/, Movement News/Pendahuluan Hermeneutika

Pendahuluan Hermeneutika

Apa itu hermeneutika?

Hermeneutika adalah salah satu jenis ilmu filsafat yang mempelajari tentang interpretasi (penafsiran) makna. Istilah “hermeneutika” diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani “hermeneuien” yang berarti menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan. Jika dirunut lebih lanjut, kata kerja ini diambil dari nama Hermes, Dewa Pengetahuan dalam mitologi Yunani, yang bertugas sebagai pemberi pemahaman kepada manusia tentang pesan yang disampaikan oleh para dewa-dewa di Gunung Olympus (tempat tinggal para dewa). Dalam konteks pemahaman Alkitab, hermeneutika adalah ilmu penafsiran makna isi Alkitab.

Mengapa Alkitab perlu ditafsirkan?

Pada dasarnya, setiap kali kita membaca Alkitab, kita sedang menafsir isi Alkitab; bukankah kita membaca sambil mempelajari, menelaah, dan memahami maksud pesannya? Hermeneutika secara praktis telah menjadi bagian dalam pembacaan dan perenungan Firman yang kita lakukan sehari-hari, tetapi kita perlu menyadari pentingnya hermeneutika yang baik supaya pembacaan dan perenungan Firman ini menjadi lebih efektif dan memperkaya kita dengan maksud pesan dari Alkitab yang dibaca.

Alkitab ditulis ribuan tahun yang lalu dengan kebudayaan, bahasa, dan konteks sejarah yang berbeda dengan yang dialami pembaca pada zaman sekarang. Maka, perlu perhatian dan upaya khusus untuk memahami maksud pesannya. Alkitab tidak dimaksudkan sebagai catatan informasi yang dibaca sambil lalu saja; ada maksud dan pesan khusus di setiap bagiannya.

Sebagai gambaran yang sederhana, walau kita mengerti bahasa Indonesia dengan baik, tetap saja setiap peraturan perundang-undangan yang dibuat pemerintah Indonesia dalam bahasa Indonesia tidak dapat dijalankan sebelum dibuat tafsirannya oleh pemerintah (disebut sebagai “penjelasan atas undang-undang”) agar tidak timbul salah tafsir. Bahkan, dengan adanya penjelasan atas undang-undang tersebut, tetap saja bisa terdapat perbedaan penafsiran antara jaksa, pengacara, dan hakim dalam pengadilan. Begitu juga dengan Alkitab, yang jauh lebih kompleks dan lengkap daripada perundang-undangan suatu negara. Inilah betapa pentingnya isi Alkitab ditafsirkan dengan baik! 

MENAFSIR ISI ALKITAB DENGAN BAIK à MENGERTI FIRMAN TUHAN DENGAN BAIK/BENAR à MELAKUKAN/MENAATI FIRMAN TUHAN DENGAN BENAR à MEMBAGIKAN/MENGAJARKAN FIRMAN TUHAN DENGAN BENAR!

Beberapa contoh perlunya menafsir isi Alkitab:

– Apakah kita menganggap kita adalah orang yang rindu taat kepada Firman Tuhan? Kalau begitu mengapa kita tidak menaati perintah Tuhan Yesus dalam Matius 5:29-30 untuk mencungkil mata kita atau memotong kaki kita yang telah membuat kita jatuh ke dalam perbuatan dosa?

– 1 Yohanes 3:9 “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.”     

Kalau kita mengaku lahir dari Allah (lahir baru), mengapa kita masih berbuat dosa?

Memaknai ayat-ayat ini (dan banyak lagi bagian lainnya dalam Alkitab) secara harfiah tentu akan menimbulkan kebingungan dan praktik-praktik yang justru dipertanyakan. Itulah sebabnya, sadar atau tidak sadar, selama ini kita membaca Alkitab sambil berusaha memahami maksudnya. Maka, sangatlah penting untuk menafsirkan apa yang kita baca dalam Alkitab dengan baik dan benar.

Tujuan umum hermeneutika

  • a. Membaca teks dengan benar
  • b. Menafsirkan isi teks dengan benar (dengan metode penafsiran tiga prinsip)
  • c. Menerapkan/melakukan isi teks dengan benar
  • d. Membagikan/mengajarkan isi teks dengan benar.

Salah satu contoh nyata pentingnya penafsiran isi Alkitab yang benar ialah penafsiran Mazmur 23 oleh bapa gereja, Origenes (185-251 M). Origenes adalah salah satu bapa gereja yang selalu menjaga kekudusan, tetapi kemudian ia menjadi sesat dan alegoris, karena lalai bertekun dalam hermeneutika yang baik. Lahir di Aleksandria (Mesir) pada

tahun 185, ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Pada umur 18 tahun, Origenes menjadi kepala sekolah katekisasi Kristen di Alexandria dan mengajar ilmu sastra Yunani sekaligus menjadi penyalin teks Alkitab. Ia juga seorang yang berdisiplin rohani ketat dalam mengikut Yesus secara total (aliran asketis), misalnya dengan tidur tanpa alas, hanya mempunyai satu jubah, tidak mengenakan alas kaki, dan mempraktikkan Matius 19:12 secara harfiah: mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Namun, lambat laun tafsirannya menjadi semakin alegoris (kiasan) dan ia meninggalkan makna harfiah serta tafsiran gramatika (tata bahasa). Ia mulai menafsirkan isi Alkitab dari kacamata filsafat Yunani: ia justru mengajarkan paham praeksistensi, yaitu bahwa roh manusia sudah ada dalam kekekalan sebelum tubuhnya dilahirkan; ia juga mengajarkan paham universalisme, yaitu bahwa semua manusia dan iblis pada akhirnya akan masuk surga. Akibat pengajarannya ini ia dijatuhi sanksi ekskomunikasi (pengucilan) oleh gereja dan tidak dianggap sebagai santo. Ajaran-ajarannya dianggap sesat oleh gereja Kristen secara umum, karena tidak sesuai dengan penafsiran yang sehat dan baik; hanya gereja-gereja timur/koptik-lah yang masih menghormatinya.

Kisah hidup Origenes ini menunjukkan bahwa sekalipun orang Kristen begitu suci hidupnya, pemahaman dan pengajarannya bisa menjadi sesat ajarannya karena penafsiran yang salah. Karena itulah Firman Tuhan selalu mengingatkan kepada kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap roh (hati); segenap jiwa dan akal budi (rasio, pikiran, nalar), dan kekuatan (kehendak dan kemampuan) kita! Jangan hanya mengandalkan salah satunya (khususnya roh saja atau rasio saja), agar kita tidak salah dalam memahami, melakukan/menerapkan, dan membagikan/mengajarkan Firman Tuhan dalam hidup kita.

2020-04-22T11:34:59+07:00