///Penggerak hidup murid Kristus

Penggerak hidup murid Kristus

Pohon dikenal dari buahnya. Benih buah itulah yang “menggerakkan” pohon dalam seluruh proses pertumbuhannya, sampai buah muncul dan terlihat dari luar. Demikian pula, hidup seseorang pasti dikuasai atau digerakkan oleh sesuatu dan pasti menghasilkan buah. Apa saja kekuatan yang menggerakkan hidup manusia pada umumnya?
1. Kuasa kegelapan

Ketika seseorang digerakkan oleh kuasa kegelapan, apa pun yang dia lakukan dan ke mana pun dia pergi, hidupnya selalu dipengaruhi oleh kejahatan. Kejahatan akan nampak jelas dalam segala perilakukanya, termasuk bagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain.

 

2. Berhala

Permainan Pokemon Go telah menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia. Banyak orang rela mengorbankan waktu begitu banyak hanya untuk sebuah permainan, dan hidupnya terikat dengan permainan tersebut. Sesuatu yang lebih kita cintai daripada kita mencintai Tuhan adalah berhala. Cara mengenalinya sederhana, yaitu ketika kita lebih menyukai, menggemari, dan mencari-cari hal itu, melebihi kita menyukai, menggemari, dan mencari Tuhan. Jika Anda terikat dengan sesuatu sampai mengorbankan segala hal untuk sesuatu itu dan Anda tidak dapat lepas darinya, ini berarti Anda sudah menjadikan hal tersebut berhala yang menggerakkan hidup Anda.

3. Dorongan emosi

Sebagian orang benar-benar dikuasai oleh emosi, misalnya emosi kemarahan. Kemarahan mengikat dan menguasai mereka, hingga mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Jika Anda menyerah kepada kemarahan sampai kemarahan menguasai hidup Anda, itulah cikal-bakal pembunuhan yang dimaksud di dlam Alkitab. Ingat, dalam Kejadian 4:1-16, karena kemarahanlah Kain membunuh Habel.

4. Tradisi

Orang yang dikuasai oleh tradisi tidak mau menerima pembaharuan karena terus-menerus terikat oleh tradisi. Akibatnya, dia tidak mau menerima hal-hal baru dari Firman Tuhan. Meski Tuhan menyingkapkan hal-hal baru, namun karena hal-hal itu bertentangan dengan tradisinya, dia melawannya. Dalam Matius 15:1-14, Yesus menegur orang-orang Farisi karena mereka melawan Firman Tuhan demi menjaga tradisi nenek moyangnya. Tradisi telah menguasai dan menjadi penggerak hidup mereka.

Lalu, apa yang seharusnya menguasai dan menggerakkan hidup kita sebagai seorang murid Kristus?

Dalam 2 Korintus 5:14-17, Paulus menjelaskan bahwa kasih Kristuslah yang menguasai hidupnya. Apa pun yang dia lakukan untuk melayani orang lain berawal dari gerakan kasih Kristus di dalam dirinya. Inilah yang seharusnya terjadi pada setiap murid Kristus, yaitu hidup yang digerakkan oleh kasih Kristus. Apa yang selama ini menggerakkan hidup Anda? Apa jawaban Firman Tuhan tentang penggerak hidup kita sebagai murid Kristus? Mari kita pelajari dua prinsip penting berikut.

1. Setiap murid Kristus harus digerakkan oleh kasih Kristus

Rasul Paulus menjelaskan, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka,” (2 Kor. 5:14-15). Paulus tidak mengijinkan hal lain menguasai dirinya, selain kasih Kristus. Arti “dikuasai” adalah: (1). dipojokkan; (2). dikuasai sepenuhnya; (3). dibuat sampai tidak memiliki pilihan lain. Paulus tidak memiliki pilihan lain dalam hidupnya. Dia tidak bisa melakukan apa pun tanpa digerakkan kasih Kristus, dan hasilnya luar biasa. Jika kasih Kristus menguasai hidup kita, hidup kita pun menjadi luar biasa.

Hidup yang demikianlah pula hidup Yesus sendiri. Matius menuliskan tentang hati Yesus yang dikuasai oleh kasih, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala, “(Mat. 9:36). Apa pun yang Yesus lakukan, kasih Allah Bapalah yang selalu menggerakkan Dia untuk melakukannya. Demikian pula seharusnya dengan kita. Kita juga bisa dan harus digerakkan oleh kasih Bapa untuk melakukan segala sesuatu. Ketika Yesus digerakkan oleh kasih Bapa, setan-setan diusir, orang sakit disembuhkan, orang yang lemah dikuatkan, hidup yang hancur dipulihkan. Jika kita digerakkan oleh kasih Kristus, kita juga akan melakukan hal yang sama seperti Kristus, yakni menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, memulihkan hidup yang hancur, dan menguatkan yang lemah. Dengan dikuasai oleh kasih Allah, hidup kita menjadi saluran kuasa Allah untuk memberkati orang lain. Sekali lagi, ini semua hanya bisa terjadi jika hidup kita digerakkan oleh kasih Kristus. Kasih seperti inilah yang disebut kasih ilahi atau kasih yang tidak bersyarat.

2. Setiap murid Kristus harus melihat dengan mata iman

Paulus menjelaskan kehidupan seorang murid Kristus yang digerakkan oleh kasih. Ia menuliskan pengalamannya, “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian,” (2 Kor. 5:16). Salah satu “buah” utama yang nampak dalam hidup orang yang digerakkan oleh kasih Kristus adalah menilai sesamanya menurut kasih Kristus. Ini berarti menilai seseorang lewat mata iman, bukan menurut ukuran manusia. Seorang murid Kristus harus melihat orang lain dengan mata iman dalam kasih Kristus. Setelah kita digerakkan oleh kasih Kristus, kita juga harus mengubah cara pandang kita dalam melihat orang lain. Jangan lagi melihat siapa pun, termasuk saudara seiman, adik atau kakak, ayah atau ibu kita, bahkan orang yang belum lahir baru, dengan mata jasmani. Mengapa? Karena manusia menilai sesuai dengan apa yang dilihat di bagian luarnya, dan manusia menilai dengan mata jasmani atau melihat hal-hal yang kelihatan saja. Padahal, seharusnya kita melihat dengan mata iman, karena kita adalah pelayan pendamaian. Jika kita menilai menurut ukuran manusia, kita akan kecewa dan terjebak dalam penilaian yang negatif. Ketika orang-orang Yahudi menilai Yesus menurut ukuran manusia, mereka kecewa dan menolak Dia. Rasa kecewa ini pun menyebabkan mereka tidak percaya kepada Yesus. Matius menulis, “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya di situ,” (Mat. 13:53-58). Mujizat tidak terjadi karena mereka sudah tidak lagi percaya kepada Yesus, karena terjebak dalam penilaian negatif pada penampilan luar Yesus, yakni suku, warna kulit, status sosial, dan tampilan fisik. Seharusnya, kita menilai seseorang dengan mata iman, yaitu melihat yang tidak kelihatan. Inilah yang dipraktikkan oleh Paulus, dan dia bahagia karena melihat orang lain dengan mata iman.

Jadi, bagaimanakah seharusnya kita menilai orang lain? Paulus memberikan kuncinya, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang,” (2 Kor. 5:17). Ini berarti, kita harus melihat orang lain termasuk diri kita sendiri sebagai ciptaan baru. Apa arti ciptaan baru? Ciptaan baru adalah roh kita, apa yang di dalam. Ciptaan baru bukan yang di luar, maka yang tampak di luar itu tidak perlu dijadikan dasar penilaian. Tubuh kita bukan ciptaan baru, tetapi ciptaan lama, sehingga setiap hari semakin merosot karena kita belum menerima tubuh kemuliaan. Roh kitalah ciptaan baru itu, dan inilah yang Kristus sendiri gunakan sebagai dasar penilaianNya atas kita. Seharusnya, kita belajar melihat orang yang kita muridkan seperti Yesus melihatnya di dalam rencana Bapa. Mari kita bertobat dari dosa menilai orang lain menurut penampilan luar, dan belajar menilai orang lain dengan ukuran Kristus. Biarlah hidup kita senantiasa digerakkan oleh kasih Kristus.

2019-10-17T13:49:42+07:00