(Sekali Lagi tentang Suara Tuhan)
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita semua tentu tidak terlepas dari berbagai aktivitas rohani seperti berdoa, menyembah Tuhan, membaca Firman, mencari petunjuk Tuhan saat kebingungan, meminta penghiburan Tuhan saat kecewa, memohon kekuatan dari Tuhan saat khawatir, dan banyak lagi lainnya. Karena itu, penting sekali bahwa kita memahami cara mendengar suara Tuhan.
Ada dua hal yang perlu kita pastikan agar kita bisa mendengar suara Tuhan:
- Hati kita telah disucikan oleh darah Yesus
Kalau hati kita masih sering tertuduh, terintimidasi, penuh ketakutan dan rasa bersalah, pasti kita kesulitan untuk mendengar suara Tuhan. Solusinya, kita harus menerima kebenaran dan percaya dengan iman bahwa orang yang percaya kepada Kristus dan mengaku segala dosanya di hadapan-Nya telah disucikan. Bahkan, Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian-Nya di kayu salib ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Kalau Anda sudah melewati proses ini, hati Anda telah disucikan oleh darah Yesus. Itulah sebabnya, Anda bisa berinteraksi dengan Allah secara pribadi. Dan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah,” menurut Matius 5:8. Melihat Allah ini berarti juga mendengar suara Allah, dan ini bukan dengan pancaindra jasmani melainkan dengan pancaindra rohani. Kita semua yang hatinya telah disucikan oleh darah Yesus bisa mendengar suara Tuhan.
- Bergaul karib dengan Allah membuat kita mengenali sifat Allah
Bergaul karib artinya memiliki kedekatan yang luar biasa, termasuk bisa mencurahkan apa pun isi hati secara bebas dan jujur. Bergaul karib dengan Allah pun demikian. Kita begitu dekat dengan Dia hingga kita dapat menyampaikan apa pun isi hati kita tanpa ada rasa sungkan meskipun tetap dengan rasa hormat. Kedekatan yang terus kita bangun sampai kita benar-benar mengenal sifat Allah yang kita kasihi dan hormati. Kesadaran akan hadirat dan penyertaan Tuhan setiap saat akan membuat kita memiliki rasa takut yang benar akan Allah. Kita sering membaca dalam Alkitab bagaimana tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Nuh, Elia, Ayub, Daud, bergaul karib dengan Tuhan dan mendengar suara Tuhan sampai mereka benar-benar memahami bagaimana sifat Allah. Bahkan, Tuhan Yesus sendiri pun bergaul karib dengan Bapa. Kita patut melakukannya pula supaya bisa mendengar suara-Nya sampai mengenali sifat-Nya. Mazmur 25:14 berkata, “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Di Yohanes 10:14, 27 pun Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai gembala dalam konteks pengenalan yang sangat akrab dengan domba-domba-Nya, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
Dua fondasi ini penting sekali sebagai jaminan bahwa kita bisa mendengar suara Tuhan. Selanjutnya, ada beberapa kriteria yang menolong kita untuk mengenali suara yang kita dengar sebagai suara Tuhan, berdasarkan petunjuk Firman-Nya:
- Suara Tuhan tidak pernah bertentangan dengan Firman Tuhan yang tertulis di Alkitab. Suara Tuhan pasti tertulis di Alkitab, jadi kalau kita mendengar suara yang melawan atau bertentangan dengan Firman Tuhan, berarti itu bukan suara Tuhan.
- Suara Tuhan bisa datang melalui sesama atau suatu situasi. Tuhan bisa berbicara lewat hal apa pun, termasuk dalam situasi ketika kita berdoa bersama dalam komunitas. Tuhan juga bisa berbicara melalui hamba Tuhan atau sahabat satu komunitas saat dalam persekutuan, atau dalam situasi-situasi yang lain. Jagalah hati yang terbuka untuk mendengar suara Tuhan melalui hal apa pun, asalkan sesuai dengan Firman-Nya di dalam Alkitab.
- Suara Tuhan selalu untuk kepentingan Kerajaan Allah. Apa saja kepentingan Kerajaan Allah itu? Kerajaan Allah berbicara tentang empat hal yaitu damai sejahtera, kebenaran, sukacita dan kuasa dari Roh Kudus. Jika suatu suara menghasilkan hal-hal yang berlawanan dengan kepentingan-kepentingan Kerajaan Allah, itu bukanlah suara Tuhan.
- Suara Tuhan menyasar pertobatan untuk manusia kembali kepada rencana Allah yang semula. Mungkin kita atau saudara seiman sedang menyimpang dari jalan Tuhan, maka suara Tuhan pasti bertujuan untuk membawa kita kembali kepada Tuhan dan menggenapi rencana Tuhan atas hidup kita.
- Suara Tuhan bisa bertentangan dengan keinginan hati kita, bahkan tidak masuk di akal logika pikiran kita. Keinginan kita cenderung menuntut untuk dipenuhi, tetapi suara Tuhan bukan untuk memenuhi keinginan kita tetapi kerinduan Tuhan atas kita.
- Suara Tuhan diteguhkan oleh saudara-saudari seiman yang dewasa dalam iman dan hamba Tuhan yang sudah bisa menjadi teladan dalam melakukan Firman. Suara Tuhan tidak pernah eksklusif kita dengar sendirian tanpa peneguhan sama sekali.
- Suara Tuhan tidak berubah-ubah, tetapi selalu konsisten ke arah kebenaran yang memerdekakan. Suara Tuhan tidak membingungkan, tetapi menuntun dengan jelas.
- Suara Tuhan muncul ketika kita bertanya atau ketika Tuhan ingin menyampaikan pesan kepada kita. Kita bisa bertanya kepada Tuhan mengenai apa yang terjadi, atau Tuhan ingin menyampaikan pesan kepada kita, maka Dia akan berbicara (2 Tim. 3:16).
- Suara Tuhan disempurnakan oleh waktu Tuhan (kairos). Ini berarti titik momentum pertemuan antara kehendak Tuhan dan waktu-Nya yang tepat. Kalau kita sudah mendengar suara Tuhan tetapi waktunya belum tepat, kita perlu sabar menanti kairos Tuhan.
- Suara Tuhan adalah inspirasi Roh Kudus yang tinggal di dalam imajinasi kita, bukan asumsi subjektif atau angan-angan hampa semata. Suara Tuhan selalu berdampak bagi kepentingan yang bersifat objektif dan menjadi berkat bagi sesama pula.
Sudahkah Anda terbiasa mendengar suara Tuhan? Ingat, Dia adalah Bapa kita. Bapa mau kita melakukan kehendak-Nya, maka Bapa mau kita tahu kehendak-Nya, dan
Bapa siap memampukan kita untuk mengerti, mengetahui, dan mengenali kehendak-Nya dengan mendengar suara-Nya setiap saat.