//Pengorbanan Sejati atau Manipulasi

Pengorbanan Sejati atau Manipulasi

Berkorban adalah suatu tindakan nyata tanpa pamrih, tidak dimotivasi untuk mengharapkan balasan atau menghitung-hitung apa manfaat yang bisa diterima secara langsung; namun dalam jangka waktu panjang, hasilnya adalah kita memperoleh kasih, penghormatan, termasuk kemurahan dari yang lain secara umum, kita mungkin menerima pertolongan orang lain pada saat yang tak terduga, tepat ketika kita membutuhkannya.

 

Mengapa pengorbanan itu penting?
1.Karena kehidupan memiliki siklus menabur dan menuai.
Secara kodrati Tuhan telah menetapkan prinsip umum dari hukum alam; bahwa segala sesuatu yang ditanam pasti akan tumbuh dan menghasilkan buahnya. Demikian pula tiap tindakan perbuatan yang dilakukan pasti menerima balasannya tanpa diketahui kapan waktu menuainya.

2.Jika tidak ada kerelaan berkorban, maka bumi penuh dengan kefasikan.
Bayangkanlah suatu keadaan dimana semua orang ingin menang, ingin berhasil meskipun dengan segala cara yang dihalalkan; setiap kejatuhan dan kesusahan dianggap sebagai peluang untuk memenangkan persaingan, kegagalan orang lain disambut sebagai seleksi alamiah, yang kuat – menang, yang pandai – sukses. Rasanya tanpa hati nurani, dunia semata-mata hanya dipenuhi dengan semak duri.

3.Pengorbanan memberi nilai dalam kehidupan.
Mandat kehidupan adalah berkarya dan mengusahakan bumi dan alam ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Bukti dari setiap jerih lelah dan prestasi yang sukses ditandai dengan berbagai pengorbanan dan kerelaan untuk melakukan yang terbaik.

4.Apresiasi lahir dari setiap pengorbanan.
Kita tidak dapat membeli penghargaan dan tidak bisa memaksa orang lain untuk menaruh respek kepada kita, selain daripada kelayakan yang lahir dari sikap dan tindakan pengorbanan. Keadaan ini pasti menjadi inspirasi bagi pemikiran dan perbuatan positif yang akan memotivasi banyak orang.

Manipulatif – pengorbanan yang pamrih.
Ketika perhatian kita hanya terpusat pada diri sendiri dan masalah-masalah pribadi, maka sulit untuk memperhatikan keadaan dan kebutuhan orang lain, setiap pertimbangan semata-mata hanya diukur dari keuntungan dan kesenangan pribadi. Motivasi dibalik setiap tindakan perlu untuk diterawang lebih jauh lagi agar kita tidak keliru dan menyimpang dalam setiap pemikiran dan perbuatan yang dianggap sebagai sikap pengorbanan dan kebajikan. Pengorbanan yang pamrih sebenarnya adalah suatu sikap manipulasi kepada orang lain bahkan terhadap diri sendiri, dan pada kenyataannya seringkali sangat tersamar dan tanpa disadari justru menjadi lazim dalam kehidupan kita sehari-hari. Kepedulian dan pengorbanan sejati tidak bersyarat, tidak menuntut balasan, tidak memperhitungkan apa untungnya bagi kita, dilakukan dengan tulus dan tanpa persungutan atau keluh kesah, spontan, yakin dan tidak menguatirkan penolakan karena fokus pada kepentingan dan kebaikan orang lain.

Manipulasi dipahami sebagai sikap dan tindakan :
1.Penipuan yang disamarkan dengan kebenaran.
2.Penyalahgunaan kesempatan, wewenang, hak, kewajiban dan otoritas.
3.Aktifitas yang nampaknya baik, tapi memiliki motivasi egoisme terselubung.
4.Sikap mental yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang luhur dan tulus.
5.Memanfaatkan seseorang, sesuatu, keadaan atau kondisi dengan maksud untuk keuntungan sepihak.
6.Membohongi dan tidak sesuai dengan hal-hal yang sifatnya sejati.
7.Sikap berpura-pura, tidak ikhlas dan bertujuan untuk memanfaatkan orang.
8.Pengendalian kontrol atas orang-orang melalui pengaruh, cara-cara, tekanan atau perlakuan tertentu.
9.Menutup-nutupi keadaan, ketidak jujuran, tidak memperlihatkan jati diri yang sebenarnya untuk kepentingan pribadi.

Apa akibat sikap manipulatif ?
Mungkin tidak disadari, namun segala sesuatu yang tidak sejati pasti tidak bisa bertahan lama. Sikap yang tidak tulus, cepat atau lambat akan tersingkap dan mempengaruhi hubungan kita, baik dengan keluarga, rekan, kolega atau mitra kerja. Konsekwensi dari sikap manipulatif adalah: Kehilangan kepercayaan dari orang lain sehingga sulit memiliki rekan, mitra atau kolega yang sejati; terjerat dalam sikap munafik, kehilangan kebenaran dan jati diri; dikejar perasaan bersalah dan kehilangan rasa damai sejahtera; terlibat dalam berbagai bentuk persaingan tidak sehat dan memiliki tujuan dengan menghalalkan segala cara.

Pengorbanan sejati – pernyataan kasih tertinggi.
Ibu Teresa mengisi kehidupannya dengan mengasihi dan melayani orang-orang yang kekurangan di negara-negara miskin. Beliau menyelamatkan hidup banyak balita dengan membelai dan mengelus tubuh-tubuh kecil yang kurus karena kekurangan gizi. Sentuhan manusia sesungguhnya memiliki kekuatan untuk merespon unsur-unsur kimiawi dalam tubuh yang sangat membantu untuk pertumbuhan dan daya kehidupan. “Telah saya temukan paradoks bahwa kalau saya mengasihi sampai sakit rasanya, maka hilanglah rasa sakit itu, dan yang ada hanyalah lebih banyak kasih “ (Ibu Teresa)

Pengorbanan adalah sikap yang timbul karena menyadari adanya kebutuhan dari orang–orang di sekitar kita, jika kita mulai menjadi pemerhati maka akan ada begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik dan menjadi jawaban bagi orang lain. Sikap lapang hati untuk tidak sekedar mengkritisi orang lain atau keadaan, penguasaan diri terhadap rasa memiliki, bebas dari rasa kekuatiran dengan membangun rasa aman, semua ini akan mendorong kita untuk mengembangkan sikap pengorbanan yang sejati.

Pengorbanan dalam penerapannya, senantiasa merupakan bentuk pernyataan kasih yang tertinggi, dengan menunjukkan kepedulian sejati kepada orang lain dengan suatu tindakan yang nyata. Ia tidak mementingkan diri sendiri dengan kerelaan untuk mendahulukan kepentingan orang lain, untuk memberi dan membagi tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih, bahkan ikhlas untuk memberi kesempatan atau peluang yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkannya. Pengorbanan adalah kesediaan untuk mendengar, melayani dan membantu orang lain, suatu bentuk kebaikan hati yang tidak menuntut pembayaran, sebaliknya bahkan mungkin ada resiko, harga dan keberanian yang dituntut saat berkorban.

Teladan terbesar dalam hal pengorbanan telah ditunjukkan oleh Kristus sendiri, ketika Ia menanggung apa yang seharusnya tidak diterimaNya, yaitu kematian, menggantikan kita yang seharusnya menanggung upah dosa; dan Ia memberikan kehidupan kekal, yang seharusnya tidak layak kita terima. Itulah pengorbanan, kesediaan untuk membayar harga demi keselamatan banyak orang. Pengorbanan yang sejati tidak sekedar menabur benih kebajikan untuk menolong orang lain, tetapi suatu ketika pada saat yang tidak diketahui, kita akan menuai hasilnya.

“ Pengorbanan hari ini, akan berbuah baik di hari esok “

2019-10-03T23:28:39+00:00