///Pentingnya Penafsiran yang Tepat

Pentingnya Penafsiran yang Tepat

Di sepanjang tahun ini, setiap bulan kita akan secara berurutan membahas hermeneutika (ilmu menafsir) Alkitab. Di edisi sebelumnya, kita telah mengetahui begitu pentingnya kita menerapkan ilmu menafsir Alkitab, sebelum kita melangkah kepada aplikasi atau penerapannya. Kita telah mengerti bahwa penafsiran yang baik menghasilkan pengertian yang baik/benar, yang kemudian menghasilkan penerapan yang benar, yang kemudian menghasilkan pengajaran yang benar. Ini berarti pengajaran, penerapan, dan pengertian tentang Alkitab diawali dengan penafsiran yang tepat. Maka, penafsiran yang salah dapat berakibat fatal. Seseorang dapat salah mengerti, salah menerapkan, dan bahkan salah mengajarkan Alkitab. Inilah proses kacau yang menghasilkan banyak pengajaran ekstrem atau sesat di dalam Gereja.

 

Semua kekacauan ini kebanyakan dimulai dari ketidakpahaman pengajar-pengajar ekstem/sesat itu tentang bagaimana menafsir Alkitab dengan baik. Secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari, contohnya ialah pesan pribadi yang dibaca sebagian saja sehingga pengertian pembaca menjadi tidak utuh. Jika saya menulis surat kepada Anda bahwa saya besok pasti akan datang kalau tidak ada halangan, lalu keesokan harinya ternyata saya tidak datang karena ada halangan; tetapi Anda hanya membaca bagian pertama surat saya tentang saya pasti akan datang tanpa membaca apalagi mengerti bagian berikutnya tentang kedatangan saya itu kalau tidak ada halangan, Anda akan menjadi kecewa kepada saya dan menganggap saya adalah orang yang tidak dapat dipercaya. Ini menunjukkan bahwa membaca sesuatu haruslah secara lengkap dan mengerti konteksnya, demi mencegah kesalahan pengertian yang menyebabkan kesalahan respons. Demikian pula, bila kita menafsirkan Alkitab secara sebagian saja di luar konteks utuhnya, kita akan mengalami kesalahpahaman tentang Tuhan dan kehendak-Nya. Akibatnya, pengenalan kita akan Tuhan akan keliru, lalu bila pemahaman itu kita ajarkan, timbullah ajaran sesat. Mari kita lihat beberapa contoh penafsiran dan pemahaman yang tidak tepat ini di dalam Gereja.

 

  1. Rhema adalah perkataan (Firman) yang diucapkan langsung dari mulut Allah, sedangkan Logos adalah teks perkataan (Firman) yang tertulis.                                              

Memang kalau dilihat sepintas dalam beberapa contoh di Alkitab Perjanjian Baru, kelihatannya penafsiran ini benar; tetapi bila kita melihat konteks yang lebih luas serta mempelajari kata ini dalam keseluruhan Alkitab, ternyata kedua istilah ini dapat dipakai bergantian (saling menggantikan, interchangeable). Rhema dapat juga berarti perkataan (Firman) yang tertulis, dan Logos juga dapat berarti Firman yang langsung diucapkan oleh Allah. Contohnya, perkataan pengetahuan dan hikmat yang disampaikan langsung dalam praktik karunia Roh Kudus menggunakan kata “logos” (1 Kor. 12:8), dalam Matius 26:75 dan Markus 14:72 Petrus teringat perkataan (“rhema”) Yesus tentang penyangkalannya tetapi dalam ayat-ayat paralelnya di Lukas 22:61 kisah ini menggunakan kata “logos”. Selanjutnya, dalam Ibrani 4:12 Firman (pedang bermata dua) ditulis dengan “logos”, sedangkan dalam Efesus 6:17 pedang Roh menggunakan kata “rhema”. Ada banyak contoh pemakaian yang bertukaran antara kata Firman yang berarti ucapan yang keluar dari mulut dan yang berarti teks yang tertulis. Maka, jelaslah bahwa dalam Alkitab tidak ada perbedaan berarti antara makna rhema dan logos, keduanya dapat dipakai dengan saling menggantikan. Akibat dari tafsiran yang tidak tepat tentang perbedaan tajam antara keduanya ialah anggapan bahwa rhema lebih penting daripada logos, atau bahkan logos kurang bermanfaat dibandingkan dengan rhema. Seolah-olah rhema adalah Firman yang dicerahkan oleh Roh Kudus dan logos hanyalah tulisan Firman yang tidak ada pencerahan Roh Kudus di dalamnya. Padahal, Firman yang tertulis sama pentingnya dengan Firman yang keluar dari mulut; bobot keduanya ialah Firman Tuhan yang berotoritas mutlak, dan Tuhan tidak akan mengucapkan Firman yang bebeda, apalagi bertentangan, dengan Firman-Nya yang tertulis di Alkitab.

 

  1. Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya artinya Yesus sebagai kepala Gereja (Tubuh-Nya), belum menemukan Gereja sebagai tempat/Tubuh untuk Dia memerintah (referensi: Mat. 8:18-22).

Nah, memang waktu Yesus mengucapkan perkataan-Nya dalam Matius 8:18-22, Gereja sebagai Tubuh Kristus, yaitu “tempat” Sang Kepala memerintah, belum terbentuk karena Yesus belum bangkit dan membentuk Tubuh-Nya (Yoh. 2:19-22). Namun, bila kita melihat konteks waktu Yesus mengatakan hal itu (“Dia tidak memiliki tempat bagi kepala-Nya”), Yesus bukanlah berbicara tentang Tubuh-Nya secara metafora/kiasan/gambaran. Konteksnya justru berkaitan dengan seorang murid yang mau mengikut Yesus dan berharap akan mendapatkan ketenaran/kekayaan; tetapi Yesus yang mau diikutinya itu bahkan tidak mempunyai tempat tinggal yang menetap (tempat untuk “meletakkan kepala”), bukan seperti serigala yang mempunyai lubang persembunyian dan burung di udara yang mempunyai sarang. Ini bukanlah gambaran tentang Yesus Sang Kepala Gereja yang belum menemukan Tubuh Kristus untuk meletakkan kepala-Nya, tetapi tentang Yesus yang hidup sederhana karena melakukan misi Kerajaan Allah dan tentang orang yang mengikut Yesus harus siap mengikut jejak-Nya dengan tidak mengejar ketenaran/kekayaan atau kenyamanan hidup lainnya.

 

  1. Barang siapa merusak bait Allah, dia akan dibinasakan Allah; artinya siapa yang merusak tubuh pribadinya (bait Allah) akan dibinasakan oleh Allah sendiri (referensi: 1 Korintus 3:16).

Tentu kita memang tidak boleh sembarangan merusak tubuh jasmani kita, karena dalam 1 Korintus 6:19-20 dijelaskan bahwa masing-masing tubuh kita (secara individual) adalah bait Allah. Namun dalam 1 Korintus 3:16, konteksnya bukanlah tentang bait Allah pribadi/individual (tubuh kita masing-masing) tetapi bait Allah korporat (gereja Korintus). Kata “kamu” dalam ayat ini adalah jamak dan konteks pembahasannya adalah tentang dosa memecah-belah gereja (1 Kor. 3:1-4). Yang dirusak disini bukanlah bait Allah pribadi/individual (tubuh pribadi), tetapi kesatuan dalam bait Allah korporat (tubuh korporat). Maka, ayat ini tidak tepat jika diaplikasikan untuk dosa bunuh diri atau keterikatan narkoba dan dosa-dosa lain yang merusak tubuh pribadi kita.

 

  1. Kita dijadikan imam dan raja; artinya ada dua kelompok pemimpin – ada yang berfungsi sebagai “imam” (gembala jemaat), ada yang berfungsi sebagai “raja” (pemimpin market place/dunia usaha) (referensi: Why. 1:5-6)

Memang di dalam Alkitab Perjanjian Lama ada pemisahan kepemimpinan imam yang melayani di dalam lingkungan bait Allah dengan raja yang melayani dalam lingkungan pemerintahan. Namun bila kita melihat konteks ayat ini secara utuh, sebenarnya ini bukan dua jenis kepemimpinan/pemimpin yang terpisah yang bersinergi dalam Kerajaan Allah, yaitu antara imam (gembala jemaat) dan raja (pemimpin market place/dunia usaha). Ini justru peran kepemimpinan yang berlaku untuk semua orang percaya yang beriman dari hasil penebusan Kristus. Awalnya, Tuhan ingin menjadikan semua umat-Nya (seluruh bangsa Israel) sebagai kerajaan Imam, artinya kerajaan yang semua anggotanya adalah imam-imam (Kel. 19:5-6); tetapi karena dosa penyembahan berhala, mereka gagal menjadi kerajaan imam. Maka, dalam rencana kekal-Nya, Kristus menebus kita dan umat Israel dari dosa penyembahan berhala serta menjadikan semua orang percaya (termasuk umat Israel yang percaya) kembali sebagai kerajaan imam. Istilah “kerajaan imam” di dalam bahasa Ibrani agak sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain karena mempunyai artinya cukup kompleks: Imam yang berkerajaan (Imamat Rajani) atau Raja yang berimamat (Kerajaan Imam). Beberapa versi Alkitab bahasa Inggris menerjemahkannya sebagai Imam dan Raja. Inilah yang menyebabkan penafsiran yang menganggap ini dua fungsi yang berbeda dalam kepemimpinan; ada yang imam, ada yang raja. Sebenarnya semua orang percaya adalah sekaligus imam dan juga raja. Ini adalah dua fungsi/peran kepemimpinan dalam setiap pribadi orang percaya.

 

Beberapa contoh ini banyak kita temui dalam perjalanan kekristenan kita dalam Gereja. Kita harus sadar betapa pentingnya kita, khususnya para pemimpin, mempelajari ilmu menafsir Alkitab (hermeneutika) yang sehat; agar kita sendiri sekaligus orang-orang yang kita ajar terhindar dari penafsiran-penafsiran yang tidak tepat atau salah. Mari belajar bersama pada tahun ini, dengan panduan dan penjelasan yang membahas prinsip-prinsip utama hermeneutika dalam menafsir Alkitab, sehingga kita dapat mengerti, mempraktikkan, serta mengajarkan Alkitab dengan baik.

2019-09-27T12:28:10+07:00