///Pensil Kecil di Tangan Tuhan

Pensil Kecil di Tangan Tuhan

Huffttt…. Rasanya aku tak percaya dengan apa yang barusan terjadi… Serasa baru menyatukan kepingan-kepingan kecil dari posisi berantakan sampai pada akhirnya menjadi sebuah gambar yang jelas; gambar itu belum seluruhnya terlihat tetapi paling tidak sudah mulai jelas sehingga kepingan-kepingan mana yang selanjutnya perlu diletakkan pada posisi yang benar menjadi jelas pula…

Bayangan tentang permainan kepingan gambar ini terlintas begitu saja selagi aku menjalani hari-hari yang padat dengan begitu banyak pertemuan daring maupun tatap muka dalam seminggu terakhir ini. Restrukturisasi dalam sebuah organisasi pelayanan yang sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun, termasuk berbagai perubahan yang menyangkut hal-hal terkait perkembangan zaman, sangat menyibukkanku. Kadang aku merasa tugas dan kepercayaan ini terlalu besar, tidak sebanding dengan kemampuanku. Namun, Tuhan menuntunku untuk belajar dan percaya bahwa pelayanan yang Tuhan percayakan pasti disertai dengan setiap kemampuan untuk mengerjakannya.

Kubolak-balik dan kupandang lagi halaman-halaman buku catatanku. Aku terpana melihat corat coret yang ada, to-do list yang harus selesai dilakukan setiap harinya. Ya, Tuhan… Ternyata corat coret ini adalah jejak-jejak tuntunan Tuhan dari hari ke hari. Aku ingat setiap pagi rasanya hatiku hanya ingin dan bisa berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tolong aku melakukan apa yang Tuhan katakan untuk setiap hal yang harus kukerjakan sepanjang hari ini.” Doa singkat dan sederhana ini memang keluar dari hatiku, dan benar, Tuhan menuntunku dengan begitu indah.

16 Oktober 2023 adalah tanggal ketika aku melakukan pertemuan daring dengan tiga orang dari generasi yang sepuluh tahun lebih muda dariku. Mereka adalah wanita-wanita lajang yang sudah dewasa dan mandiri dalam hal pekerjaan dan keuangan. Sejujurnya, aku berjuang keras untuk memahami alur dan cara pikir mereka dalam diskusi-diskusi kami, sedang kami menjadi sebuah tim penggagas yang bertanggung jawab untuk bersama-sama memikirkan perkembangan pelayanan ini ke depan. Tuhan luar biasa dengan tuntunan dan pertolongan-Nya! Dari diskusi ini lahir sebuah nama yang indah untuk tim penggagas ini: “Blossom”. Kata “blossom” ini mengacu pada sebuah fase hidup seperti bunga yang mekar sempurna dan punya keindahan maksimal pada waktu tertentu. Semangat ini menolong kami untuk menemukan keindahan itu melalui diskusi-diskusi yang lebih spesifik, obrolan-obrolan ringan, dan ide-ide dari peluang untuk menjangkau generasi ini.

17 Oktober 2023 pun aku melakukan pertemuan daring. Kali ini bersama dengan rekan-rekan pemimpin di pelayanan, dan aku harus menyajikan presentasi tentang apa yang telah dibicarakan oleh tim “Blossom”… Puji Tuhan; setiap ide dan rencana tim “Blossom” mendapat dukungan penuh. Ini sungguh membangkitkan iman sekaligus dukungan moral yang meneguhkan aku serta mengatasi setiap kegentaranku.

19 Oktober 2023 dalam agendaku juga diisi dengan pertemuan daring, yang kali ini bertujuan untuk menyatukan gerak langkah bersama dalam pelayanan ini, khususnya pada tahun depan, sebagai momentum kebangkitan wanita-wanita lajang di tengah-tengah banyaknya tantangan perubahan zaman dan gempuran informasi dari media sosial, yang kadang membuat fokus hidup mereka teralihkan.

Hari ini saat aku membaca setiap catatan dan to-do list ini, sama sekali tidak terbayangkan bahwa aku dapat melewati hari-hari itu. Semuanya betul-betul merupakan anugerah Tuhan yang tidak terkatakan. Seketika saja, pikiranku mengingat satu ayat Firman Tuhan di 2 Korintus 3:5,Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” Sungguh, kesanggupanku adalah pekerjaan Allah.

Rupanya Tuhan menuntunku untuk belajar tekun dan setia melakukan hal-hal kecil, seperti mencatat dan menuliskan setiap hal yang harus kukerjakan (khususnya untuk hal yang terasa sulit dipahami), lalu menyerahkan diri sepenuhnya (pikiran, perasaan, dan kehendak) ke dalam kedaulatan Tuhan, dengan percaya sepenuhnya bahwa Tuhan menolong dengan cara-Nya dan di dalam waktu-Nya. Tanpa kusadari, aku makin memahami apa itu kepekaan dan bagaimana kepekaan menjadi kekuatan untuk setiap wanita dapat bertumbuh menjadi penolong. Kebenaran yang indah dan sederhana pun kutangkap: setiap wanita akan bertumbuh menjadi seorang penolong saat memahami dan mengalami pertolongan Tuhan dalam hal-hal yang dilakukannya sehari-hari. Yang kualami sendiri adalah dalam konteks pelayanan, tetapi aku semakin percaya bahwa Tuhan pasti menolongku dalam aspek hidupku yang lain. Tuhan penolongku, sehingga aku dapat menjadi penolong bagi mereka yang Tuhan hadirkan dalam hidupku!

Dalam perenungan, aku teringat tulisan seorang wanita sederhana yang ternyata menjadi inspirasi bagi dunia lewat kehidupannya dan kepeduliannya pada mereka yang terabaikan. Ibu Teresa, seorang biarawati dari Ordo Cinta Kasih di Kalkuta, India, pernah menuliskan:

I am a little pencil in God’s hands

He does the thinking He does the writing

He does everything and sometimes it is really hard, because it is a broken pencil and He has to sharpen it a little more

(Aku ini pensil kecil di tangan Tuhan Tuhanlah yang berpikir

Tuhanlah yang menulis Tuhan melakukan segala sesuatu, dan kadang hal itu sulit sekali,

karena aku adalah pensil yang patah dan Dia perlu merautku lagi menjadi makin tajam)

2023-11-25T09:33:08+07:00