///Orangtua yang Krisis Otoritas (2/2)

Orangtua yang Krisis Otoritas (2/2)

 

6. “Jika saya menuntut ketaatan dari anak-anak saya, bukankah itu akan menghambat kepercayaan diri mereka?”

Sebagian orangtua berpendapat bahwa anak yang dipaksa untuk mematuhi aturan akan terhambat pertumbuhan emosinya, bahkan dapat mengalami kelainan saraf karena kepercayaan dirinya menjadi lemah. Namun sebenarnya, faktanya ialah mengatakan kebenaran pada diri sendiri dan menaatinya dalam tingkah laku dan perkataan merupakan dasar penting untuk memperoleh kepercayaan diri yang sehat. Bukankah firman Tuhan dalam Yohanes 8:32 pun berkata, ”…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”? Ini berarti bahwa dengan hidup taat kepada kebenaran, segala gambar diri yang salah akan terlepas dengan sendirinya.

Jadi, jika anak saya belajar untuk patuh dan melakukan apa yang benar, sambil saya tetap menunjukkan penghargaan dan memberi dorongan, ia akan mempunyai kepercayaan diri yang sehat dan benar, daripada jika saya membiarkan ia melakukan apa saja yang ia kehendaki tanpa mendorongnya taat kepada kebenaran.

 

7. “Jika saya memaksakan keinginan-keinginan dan standar tertentu kepada anak-anak saya, mereka akan sulit belajar tentang apa yang benar dan salah.”

Prinsip yang menyesatkan ini mengatakan bahwa anak-anak perlu dibiarkan menemukan sendiri apa yang salah dan apa yang benar tanpa harus ditetapkan standar yang jelas. Inilah yang disebut sebagai moral relatif, karena salah atau benar sebuah tindakan menjadi tergantung sepenuhnya pada siapa yang memandangnya. Sayangnya, bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa orangtua harus selalu bersikap positif dan jangan pernah bersikap negatif, di antaranya dengan membuang semua kata “jangan” dalam mengajar anak.

Firman Tuhan jelas menegaskan dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” dan Pengkotbah 7: 20 pun melanjutkan “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”. Ini menunjukkan bahwa jika anak kita diberikan kebebasan memilih, sudah pasti yang dipilihnya adalah perbuatan dosa yang meruntuhkan karakter Kristus dalam dirinya.

Jadi, saya mempunyai hak, bahkan kewajiban, untuk menekankan agar anak-anak saya memilih untuk bertindak benar daripada yang salah. Untuk inilah saya menerima tanggung jawab sebagai orangtua!

 

8. “Saya tidak tahan jika anak-anak sedih atau marah kepada saya. Jika mereka jengkel, berarti mereka tidak menyenangi saya, dan ini berarti saya bukanlah orangtua yang baik bagi mereka.”

Banyak orangtua selalu berusaha mencegah anak-anaknya mempunyai perasaan negatif terhadap mereka. Maafkan saya, tetapi Anda perlu menyadari bahwa Anda menjadi orangtua bukan untuk sebagai ajang aktualisasi atau pendongkrak popularitas diri anda! Orangtua tidak selalu perlu disukai atau disenangi oleh anak-anaknya. Sebaliknya , anak-anak harus diajar untuk menghormati orangtua mereka, karena ini adalah pelatihan bagi mereka untuk menghormati orang lain dan menghormati Tuhan di seumur hidup mereka. Itulah sebabnya dalam Efesus 6:1-2 terdapat sebuah janji yang berharga bagi setiap anak: “Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” Maka, jika kita sebagai orangtua menolak untuk mendidik anak-anak kita agar menghormati orangtuanya, sebenarnya tanpa disadari kita turut ambil bagian untuk membuat masa depan mereka menjadi suram.

Jadi, tanamkan di dalam diri Anda, “Saya dapat tahan jika anak-anak marah terhadap saya. Saya tidak selalu harus mendapatkan persetujuan mereka. Namun saya harus mengajar mereka untuk menghormati dan menaati mereka yang mempunyai otoritas.”

 

9. “Jika saya menghukum anak-anak, saya sedang memperlakukan mereka dengan semena-mena. Saya dengar bahwa setiap bentuk hukuman adalah penyiksaan dan orangtua hanya boleh menggunakan metode-metode positif untuk mendidik anak-anaknya.”

Ada perbedaan yang sangat besar, yang tidak selalu disebutkan para ahli, di antara hukuman dan perlakuan semena-mena. Ada perbedaan di antara rasa sakit yang dirasakan anak dari didikan dan dari pelampiasan emosi orangtuanya. Tentu saja, tidak dapat dibenarkan jika Anda menghukum anak-anak hanya untuk memuaskan keinginan membalas atau melampiaskan emosi Anda yang tengah bergejolak.

Kami menganjurkan untuk menggunakan hukuman jika diperlukan. Hukuman – memukul pantat misalnya – tidak sama dengan siksaan. Firman Tuhanpun memberikan panduan tentang hal ini dalam Amsal 13:24, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” Mengapa demikian? Amsal 22:15 menjelaskannya lebih lanjut, “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.”

Jadi, hukuman yang pada tempatnya bukanlah perlakuan semena-mena. Saya tidak boleh menggunakan hukuman untuk melampiaskan kemarahan atau untuk membalas, tetapi saya wajib memberlakukan hukuman yang sehat dan selalu dengan penguasaan diri. Ingat, ini selalu untuk kepentingan dan pendidikan anak-anak kita sendiri.

 

10. “Tidak ada anak nakal, yang ada adalah orangtua yang tidak baik. Jika saya menghukum, anak-anak akan mengira bahwa mereka adalah anak-anak yang nakal.”

Jika manusia pada dasarnya baik, kita sebagai orangtua tidak perlu mengontrol atau membentuk karakter anak-anak. Banyak ahli saat ini berpendapat bahwa masalah-masalah yang ada pada diri anak-anak berawal dari kesalahan dalam masyarakat dan aturan sosial. Mereka menganut pandangan bahwa individu, khususnya anak-anak, pada dasarnya polos dan baik. Istilah yang sering kita dengar yang menunjukkan pemahaman ini adalah “seperti bayi yang tidak berdosa”, padahal, apakah benar bayi yang lahir atau dalam rahim ibunya adalah mahluk suci dan tanpa dosa?

Mazmur 51:7 sangat tegas menyatakan, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Anak-anak sudah memiliki benih dosa sejak di dalam kandungan dan sejak dilahirkan. Mereka memerlukan koreksi. Orangtua yang tidak mendisiplin sebenarnya tidak sepenuhnya mengasihi anak-anak mereka, tetapi mementingkan diri sendiri, sebab yang mereka prioritaskan adalah kenyamanan emosi dan pribadi mereka sebagai orang tua.

Jadi, saya sendiri memang tidak akan memberi label ‘negatif’ kepada anak-anak, tetapi saya tahu bahwa mereka mempunyai potensi untuk bertingkah laku buruk dan bahwa mereka kadang-kadang berbuat dosa dan memerlukan koreksi dari saya sebagai orangtua.

(disadur dari buku “Menjadi Orangtua yang Berwibawa”, karya William & Candace Backus, terbitan Immanuel)

2015-10-21T07:41:44+07:00