///Passion from the Inside

Passion from the Inside

Di suatu episode, para relawan hendak menyelamatkan seekor anjing jenis beagle yang ditemukan warga tergeletak di tengah jalan dengan kondisi mengenaskan. Hampir sekujur tubuhnya sudah tak berbulu, wajahnya penuh tumor tertutup oleh banyaknya luka, kakinya bengkok diduga karena tertabrak kendaraan, kulitnya penuh kutu, perutnya menggembung akibat cacing perut, serta matanya hampir buta akibat terkena hantaman benda keras. Sungguh menggetarkan hati tatkala para relawan berjuang sekuat tenaga untuk memulihkan kondisi sang beagle, sampai akhirnya sehat dan siap untuk diadopsi oleh keluarga baru. Dan, ini barulah salah satu dari sekian banyak kisah nyata yang menyentuh yang ditampilkan di acara ini.

Setelah beberapa minggu menjadi penonton setia acara tersebut, timbul keinginan dalam hati saya untuk ikut berperan dalam misi adopsi anjing, khususnya jenis pitbull. Pikiran pun berandai-andai, apakah saya sungguh akan melakukan hal tersebut? Apakah saya menyukai pitbull? Atau apakah saya adalah tipe penyayang anjing? Bukan!!! Sebenarnya saya pencinta kucing sejati. Bahkan, bisa dikatakan bahwa saya sedikit takut dengan anjing. Lho…[email protected]!!

Kejadian, pemahaman dan perenungan akan hal di atas tersebut membuat saya berpikir, bahwa kisah-kisah yang ditampilkan pada acara tersebut menggugah saya, dan pasti banyak orang pun akan berpikir demikian. Betapa para relawan bekerja tanpa henti dan memiliki passion yang meluap-luap dan menggerakkan mereka untuk melakukan hal-hal hebat bagi para anjing yang menderita. Namun, bagaimana tentang kisah mengenai penyelamatan jiwa yang terhilang dan terluka? Apakah hal-hal tersebut membuat hati kita tergugah setiap kali menyaksikan misi penyelamatan dan penjangkauan terjadi? Masihkah kita antusias ketika proses melakukan pekerjaan Bapa terjadi? Atau, apakah banyaknya dorongan semangat dan “ceramah” dari pengkotbah atau pemimpin gereja membuat hal-hal tersebut terkesan biasa, tak spesial, dan tak lagi menggetarkan hati? …

 

Passion from the inside, itulah motor penggeraknya.

Ketika sang relawan mau bersusah payah untuk menyelamatkan seekor anjing, bila dari dalam hatinya tidak ada passion “kecintaan akan anjing” semuanya tak mungkin dilakukan secara maksimal. Sama halnya dengan hidup kita, bila kita tak memiliki passion dari dalam – kecintaan pada Allah, pekerjaanNya menjadi hal yang hambar dan tak terlalu berarti. Kecintaan pada Allah inilah yang menggerakkan kita untuk selalu melakukan yang terbaik, bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, namun untuk memuliakan Tuhan. Hasilnya? Bukan hanya Tuhan disenangkan, tetapi ketika orang-orang yang tak mengenalNya (atau yang tak menyukai Dia) melihat hidup kita dan apa yang kita kerjakan, mereka tergugah dan percaya padaNya. Semua bersumber dari motor yang satu: passion oleh kasih Allah di dalam kita.

2016-08-25T08:45:09+07:00