//Own Up (擔起責任)

Own Up (擔起責任)

How many years have I become a Christian? I remember it’s more than 20 years, even almost 30 years… Nevertheless, most of the time I still don’t understand what He means in things. Often, I just don’t hear His voice, and even when I know He speaks, I don’t get what He says. This gets worse whenever I’m in my difficult times. I don’t know what to do, the problems get me even more tangled. It’s tragic to see that during almost 30 years of being a Christian, I’ve been attending the worship services and hear the sermon regularly, involved in various ministries, in touch with my fellow Christians, who by the way, are always eager to do activities together with me… Funnily enough, a lot of friends I know also experience the same phenomenon; most from us are dozens of year old Christians, we think we know Jesus, but also tend to fail to recognize He’s there and understand his purpose for our lives. In the middle of troubles and difficulties, we usually tell each other and ask each other to pray for us or even be with us physically. Those are our relief. Afterward when we’re alone again, we usually get back to the state of distress. The troubles are still there, we’re now more frustrated, and we can’t feel God is there. Such a tragedy that really made me think long and hard…

我成為基督徒多少年了? 据我記起超过20多年,甚至快30年了……可是,我好像還是常常不明白神的意思,是嗎? 我經常聽不到祂說話的聲音,但即使我知道祂在說話,我也常常不明白祂的話,尤其是當我正處於許多問題或頭痛之中時。 看來,我還是不知道該怎麼辦,反而越陷越深。 事實上,近30年來,我一直很勤奮地參加教堂禮拜和聽道,參加各種事奉,有信仰的兄弟姐妹和我一起興奮地活動……有趣的是,我的很多朋友也經歷同樣的奇境; 我們中的大多數人幾十年來一直是基督徒並且認識耶穌,但往往無法認識到祂的存在並理解他對我們生活的目的。 在遇到問題和困難時,我們通常會講述经历,祈求信仰朋友的陪伴,然後我們會感到更加寬慰。 一個人回來後,我們每個人都再次感到壓力。 問題不會解决,我們會越來越沮喪,我們感覺不到神的存在。 於是我苦思冥想,怎麼會啊? 嗯……

Sudah berapa tahun saya menjadi orang Kristen? Seingat saya, lebih dari 20 tahun, bahkan hampir 30 tahun… Namun, rasa-rasanya kok saya masih sering tak mengerti maksud Tuhan, ya? Sering saya tak mendengar suara-Nya berbicara, tetapi kalau pun saya tahu Dia berbicara, ucapan-Nya itu sering tak saya pahami maksudnya, apalagi saat saya berada di antara banyak masalah atau kepusingan. Sepertinya, saya tetap tak tahu harus berbuat apa, dan justru terjebak makin berlarut-larut dalam masalah. Padahal, selama hampir 30 tahun ini, saya selalu rajin datang ke kebaktian di gereja dan mendengar khotbah, ikut melakukan berbagai macam pelayanan, punya saudara-saudari seiman yang heboh berkegiatan bersama saya… Lucunya, banyak teman saya juga mengalami keanehan yang sama; kebanyakan dari kami sudah puluhan tahun menjadi orang Kristen dan mengenal Yesus, tetapi cenderung gagal mengenali Dia ada dan mengerti maksud-Nya bagi hidup kami. Di tengah-tengah masalah dan kesulitan, kami biasanya bercerita dan minta didoakan serta ditemani oleh teman-teman seiman, lalu kami merasa lebih lega. Setelah kembali sendirian, kami masing-masing biasanya jadi stres lagi. Masalah tidak selesai, kami makin frustrasi, dan kami tidak bisa merasakan Tuhan ada. Saya jadi berpikir keras, kok bisa, ya? Hmmm…

 

Do you have the same experience? Do you know God speaks but always rely on other people and church activities for consolation in your situation?

你有沒有像我一樣經歷過,知道神在說話,但總是依靠其他人和教會活動來安慰你的處境?

Pernahkah Anda mengalami seperti yang saya alami ini, tahu Tuhan berbicara tetapi selalu mengandalkan orang lain dan kegiatan gereja untuk menjadi penghiburan dalam situasi Anda?

 

In our journey as a Christian, many of us are used to relate with God through church activities together our fellow believers. Unknowingly, we become dependent on those activities and togetherness for our relationship with God; we miss to notice that our spirit has lost personal connection with God. When life gets uncomfortable, things become not so nice, our relationship with God is disturbed and we lost contact with Him. Then, we look around and blame others for all that: the songs in the service were too hard, the worship leader seems to be not anointed enough, the preacher spoke about something totally unrelated to my needs, friends in the small group were less than caring, my closest friend didn’t even pray for me, etc.  As you read this, maybe this sounds weird, but unfortunately this is where many of us are.

在基督徒的旅程中,我們中的許多人習慣於與信仰中的兄弟姐妹通過教會活動與神聯繫。 无意之中,我們經常依靠這些活動和聚會來與神建立聯繫,所以我們沒有或沒有足夠重視我們與神的個人屬靈關係。 當我們生活中發生不好的事情,我們與神的關係被平扰,甚至好像我們暫時失去了聯系,然後如果我們與神的關係再次不好,我們就會尋找並責怪别人:崇拜的歌曲太難了,敬拜領头人以 “缺乏恩膏” 為由,傳道人提供的主題不能滿足需求,小組中的朋友不够關心,有信心的朋友祈禱不夠,以及許多其他的原因……。 當你閱讀這篇文章時,這種事情可能看起來很奇怪,但不幸的是,這就是我們許多人的状況。

Dalam perjalanan kekristenan, banyak dari kita terbiasa berhubungan dengan Tuhan melalui kegiatan-kegiatan gereja bersama saudara-saudari seiman. Tanpa sadar, kita sering mengandalkan kegiatan dan kebersamaan itu untuk berhubungan dengan Tuhan, sehingga tidak atau kurang memperhatikan hubungan roh kita secara pribadi dengan Dia. Saat hal-hal tak enak terjadi dalam hidup kita, hubungan kita dengan Tuhan pun terganggu, bahkan seolah hilang kontak sementara, lalu kita mencari-cari dan menyalahkan pihak-pihak lain jika hubungan kita dengan Tuhan belum kunjung terasa enak kembali: lagu-lagu di kebaktian terlalu sulit, pemimpin penyembahan memimpin dengan “kurang berpengurapan”, pengkhotbah yang menyampaikan topik yang tidak menjawab kebutuhan, teman-teman di komsel yang kurang peduli, sahabat seiman yang kurang mendoakan, dan banyak alasan lainnya…. Saat Anda membaca tulisan ini, mungkin hal semacam ini terkesan aneh, tetapi sayangnya inilah kondisi banyak dari kita.

 

 

During His life of ministry on earth, Jesus called each of His twelve disciples with the call “come, follow Me”; we know this as it is recorded in the Gospels. Jesus did not put up a public announcement in the town square or spread news through the people He meet in the market about the apprenticeship vacancy. Jesus personally and directly called Simon a.k.a. Cephas, Andrew, James son of Zebedee, John, Philip, Nathanael, Matthew, Thomas, James son of Alphaeus, Simon the Zealot, Judas a.k.a. Thaddeus, and Judas Iscariot; inviting them each to follow Him. No single one of Jesus’s disciples followed Him because another disciple had made him to. In the discipleship journey after the call, Jesus then taught those disciples both as a group and one by one.

耶穌在地上服事期間,呼喚祂的十二個門徒,對他們每個人都說 “跟從我”。 這在福音書中有記載。 耶穌沒有在廣場上張貼公告,也沒有通過他在市場上遇到的人傳播關於神的門徒職位空缺的消息。 耶穌稱西門(別名磯法)、安得烈、西庇太的兒子雅各、約翰、腓力、拿但業、馬太、多馬、亞勒腓的兒子雅各、奮銳黨的西門、猶大(別名達太)和加略人猶大; 通過親自和直接邀請他們每個人跟隨他。 由於其他門徒的脅迫,沒有門徒跟隨耶穌。 然後,在他們跟隨耶穌的旅程中,耶穌以小組的形式教導他們很多,也與他們單獨交談。

Saat melayani dalam kehidupan-Nya di bumi, Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dengan panggilan “ikutlah Aku” kepada mereka masing-masing. Ini tercatat dalam kitab-kitab Injil. Yesus bukan memasang pengumuman di alun-alun atau menyebar kabar lewat orang-orang yang Dia jumpai di pasar tentang lowongan untuk menjadi murid-Nya. Yesus memanggil Simon alias Kefas, Andreas, Yakobus bin Zebedeus, Yohanes, Filipus, Natanael, Matius, Tomas, Yakobus bin Alfeus, Simon orang Zelot, Yudas alias Tadeus, dan Yudas Iskariot; dengan secara pribadi dan langsung mengajak mereka masing-masing untuk mengikut Dia. Tidak ada murid yang ikut Yesus karena paksaan murid lainnya. Lalu, dalam perjalanan pengikutan mereka kepada Yesus, Yesus banyak mengajar mereka secara berkelompok maupun berbicara secara pribadi kepada mereka masing-masing.

 

And so is our own journey of Christianity as Jesus’s disciples. The longer we know God, actually we should be having more personal relationship with Him and knowing Him deeper. It is simple one characteristic trait of a spiritually mature person. Nothing is wrong with having fellowships as a group and be in a community, whatever it is called; but depending on the group or activity to “guarantee” the quality of our relationship with God is wrong. Each of us should have a personal relationship with God, while also enjoying togetherness with each other gathering as a group to meet God. Any two people who know each other well will relate and connect directly and personally, without the need of any intermediary person, despite occasional togetherness with others. If we cannot sense God’s existence without our community group or our church activity, it’s a strong sign that we are spiritually immature, childish, uncapable to have our spiritual needs met on our own. Instead, we tend to demand that others take care of our spiritual needs. If this sounds like you, regardless of how long you have been a Christian (probably for years or even dozens of years), you’re right to be worried that you are spiritually stagnant.

今天我們這些耶穌的門徒也是如此。 我們跟隨神的時間越長,我們就應該與他有更多的個人接觸並親自認識祂。 這是神信徒屬靈成熟的特徵之一。 社區團契並沒有錯,無論它是什麼形式或名稱; 如果我們依賴團體團契作為我們屬靈成長的保證,那就錯了。 我們每個人都應該與神建立個人關係,並在與神相遇時享受彼此的陪伴。 私底下非常了解的兩方當然是直接接觸的,不必有其他方的中介,儘管有時會有其他方參與。 如果我們在獨處時無法感知到神的存在,我們在靈性上其實還是小孩子,無法保證自己的需要得到滿足,只忙著要求別人滿足我們的需要。 如果這些事在我們的基督教年代相對成熟(幾年、幾十年,甚至幾十年)時發生的情況,我們應該懷疑我們屬靈的成長已經停滯了。

Demikian pula halnya dengan kita, murid-murid Yesus saat ini. Makin lama kita mengikut Tuhan, sebenarnya sepantasnya kita jadi makin banyak berhubungan pribadi dengan Dia dan mengenal Dia secara pribadi. Inilah salah satu ciri kedewasaan rohani pengikut Tuhan. Tidak ada yang salah dengan persekutuan dalam komunitas, apa pun bentuk dan sebutannya; yang salah adalah kalau kita mengandalkan persekutuan kelompok itu sebagai penjamin pertumbuhan rohani kita. Kita masing-masing sudah seharusnya punya hubungan pribadi dengan Tuhan, selain juga menikmati kebersamaan satu sama lain dalam berjumpa dengan Tuhan secara berkelompok. Dua pihak yang saling mengenal baik secara pribadi tentu berhubungan langsung dan tanpa perantaraan pihak lain, meskipun kadang melibatkan pihak lain. Kalau kita tidak bisa menangkap keberadaan Tuhan saat sendiri, kita sebenarnya masih anak kecil secara rohani, yang tidak mampu hidup memastikan kebutuhannya sendiri terpenuhi dan hanya sibuk menuntut orang lain memenuhi kebutuhan kita. Kalau ini yang terjadi sementara usia kekristenan kita sudah relatif dewasa (sekian tahun, belasan tahun, atau bahkan puluhan tahun), patutlah kita curiga bahwa pertumbuhan rohani kita mandek.

 

 

Let’s do a little self-check now. Have we owned up to neglecting our responsibility to tend to our personal relationship with God? Or, perhaps and if we have become stagnant in our spiritual growth, is it true that we have been accustomed to demand our fellow believers and the church activities to provide us with the presence of God?

讓我們檢查一下自己。 我們是否已為我們與神的個人關係負責? 又或者,我們寧願要求別人和教會為我們 “保證” 神的存在,我們的屬靈成長也就停滯不前了嗎?

Mari periksa diri kita masing-masing. Sudahkah kita mengambil tanggung jawab dalam urusan hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan? Atau, jangan-jangan kita telanjur mandek dalam pertumbuhan rohani karena lebih suka menuntut orang lain dan gereja agar “menjamin” keberadaan Tuhan bagi kita?

 

 

Today, I (and hopefully you, too) realize that we are simply not a spiritual child anymore. It’s no longer a time for us to depend on anyone and anything for our personal relationship with God. We need to start taking up our responsibility and own it, to work on the process of spiritually growing by actively connecting to God; taking special time to communicate personally with Him in prayers and contemplation on His word, every day. In owning up to this previously neglected responsibility we will experience a personal journey of spiritual growth. Any spiritually mature person is not one who are always spoonfed and served in their spiritual needs, but one who bears responsibility to work on and maintain their personal relationship with God. From this very relationship spiritual fruit is produced: maturity in character, wisdom in decisions and actions, clear direction in serving others out of personal gifting, and real impacts from everything that is done. Remember that knowledge and personal relationship with God are the most valuable treasure above everything; worthy to strive for and nurture with all our strength. Whatever we need for having the best life in Him is provided in that treasure.

今天,我(希望你也是)意識到我們不再是孩子了。 現在不再是我們依靠教會活動或团契領导的事工來接觸神的時候了。 我們需要在變得更加成熟並積極建立自己與神的關係的過程中保持獨立:每天花特別的時間在禱告中與祂個人溝通,並默想祂的話語。 這是我們每個人的責任,最終決定了我們個人的心靈旅程和成長。 一個屬靈成熟的人不是一個總是在屬靈需要上得到服侍和被餵養的人,而是一個負責尋求和維持他與神的個人關係的人。 從與神的個人關係中結出果子:品格的成熟、決策和行動的引導、根據恩赐服務的指導,以及所做的一切的影響。 請記住,認識神,我們與祂的個人關係,是在一切之上最寶貴的財富; 那麼值得嘗試和守護我們的存在。 根據神的旨意,我們過上最好的生活所需要的一切,都可以從我們對神的認識中獲得。

Hari ini, saya (dan semoga Anda juga) menyadari bahwa kita bukan anak kecil lagi. Bukan waktunya lagi kita mengandalkan perantaraan kegiatan gereja atau pelayanan pemimpin komunitas untuk berhubungan dengan Tuhan. Kita perlu mandiri dalam proses bertumbuh makin matang dan aktif membangun hubungan sendiri dengan Tuhan: mengambil waktu khusus untuk berkomunikasi pribadi dengan Dia dalam doa dan perenungan Firman-Nya setiap hari. Inilah tanggung jawab kita masing-masing, yang pada akhirnya menentukan perjalanan dan pertumbuhan rohani pribadi kita. Orang yang dewasa rohani bukanlah orang yang selalu dilayani dan disuapi dalam kebutuhan rohaninya, melainkan orang yang bertanggung jawab mengusahakan dan menjaga hubungan pribadinya dengan Tuhan. Dari hubungan pribadi dengan Tuhanlah lahir buah-buah: kematangan karakter, tuntunan untuk keputusan dan tindakan, arahan untuk melayani sesuai karunia, dan dampak dari segala yang dilakukan. Ingatlah bahwa pengenalan akan Tuhan, hubungan pribadi kita dengan Dia, adalah harta yang paling berharga di atas segalanya; maka layak untuk diusahakan dan dijaga dengan segenap keberadaan kita. Apa pun yang kita butuhkan untuk kehidupan yang sebaik-baiknya sesuai kehendak Tuhan tersedia dalam pengenalan kita akan Dia.

 

 

“For His divine power has bestowed on us [absolutely] everything necessary for [a dynamic spiritual] life and godliness, through true and personal knowledge of Him who called us by His own glory and excellence.” 2 Peter 1:3, AMP

神的神能已将一切关乎生命和虔敬的事赐给我们,皆因我们认识那用自己荣耀和美德召我们的主。 彼后1:3

Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. – 2 Petrus 1:3

2023-05-24T15:03:25+07:00