benar menjadi dingin. Bencana alam, gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan sebagainya menjadi pemberitaan lazim sehari-hari. Belum lagi, kondisi ekonomi semakin menantang dan menekan, kekerasan dan kejahatan yang mengkhawatirkan diberitakan dimana-mana. Wajar saja, sebagai manusia, tentu kita terdorong untuk bersiap-siap menghadapi kesusahan yang bisa datang kapan saja.

Sebenarnya di tengah-tengah “kewajaran” itu, sebagai orang percaya yang mengenal Yesus, fokus kita yang benar bukanlah pada kekelaman dan hari-hari yang gelap tersebut. Kita adalah gereja-Nya, mempelai-Nya. Bagi kita, akhir zaman seharusnya bukan dipenuhi dengan ketakutan dan kengerian, tetapi dengan semangat dan sukacita. Bagaimana tidak, setelah sekian lama akhirnya kita bertemu langsung dengan Kekasih Sejati kita. Bayangkan betapa rindunya Yesus kepada kita! Ia tidak bisa membiarkan kita berjalan dalam kegelapan sendirian. Ia telah mengirimkan Roh Kudus kepada kita, supaya Ia bisa tetap hadir dalam hidup kita meskipun tubuh fisik-Nya tidak. Ia dan terang-Nya tetap hadir—present– dalam dunia yang kelam: “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia,” (Yoh 9:5). Ya, Firman Allah dan Roh Kudus tetap ada dalam dunia, dalam hidup kita yang percaya kepada Yesus. Saat ini, nanti, bahkan sampai kesudahan bumi ini, Ia tetap ada. Justru kitalah yang sering kali absen dari kehadiran-Nya. Kita sibuk mengurusi kegelapan untuk diri sendiri, menyiapkan korek api demi korek api supaya tidak terlalu gelap, lupa kepada sumber terang itu sendiri.

Hari-hari yang kita jalani Tuhan adakan dengan segenap rencana yang khusus, spesial untuk kita nikmati. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari. Kita diundang untuk ‘menghadiri’ momen-momen ketika Tuhan akan menunjukkan diri-Nya, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun; ‘Menghadiri’ kemacetan karena ternyata Tuhan ingin bicara dengan kita, ‘menghadiri’ curhatan seorang teman karena ternyata Tuhan ingin kita menyatakan isi hati-Nya, ‘menghadiri’ perintah atasan karena Allah ingin bekerja lewat ketaatan kita, dan sebagainya. Ia Allah yang bahkan menginisiasikan kehadiran-Nya, sejak Yesus lahir dan Ia disebut Imanuel: Allah beserta kita. Dapatkah kita melihat inisiasi kehadiran-Nya ini?

Undangan untuk kita ‘hadir’ dalam hadirat-Nya memang sering kali lebih sulit saat dilakukan, entah kita tidak terbiasa melakukannya atau kita biasanya melakukan sebaliknya: meminta Tuhan hadir dalam kehendak kita. Alhasil, kita berfokus pada apa yang kita lihat, bukan pada apa yang Tuhan lihat. Sayangnya apa yang di depan mata kita adalah hal-hal yang fana, kita belum dapat melihat hal-hal yang kekal, sehingga kehendak dan rencana kita pun dihasilkan dari kefanaan juga. Akibatnya, kita tidak terhindar dari kekhawatiran dan ketakutan akan hari esok sebagai dasar perencanaan kita. Padahal, justru dalam hari-hari yang kelam itulah kita perlu Terang Dunia, yang bukan hanya akan memberikan kita cahaya, tetapi juga bagi mereka di sekeliling kita yang memerlukan-Nya.

Kabar baiknya, undangan tersebut baru setiap hari. Kasih Allah kepada kita begitu besar, Ia tetap dan selalu ingin spend time dengan kita supaya kita beroleh pengenalan akan Dia sebanyak dan sedalam mungkin. Ia ingin hidup kita bersumber pada kasih dan terang-Nya, bukan sebagai orang-orang yang gentar, tetapi sebagai kekasih Kristus yang berlari menyambut kedatangan-Nya karena, tentu saja, kita mengenal Dia.
Persiapan kita bukanlah untuk menghadapi gelap dan kelamnya dunia, sebab terang Kristus telah ada dalam kita. Kita bukanlah bagian dari para Doomsday Preppers. Persiapan kita justru adalah untuk menyatu dengan terang Kristus itu. Ia ada di dalam kita dan kita ada di dalam Dia; kita dan Dia saling hadir dalam setiap kehadiran-Nya. Mari kita mempersiapkan diri setiap hari untuk be present—hadir dan terlibat dalam kehadiran Allah di hari-hari terakhir ini, sebab kalau bukan kita yang membagikan kasih dan terang-Nya yang nyata, siapa lagi?

2019-10-11T10:43:50+00:00