//Now you see me …

Now you see me …

Di akhir abad ke-16, Isaac Newton mempresentasikan pemikiran yang baru soal cahaya. Anggapan yang umum di saat itu mengatakan cahaya adalah gelombang, tetapi di hadapan Royal Society, perkumpulan elit para filsuf dan fisikawan terkemuka, Newton menyatakan bahwa cahaya bukanlah gelombang, melainkan partikel.

Royal Society menolak pemikiran Newton, sementara seiring dengan waktu pengaruh Newton sebagai ilmuwan yang revolusioner makin membesar dan banyak ilmuwan percaya bahwa cahaya adalah partikel. Cahaya adalah elombang atau partikel pun menjadi perdebatan para ilmuwan selama ratusan tahun, sampai Einstein membuktikan bahwa cahaya memiliki sifat sebagai partikel sekaligus gelombang. Nobel untuk Einstein.

Suatu malam ketika saya siswa SMA dan saya sedang mengerjakan tugas sekolah, ayah memberikan perintah, “Bereskan kembali semuanya setelah kamu selesai.” Perintahnya cukup mudah; tetapi setelah menghabiskan sepanjang hari mengerjakan alat peraga untuk tugas presentasi di lantai ruang tamu, saya tidak punya tenaga lagi untuk meletakkan semua benda kembali ke tempat asalnya. Meja dan sofa yang digeser demi memberi ruang untuk menggelar gulungan karton pun akhirnya masih harus sabar menunggu sampai besok pagi untuk dikembalikan ke posisi semula. Saya memutuskan untuk langsung membenamkan diri di tempat tidur dan membungkus badan dengan selimut; dan semua berjalan dengan nyaman sampai saya terbangun karena merasa gerah. Kamar gelap gulita dan tidak ada cahaya sama sekali bahkan dari luar jendela. “Mati listrik,” saya mengambil kesimpulan dalam kondisi belum sepenuhnya sadar. Menyebalkan sekali, karena saya sudah terlalu lelah untuk beraktivitas tetapi terlalu gerah untuk bisa tidur. Setelah perdebatan panjang sendirian dalam batin dan semakin menipisnya udara segar di dalam kamar, dengan berat hati saya membawa diri turun dari tempat tidur. Menuju pintu kamar tidaklah sulit walaupun keadaan gelap, tetapi saat keluar dari kamar, kelingking kaki saya menabrak meja. Saya berteriak dengan keras, hingga ayah terbangun. Dengan senter, ayah keluar dari kamarnya dan melihat ruang tamu yang masih berantakan. “Syukurin, makanya kalau disuruh, kerjakan,” kata ayah dengan gaya sarkasme yang khas. Bagai wasit tinju di akhir pertandingan, ayah mengangkat tangan dan berseru, “Pemenangnya adalah… meja!”
————————-

Rasul Yohanes menulis, “Allah itu adalah terang, di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan,” (1 Yoh. 1:5b). Dengan meminjam sifat cahaya, dia menjelaskan secara metafora perbedaan hidup di dalam Tuhan dan di luar Tuhan, yang sangat kontras. Terlepas cahaya/terang itu partikel atau gelombang atau keduanya, sudah pasti cahaya/terang tidak bisa disatukan dengan gelap. Kegelapan bukanlah lawan dari cahaya, melainkan sebuah kondisi ketika cahaya tidak hadir. Ketika cahaya hadir, muncullah terang dan kegelapan pun sirna. Tuhan tidak bisa disatukan dengan dosa. Ketika kita mengizinkan Tuhan menerangi hidup dan hati kita, kegelapan sirna: dosa menjadi terlihat dan Bapa akan mengampuni serta menyucikan kita. Inilah mengapa kita perlu senantiasa hidup di dalam terang dan bersekutu dengan Tuhan, supaya kegelapan tidak menguasai kita. “Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, tetapi kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran,” (1 Yoh 1: 6).

Lalu, bagaimana caranya untuk hidup di dalam Tuhan? Sederhana: melakukan perintah-Nya, “Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia,” (1 Yoh. 3:24). Apa perintah-Nya itu? Selain mengasihi Dia dengan segenap hati dan hidup kita, perintah Tuhan adalah agar kita mengasihi orang lain, “Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya,” (1 Yoh. 2:11). Hidup dalam kegelapan, dalam versi sangat sederhana, adalah seperti pengalaman saya tadi yang bagai orang buta karena berada dalam kondisi mati listrik di tengah malam tanpa cahaya sedikit pun, sehingga tidak dapat melihat apa pun dan justru bisa tertabrak berbagai benda. Itulah dampaknya hidup di luar Tuhan, yaitu hidup di dalam kegelapan. Jika kita tidak mengikuti perintah-Nya, misalnya tidak mengasihi orang lain, kita hidup dalam kegelapan. Jika kita terus-menerus mengabaikan perintah-Nya, terus-menerus bertahan pada sikap hati yang tidak mau mengasihi, pada akhirnya kegelapan akan membutakan kita. Kita kehilangan daya penglihatan dalam mata batin atau mata rohani kita: yang salah akan terasa benar dan yang benar terasa tak nyaman, yang menyimpang terasa lurus dan yang lurus justru terasa aneh. Secara rohani, kita tersesat.

Tanpa cahaya, meja yang diam dapat menyakiti saya dengan begitu dahsyat hingga sanggup melumpuhkan langkah saya untuk sekian menit. Dengan cahaya dari senter, saya bisa dengan mudah melihat meja dan semua benda di ruang tamu yang belum saya bereskan, sehingga langkah saya tidak terantuk atau tertabrak lagi. “Now you see me,” kata si meja kira-kira kalau dia bisa berbicara. Dia tidak lagi berbahaya seperti ketika dia tertutup oleh kegelapan. Seperti itulah dosa. Kalau tetap disembunyikan dalam gelap, dia akan menyakiti, melukai, membahayakan, bahkan melumpuhkan kita. Namun kalau terlihat karena terang, dia akan kehilangan kemampuan untuk menyakiti, melukai, membahayakan, dan melumpuhkan kita. Kuncinya adalah mengizinkan cahaya itu, terang itu, masuk ke dalam hati dan hidup kita, dengan kita hidup bersekutu dengan dia dan mengikuti perintah-Nya.

Sama seperti mempelajari cahaya itu partikel atau gelombang atau keduanya dengan pendekatan pengetahuan atau teori saja justru membuat kita bingung bertahun-tahun, yang kita perlu lakukan bukanlah mempelajari teori-teori tentang terang Tuhan itu sebagai pengetahuan belaka. Yang kita perlu lakukan adalah memanfaatkan cahaya itu untuk menerangi hidup kita, sehingga kita berhenti kebingungan, karena segala sesuatunya menjadi jelas terlihat. Dengan cara inilah kita akan mengalami bahwa “…kematian Yesus di kayu salib membuat dosa (dan kegelapan) tidak lagi memiliki kuasa,” (Roma 6:10-14).

Mari terus setia hidup di dalam terang dengan melakukan perintah-perintah Tuhan, dan jangan rela tertipu oleh dosa yang tersembunyi di dalam gelap. Bawalah senantiasa hati dan hidup kita ke terang Tuhan dan biarkan dosa-dosa itu terlihat, lalu terimalah pengampunan dan pengudusan-Nya. Selanjutnya, bertobatlah dan nikmati kemenangan karena terang itu. “Now you see me,” kata si dosa.

2019-10-11T10:59:02+07:00