///“Oh…NO…..anakku sudah punya pacar !!”

“Oh…NO…..anakku sudah punya pacar !!”

Pada usia Pratama (6-9 tahun), biasanya mereka mulai memilih teman-teman yang cocok dengan mereka. Alasannya beragam, karena hobby, kesukaan yang sama, sifat yang sama, dan sebagainya. Mereka sering interaksi karena alasan-alasan ini, ditahap ini hubungan mereka masih disebut persahabatan. Tahap berikutnya, biasanya mereka mulai membuat kelompok dengan teman-teman yang dianggap cocok, bisa disertai ketertarikan secara emosi dan unsur romantis. Setelah melewati masa penjajakan dalam kelompok, biasanya mereka akan memisahkan diri berdua.

Mengapa anak remaja berpacaran? Ada 8 alasan yang biasanya dinyatakan oleh mereka:
1. Untuk status, tidak jomblo, biar keren…
Beberapa remaja, mengikuti teman-teman supaya statusnya tidak jomblo. Ada juga kebanggaan tersendiri buat anak remaja yang sudah punya pacar,merasa punya status yang lebih tinggi. Biasanya mereka sangat bangga kalau di fb (facebook) atau bb (blackberry) foto statusnya berdua dengan “gacoan”-nya.

2. Teman curhat
Orang tua yang tidak membangun hubungan dengan anak sejak dini, menyebabkan anak lebih suka curhat ke teman daripada ke orang tua. Apalagi anak remaja menemukan teman curhat lawan jenis yang sesuai dengan dambaannya, mungkin perhatian yang tidak bisa diberikan orang tua, kasih sayang, komunikasi yang tepat.

3. Mendongkrak rasa percaya diri
Beberapa remaja percaya bahwa mereka memiliki identitas diri yang lengkap, waktu mereka punya pacar. Sehingga mereka menjadi lebih percaya diri, karena mungkin kebutuhan “diakui” didapat dari pacarnya. Lihat saja di mal-mal, bagaimana para ABG dengan gayanya bangga seperti di film-film drama Korea berduaan dan “gelendotan” seperti …….. (tahu sendiri..kan).

4. Sebagai teman kencan
Punya teman waktu berpergian, teman mengobrol, teman nongkrong.

5. Untuk motivasi belajar
Menjadi termotivasi dalam belajar? Mimpi kali…. Karena bagaimana bisa fokus belajar lagi, jika yang dibayangkan hanya pacarnya saja.

6. Tempat pelampiasan kasih sayang
Lebih tepat bukan kasih sayang tapi lebih ke arah pemuasan kebutuhan emosi yang didapat lewat pacaran.

7. Ikut trend
Karena semua teman-teman seusianya melakukan hal yang sama. Supaya terlihat ‘gaul’ banyak anak remaja yang mengikuti trend ini.

8. Penjajakan sebelum menikah.
Ada yang beranggapan bahwa masa pacaran sebagai masa penjajakan, masa saling mengenali sebelum pernikahan. Tapi mau berapa lama penjajakannya kalau dari SMP dah pacaran?

Apa yang bisa dilakukan orang tua terhadap anak Teenager (remaja) atau Tween yang akan dan sudah berpacaran. Bagaimana menemani mereka yang berpacaran?
1. BERDOA
Inilah senjata utama para orang tua, karena melalui doa sepakat kedua orang tua, maka akan ada kuasa:
* Mengungkapkan dosa yang dibuat anaknya dalam berpacaran (Maz 119:71)
* Membangkitkan rasa benci terhadap dosa (Maz 97:10)
* Perlindungan dari si jahat dalam setiap bidang kehidupan mereka (spiritual, emosi dan fisik) Yoh 17:15
* Menyadarkan akan sikap hormat kepada orang-orang yang berwenang di atas mereka (Rom 13:1)
* Menyadarkan akan perlunya mencari teman-teman yang benar (1 Kor 15:33)
* Memagari sehingga mereka tidak bisa menemukan jalan ke arah orang-orang tidak benar atau tempat-tempat yang salah dan supaya supaya orang-orang yang tidak benar tidak menemukan jalannya kepada mereka (Hosea 2:6).

2. BERDIALOG
Hal-hal yang perlu dikomunikasikan kepada anak remaja atau yang sudah beranjak akan remaja (tween):
a. Komunikasikan nilai-nilai keluarga: berpacaran dengan pasangan yang seiman, cara berpakaian waktu pergi, pengertian seks.
b. Buat aturan dalam membina hubungan:
Misal:
– Tidak berpacaran sampai usia tertentu, atau sampai cukup dewasa untuk bertanggungjawab.
c. Apa tujuan berpacaran (yaitu: jika sudah yakin akan menikah), kapan waktunya berpacaran.
d. Menghindari tindakan yang mengarah pada keinginan seksual lebih lagi seperti berpegangan tangan, merangkul, berciuman, dan tindakan lain yang mengarah pada keinginan seksual.
e. Hindari tempat yang hanya berduaan.
f. Bersedia memberitahu kemana mereka pergi, jam berapa harus pulang.

3. TEMANI
* Terus menjalin komunikasi yang terbuka, menjadi pendengar yang baik selain menjadi coach buat anak remaja atau yang beranjak remaja.
* Jika anak belum cukup dewasa untuk berkencan, maka orangtua harus mengarahkan anak untuk memutuskan hubungan, dan temani waktu masa-masa sedih setelah putus.

Jane Norman & hy (01/14)

 

2014-01-21T04:35:31+07:00