///Oleh Bapa, Menjadi Bapa

Oleh Bapa, Menjadi Bapa

Sebutan “Bapa” untuk Allah umum digunakan oleh orang-orang percaya sebagai penanda eratnya atau akrabnya hubungan antara orang-orang percaya dengan Allah. Hal ini bukan sekadar pengakuan yang tanpa dasar, melainkan sebutan yang jelas tertulis dalam Firman Tuhan dari ajaran langsung Yesus sendiri selama di bumi. Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa kepada Allah dengan memanggil Allah “Bapa kami”, dan Yohanes, murid yang paling dekat dengan Yesus, menegaskan bahwa barangsiapa yang percaya kepada Yesus dan menerima-Nya akan disebut anak-anak Allah. Kita, setiap orang percaya, memang adalah anak Allah, dan Allah adalah Bapa kita.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya,” kata Yohanes 1:12 (TB). Demikian pula dikatakan di 1 Yohanes 3:1 (TB), “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

Kita disebut sebagai anak Allah, kita menyebut Allah sebagai Bapa, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, melainkan justru karena anugerah yang kita terima dalam Yesus Kristus melalui iman kepada pengorbanan-Nya bagi kita. Mengapa kita dijadikan anak Allah? Untuk tujuan apa Allah menjadi Bapa kita? Supaya kita mengalami kasih Bapa yang sejati dan sempurna, sehingga kita pun mampu menjadi bapa bagi sesama dengan kasih-Nya itu. Agar maksud dan tujuan ini sungguh-sungguh tercapai, ada beberapa prinsip kebenaran yang perlu kita perhatikan.

 

 

Oleh kasih Bapa, kita mampu dan perlu menjadi bapa bagi sesama meski situasi kita tidak ideal

Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir,” (Kej. 45:8, TB). Yusuf diperlakukan tak adil oleh saudara-saudaranya dan harus menanggung penderitaan sebagai budak dan orang suruhan di negeri asing sendirian, tetapi kasih Bapa membuatnya mengalami proses yang membawanya menjadi bapa bagi seluruh negeri asing, bahkan juga memberkati kembali saudara-saudara yang telah menyakitinya.

 

Menjadi bapa bukanlah urusan gender, melainkan fungsi kehidupan

Seperti Allah sebagai Bapa yang sempurna dalam kasih-Nya kepada kita, demikianlah kita belajar untuk menjadi bapa dengan kasih-Nya yang sempurna itu bagi sesama kita. Ini bukan berlaku hanya bagi gender laki-laki saja. Perempuan pun dikasihi dan dijadikan anak Allah, maka mampu berfungsi menjadi bapa bagi sesama (meski lebih lazim disebut “ibu rohani”). Menjadi bapa bukanlah urusan gender, melainkan fungsi kehidupan kita. Bapa adalah sumber kehidupan anaknya: sumber kebenaran, rasa aman, rasa damai sejahtera, teladan dan panutan, berkat dan kemakmuran, iman dan kepercayaan diri, pertolongan dan penghiburan, arahan dan tujuan, otoritas dan integritas, keadilan dan ketegasan, kasih agape dan ketulusan serta pengharapan dan kepastian. Fungsi-fungsi kehidupan inilah yang perlu kita salurkan, oleh kasih Allah Bapa yang telah lebih dahulu kita alami, kepada sesama di sekitar kita. Matius 5:48 (TB) menegaskannya, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

 

Kegagalan kita berfungsi menjadi bapa bagi sesama adalah luka yang bisa dan perlu dipulihkan

Sering kali, kita gagal menjadi bapa bagi sesama karena berbagai faktor. Jika kita amati dengan jujur dan lebih jelas, faktor-faktor itu pada intinya adalah luka yang kita alami karena mendapati gambar bapa di dunia yang “rusak”, yaitu tidak merepresentasikan fungsi seorang bapa yang seharusnya seeperti Allah Bapa. Luka ini bisa terjadi karena bermacam-macam masalah: sakit hati anak kepada orang tuanya, rasa tertolak dari orang tua, rasa kepahitan kepada orang tua, dan banyak lagi. Hati yang terluka ini lalu menjadi hambar dan tidak hormat terhadap orang tua, menyimpan kemarahan serta kebencian, bahkan jahat dan mendendam kepada orang tua. Akibatnya, kita tidak mempunyai gambaran yang benar tentang sosok bapa yang baik, sehingga sulit bagi kita untuk menjadi bapa bagi sesama. Untuk memulihkannya, orang yang terluka ini harus mendapatkan dan mengalami kasih Bapa yang sejati dari Allah.

 

 

Tiga keputusan penting untuk mengalami kasih sejati dari Allah Bapa sehingga kita bisa menjadi bapa bagi sesama:

  1. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat

Memiliki Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat adalah langkah awal yang harus diambil. Yesus telah tuntas berkorban bagi kita dan menjadi jalan keselamatan bagi kita; kita hanya perlu menerimanya dengan iman percaya. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi akan menjadikan seseorang anak Allah (Yoh. 1:12). Tidak ada cara lain; hanya mereka yang telah menjadi anak Allah-lah yang dapat mengalami memiliki Bapa Sejati di dalam Kristus. Kristus, Allah sendiri, menjadi Sumber kebenaran dan kehidupan bagi kita sebagai anak-Nya, seperti yang dikatakan Firman di Yohanes 14:6 (TB), Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Mengalami kasih Bapa yang sejati adalah satu-satunya cara untuk kita bisa menjadi bapa bagi sesama.

 

  1. Mengampuni orang tua dan berdamai dengan mereka

Salah satu fungsi bapa adalah sumber damai sejahtera. Bagaimana mungkin kita bisa berfungsi sebagai bapa bagi sesama jika kita sendiri masih tidak hidup dalam damai sejahtera bersama bapa (orang tua) kita sendiri? Itulah sebabnya kita harus mengampuni orang tua kita dan berdamai dengan mereka. Memang orang tua kita bukanlah orang tua yang sempurna, bahkan mungkin telah menyakiti hati kita dengan amat parah, tetapi sadarkah kita bahwa kita juga bukanlah anak yang sempurna? Lukas 11:4 (TB) berkata, “…dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Tuhan tidak hanya mengampuni kita; Dia juga mengajar kita untuk mengampuni sesama, termasuk orang tua kita sendiri.

 

  1. Rela menjadi Bapa bagi sesama

1 Korintus 4:15 (TB) menegur kita semua yang tidak mau menjadi bapa bagi sesama, “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” Menjadi bapa bagi sesama membutuhkan kerelaan untuk mengambil tanggung jawab dan berfungsi dalam hubungan yang terus-menerus. Ambillah tanggung jawab itu dan mulailah berfungsi dengan rela, agar banyak orang mengalami kasih Bapa melalui hidup kita.

 

Mari tetap tinggal dalam hubungan kasih yang sempurna dengan Bapa surgawi dan setia dibapai oleh bapa-ibu rohani kita, lalu menjadi bapa bagi sesama. Dunia membutuhkan kasih Bapa, pengampunan dan tuntunan Bapa, melalui kita. Jadilah perwujudan kasih Bapa di dunia yang gelap ini.

2023-01-27T13:13:35+07:00