///Penundaan yang Salah

Penundaan yang Salah

Penundaan  yang salah adalah sebuah sikap yang tidak bertanggung jawab yang muncul karena ketakutan terhadap risiko dan konsekuensi yang seharusnya dihadapi. Di sisi lain, penundaan yang benar adalah sebuah sikap tegas dan tetap waspada yang diambil karena upaya untuk menghindari bahaya yang tidak perlu terjadi.

 

Pada suatu masa, banyak kesempatan keuntungan tersedia di pasar karena banyak orang mencari properti untuk dibeli dengan harga murah dan dijual dengan harga yang mahal. Anda pasti tahu masa yang saya maksud ini. Mungkin Anda sempat mengalaminya juga, seperti saya mengalaminya secara pribadi.

Saat itu, saya menemukan kesempatan yang tepat dan sangat menjanjikan, dengan properti yang lokasinya sangat bagus, statusnya resmi, harganya yang terjangkau, tidak mahal, dan berbagai aspek lain yang sangat menarik. Saya sudah berniat untuk segera membeli properti tersebut. Tentu itu akan menjadi investasi yang sangat menguntungkan, menurut saya. Namun, pikiran dan hati saya masih ragu karena saya ingin menunggu untuk mendapatkan harga yang lebih murah lagi, maka saya mulai menawar properti tersebut dengan harga 20% lebih rendah daripada harga penawarannya. Pemilik properti tersebut meminta waktu untuk mempertimbangkan lalu saya pun menunggu jawaban darinya.

Seiring dengan berjalannya waktu saat saya menunggu, ada suara hati muncul di hati saya untuk segera membeli properti tersebut. Sebenarnya harganya sudah cukup murah, yaitu di bawah harga pasar pada umumnya, sehingga properti tersebut tentu bisa terjual dengan harga yang lebih tinggi dan saya akan mendapatkan keuntungan. Namun, saya tetap menunda.

 

Saudara-saudari, pada waktu itu saya hanya menunda selama tiga hari saja. Asumsi dalam pikiran saya berkata bahwa tiga hari bukanlah waktu yang lama, dan semoga tidak ada orang lain yang mengambil kesempatan itu, tetapi ternyata saya salah. Tepat seperti yang mungkin Anda duga, properti tersebut dibeli oleh orang lain dengan harga lebih tinggi daripada penawaran saya. Sang pemilik memang berhak melepas kepada pembeli dengan harga yang lebih mahal, karena memang belum terikat kontrak apa pun dengan saya. Ketika saya tahu hal itu, saya menjadi sangat kecewa karena penundaan saya yang salah itu. Seharusnya hati saya tidak serakah atau khawatir, seharusnya saya memiliki ketegasan untuk memutuskan segera, seharusnya saya tidak menunda-nunda…

 

Sayangnya, penundaan semacam itu bukan hanya sekali terjadi dalam hidup saya. Saya pernah mengalaminya juga dalam berbagai momen dan aspek kehidupan. Salah satunya yang terpenting terkait dengan status saya sebagai anak Tuhan. Pada suatu kesempatan, saya seharusnya memenangkan jiwa seseorang kepada Tuhan; orang itu sudah sangat ingin untuk berjumpa dengan Tuhan dan sangat siap untuk menerima Tuhan, tetapi saya memilih untuk melayaninya ketika kesibukan saya sudah usai saja. Waktu terus berjalan sampai tujuh hari berlalu, dan akhirnya saya baru akan pergi untuk melayani orang itu dan menuntunnya untuk mengambil langkah iman pribadi percaya kepada Tuhan. Waktu yang sudah lewat itu ternyata tidak lagi dapat ditebus, karena saya mendapati orang itu ternyata telah meninggal dunia sebelum saya datang melayaninya. Hati saya menjadi sangat sedih, kecewa, dan merasa sangat hancur. Lagi-lagi penundaan yang salah karena keraguan, ketakutan, keegoisan, keserakahan, bahkan kali itu karena kemalasan saya juga.

 

Saudara-saudari, saat ini saya berbagi kisah kesalahan agar hal ini menjadi pembelajaran yang baik bagi kita semua. Sadarilah bahwa waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik. Sebaiknya kita tidak menunda untuk hal baik yang sudah Tuhan bukakan pintu kesempatannya.

Ada penundaan yang salah, tetapi ada pula penundaan yang benar, bahkan perlu.

 

Kita boleh dan seharusnya menunda untuk hal yang tidak baik, yang jika tanpa penundaan kita akan menghadapi bahaya. Kita perlu menunda untuk melakukan keinginan-keinginan buruk, misalnya, keinginan untuk membalas dendam kepada seseorang. Kita boleh menunda untuk membeli keinginan yang bukan merupakan kebutuhan kita. Kita perlu menunda untuk memuaskan hawa nafsu kita. Kita perlu menunda untuk marah-marah yang ujungnya hanya berakibat yang tidak baik atau bahkan fatal. Kita pun boleh menunda untuk menerima kebaikan yang orang lain ingin berikan, karena kasih Tuhan menutupi segala sesuatu. Berdoalah kepada Tuhan lebih dahulu dan utamakan kerajaan-Nya terlebih dahulu daripada yang lain. Belajarlah peka untuk membedakan keduanya, antara penundaan yang salah dan penundaan yang benar.

 

Baiklah kita tidak menunda untuk hal-hal yang sifatnya prioritas, mendesak, dan penting. Apalagi untuk hal-hal yang terkait kepentingan Kerajaan Allah. Inilah hal-hal yang seharusnya bisa kita segera lakukan, hal-hal yang wajib kita kerjakan dengan disiplin dan tekun sampai tuntas, dan hal-hal positif yang bisa menimbulkan kerugian jika kita menundanya. Hal-hal yang jelas sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, yang bisa membuat kita berbuah lebat untuk kemuliaan Tuhan tidak perlu kita pikir-pikirkan atau pertimbangkan berlama-lama untuk menundanya lagi.

Mari kita belajar untuk hidup menghitung hari-hari, karena hari-hari yang kita jalani di dunia ini adalah hari-hari yang jahat, dan menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan agar hati kita beroleh bijaksana dalam setiap keputusan.

 

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” – Mazmur 90:12, TB

2024-08-24T11:38:25+07:00