/, Movement News/Penafsiran Alkitab Melintasi Zaman

Penafsiran Alkitab Melintasi Zaman

Sebelum mempelajari prinsip-prinsip umum penafsiran Alkitab, seorang penafsir Alkitab (artinya, kita masing-masing yang sedang terus belajar untuk semakin mengerti Firman Tuhan di dalam Alkitab) perlu mempelajari sejarah hermeneutika, karena pada dasarnya penafsiran dan penafsir tidak telepas dari pendahulunya.  Sejarah hermeneutika mengajar penafsir masa kini untuk bersikap rendah hati dan tidak mudah merasa puas serta senantiasa belajar. Sejarah Alkitab menunjukkan proses perkembangan penafsiran teks biblikal sejak zaman dahulu. Mari kita telusuri titik-titik pentingnya serta pola-polanya.

 

  1. Pola penafsiran kaum Yahudi

Pola ini muncul dan berkembang sejak zaman Ezra sampai zaman Tuhan Yesus. Kitab-kitab yang dikanon di tengah-tengah kaum Yahudi pada tahun 621 SM disebut Tanak, yang terdiri dari Torah dan Ketuvim.

Ezra hidup pada abad ke-5 SM; ia adalah ahli Taurat atau ahli kitab, yang dipandang sebagai pelopor penafsiran pada zaman itu. Pekerjaannya ialah mengajar dan menerjemahkan isi kitab-kitab, khususnya kitab Taurat, karena banyak orang Yahudi hanya menguasai bahasa Aram dan tidak mengerti bahasa Ibrani. Akibat banyak penindasan dan kebobrokan moral, mereka membutuhkan hiburan dan kekuatan ekstra dari Kitab Suci; dan di sinilah keahlian Ezra berperan. Pada tahun 323 SM, orang Yahudi berada di bawah kekuasaan Ptolemius I, yaitu jenderal yang diutus dari Aleksandria. Pada tahun 167 SM, mereka menikmati kebebasan pada masa Makabe, tetapi pada tahun 63 SM, bangsa ini dikuasai oleh orang Romawi. Hal ini menumbuhkan berbagai penafsiran yang tampak pada karya-karya sastra pada zaman itu. Beberapa karya sastra yang patut disebutkan adalah Septuaginta (LXX), karya Philo, gulungan naskah kitab Laut Mati, Targum, materi-materi Midrash, serta kitab Apokrifa dan Pseudepigrafa orang Yahudi.

Setidaknya, ada lima pola pendekatan penafsiran yang populer pada masa Yahudi-Romawi, yaitu penafsiran harfiah, midrash, pesher, alegoris, dan tipologi. Pola penafsiran kaum Yahudi berkembang sejak zaman Ezra kemudian bertumbuh menjadi kelompok penafsir yang khas pada abad pertama.

 

  1. Pola penafsiran Tuhan Yesus dan orang Kristen abad pertama

 Sebagian pendirian dan penafsiran Tuhan Yesus bisa dikenal lewat cara-Nya menafsirkan teks Kitab Suci Perjanjian Lama (PL), seperti:

  1. Tuhan Yesus percaya apa yang dicatat PL merupakan fakta sejarah.
  2. Tuhan Yesus banyak memakai penafsiran gaya pesher, harfiah, dan midrash; namun, tidak ditemukan contoh yang membuktikan pemakaian penafsiran alegoris oleh-Nya.
  3. Tuhan Yesus menolak praktik umum pada zaman itu yang sering mengganti Firman Allah dengan Tradisi.Yesus dan para penulis Perjanjian Baru (PB) mengambil sikap baru dalam penafsiran mereka. Diri Tuhan Yesus dan cara-Nya menafsir PL diterima orang Kristen sebagai sumber otoritas dan patokan untuk memahami Alkitab.

Berkenaan dengan penafsiran orang Kristen abad pertama, pembaca masa kini sering dirisaukan oleh kutipan teks PL yang dibuat penulis PB, yang isinya tidak persis sama dengan sumbernya. Sebenarnya, hal ini terjadi karena:

  1. pada zaman itu beredar beberapa versi terjemahan atau edisi Alkitab,
  2. penulis PB biasanya tidak mengutip isi di dalam teks PL secara kata demi kata,
  3. penulis-penulis PB betul-betul mengerti dan menguasai isi teks PL yang mereka kutip, sehingga bisa menuliskannya kembali dengan kata-kata mereka sendiri.

Kesimpulannya, penulis PB justru merupakan tokoh-tokoh penafsir yang setia dan hormat kepada teks PL.

 

  1. Pola penafsiran alegoris pada masa awal kekristenan

Walau orang Kristen masa awal mewarisi fondasi yang kukuh dari para rasul dan penulis PB, situasi di zaman itu tidak memungkinkan mereka mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Tenaga dan perhatian mereka terpaksa terfokus pada penganiayaan yang datang dari luar. Lagipula, semakin banyak penulis dan cendekiawan yang bergabung dengan agama Kristen saat itu mempunyai latar belakang Yunani. Ini menghasilkan pengaruh berupa pola penafsiran alegoris.

 

Beberapa fakta secara khusus mendorong gereja pada zaman itu untuk menerapkan pola penafsiran alegoris. Gereja ingin melawan ajaran bidah yang muncul, antara lain: Marcionisme. Marcion (100-165 M) adalah seorang pengajar bidah dari Asia Kecil yang mendirikan sektenya di Roma pada tahun 140 M. Ia menolak PL tetapi menerima sebagian isi kitab PB, dan ia tidak percaya bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia. Menurut penafsiran dan keyakinannya, sosok Pencipta yang ada di PL tidak sama dengan Allah Bapa yang diberitakan/diajarkan Yesus. Demi melawan ajaran bidah ini, bapa-bapa gereja banyak memakai penafsiran alegoris. Namun, secara bersamaan tanpa sadar mereka juga memakai penafsiran harfiah. Sebenarnya, ada unsur-unsur yang positif pada pola penafsiran alegoris, tetapi kelemahan penafsiran alegoris yaitu subjektivitasnya ialah sangat serius dan amat berpotensi menyesatkan.

  

  1. Pola penafsiran harfiah pada abad-abad pertama

Syukurlah, dunia penafsiran Alkitab pada abad-abad pertama tidak hanya dikuasai oleh penafsiran alegoris.  Ada beberapa tokoh yang tidak mengambil pendekatan alegoris, yaitu: Ignatius dari Antiokhia (35-107 M), Irenaeus (130-202 M), dan Polikarpus (70-155 M). Aliran Antiokhia-lah yang mengembangkan pola penafsiran tipologis yang lebih masuk akal terhadap PL, untuk menggantikan pola penafsiran alegoris. Mereka menekankan pentingnya penafsiran yang memperhatikan makna harfiah dan historis, bukan penafsiran yang subjektif.

 

  1. Pola penafsiran bapa-bapa gereja Latin dan abad pertengahan

Pada umumnya, para bapa gereja Latin tetap mengambil jalan tengah di antara aliran Aleksandria dan aliran Antiokhia. Mereka cenderung menekankan otoritas tradisi dan gereja dalam penafsiran Alkitab yang dilakukan oleh orang Kristen (anggota gereja).

 

  1. Pola penafsiran zaman Renaisans

Zaman reformasi dan pasca reformasi Renaisans ditandai dengan bangkitnya kembali perhatian pada kesusastraan klasik, berkembangnya kesenian dan kesusastraan baru, serta bertumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Perkembangan yang terjadi pada masa ini memberikan dua sumbangsih besar pada hadirnya pola penafsiran yang lebih sehat, dalam bentuk:

  1. pembaca Alkitab diajak untuk meninggalkan teologi dan hierarki gereja,
  2. bangkitnya perhatian baru terhadap karya sastra serta budaya Yunani dan Romawi.

 

Dengan latar belakang zaman Renaisans, khususnya humanisme, dimulailah Reformasi di bidang penafsiran kitab suci. Para tokoh reformasi menjadi terkenal dengan sikap mereka yang sangat menghormati Alkitab (paham Sola Scriptura). Menurut mereka Alkitab sendirilah yang menafsirkan isinya dengan tepat dan sempurna. Di antara mereka, dua orang tokoh reformasi patut dibahas lebih mendetail, yaitu Martin Luther (1483-1516 M) dan John Calvin (1509-1564 M). Mereka berdua menorehkan dampak luar biasa karena peran mereka di tengah-tengah situasi pasca reformasi, dengan berbagai perpecahan dan bermacam ajaran bidah dalam gereja, selain kesadaran masyarakat akan kekuatan rasional yang bertambah besar. Golongan bidah dan rasional makin mendapat angin pada akhir abad ke-18. Kekacauan di zaman ini akhirnya juga ditandai dengan berbagai usaha mencari salinan kuno yang lebih baik. Kaum terpelajar berusaha mengevaluasi dan mengklasifikasi salinan kuno PB, sedangkan penyelidikan PB terbentur kekurangan bahan.

  

  1. Pola penafsiran abad ke-19

Boleh dikatakan, pengaruh aliran rasionalisme mencapai puncaknya pada abad ke-19. Di mata kaum terpelajar dari aliran ini, Alkitab bukanlah kitab yang berotoritas. Dengan sikap mengandalkan rasio manusia, mereka giat mengkritik isi Alkitab dan inilah yang menjadi pola umum penafsiran mereka terhadap teks Alkitab.

 

  1. Pola penafsiran pada tujuh dekade pertama abad ke-20

Dalam kurun waktu tujuh dekade pertama abad ke-20, umat manusia mengalami perubahan yang dashyat. Sejumlah besar orang Kristen menaruh perhatian khusus kepada Alkitab dan merasa perlu menjalankan Firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Ini berdampak pada usaha yang sungguh-sungguh untuk mempelajari makna Alkitab dan menjadi pola penafsiran di masa ini. Apalagi, abad ke-20 juga ditandai dengan berkurangnya pengaruh gereja-gereja di Eropa serta bertambahnya sumbangsih gereja-gereja di Amerika Utara dan gereja-gereja di Asia, kemudian disusul Afrika, yang setahap demi setahap terus berperan lebih besar terhadap pembelajaran dan pertumbuhan iman orang Kristen.

 

  1. Pola penafsiran pada tiga dekade terakhir abad ke-20

Perkembangan penafsiran biblikal yang terjadi dalam tiga dekade terakhir cukup pesat, dinamis, dan kompleks. Bersamaan dengan pola-pola baru ini, analisis yang sudah dikenal selama ini pun terus berkembang dan maju. Beberapa analisis yang sudah dilakukan dan selama ini dipakai secara luas:

  1. Analisis salinan kuno PL dan PB, yang bertujuan mencari salinan kuno Alkitab yang paling tepat.
    Analisis teks sumber, yang bertujuan menganalisis ciri khas sebuah kitab untuk memperoleh informasi kontekstual mengenai penulis kitab, tanggal penulisan, serta lingkungan dan keadaan sekitar kitab tersebut.
  2. Analisis tata bahasa
  3. Analisis latar belakang
  4. Analisis kesusastraan
  5. Analisis tradisi
  6. Analisis ragam dan sastra
  7. Analisis redaksional

 

Mengamati pola-pola penafsiran Alkitab yang telah berkembang melintasi zaman, dapat kita simpulkan bahwa untuk menjadi seorang penafsir Alkitab kita pun perlu mempelajari perjalanan sejarah hermeneutika yang sangat panjang (bahkan lebih panjang dari sejarah gereja). Sejarah penafsiran yang sangat panjang dari zaman Ezra di Perjanjian Lama sampai tiga dekade terakhir abad ke-20 menunjukkan rumitnya usaha yang dibutuhkan untuk sungguh-sungguh memahami isi kitab suci dengan benar dan tepat, menggunakan penafsiran yang sehat. Bahkan sejak masa awal perkembangannya, penafsiran biblikal sudah dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, budaya, masyarakat; serta sangat berkaitan dengan pelayanan pengajaran kepada orang percaya maupun pengabaran Injil. Sayangnya, sering kali kita atau orang-orang yang kita kenal begitu mudahnya menyalahtafsirkan bagian-bagian tertentu di dalam Alkitab demi tujuan tertentu, yang tidak sesuai dengan kebenaran dan maksud bagian itu yang sesungguhnya. Penjelasan tentang sejarah hermeneutika ini tentu menambah pengetahuan kita untuk menyimpulkan suatu analisis penafsiran dengan teliti, karena pendidikan yang tinggi dan fasilitas yang memadai saja tidaklah serta-merta menutup kemungkinan adanya kekeliruan.

Mari terus bergiat mempelajari segala sesuatu yang diperlukan demi memahami Alkitab, sambil tetap mengingat prinsip-prinsip dasar menjadi penafsir Alkitab yang baik dan benar (build! edisi April 2019). Seorang penafsir yang baik harus lebih teliti dalam menafsir isi Alkitab dengan terus memiliki hubungan yang intim dengan Allah, sehingga kita menjadi pribadi yang setia menyatakan kebenaran Firman Tuhan bagi umat Allah dan mereka yang belum mendengar berita Firman itu.

 

Sumber referensi:
Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Hasan Sutanto. Malang: Gandum Mas, 2007)

2020-04-22T11:30:34+07:00