///Perkataan Tuhan

Perkataan Tuhan

Malam itu, segala perasaan berkecamuk di hati Wulan. Sedih, marah, gemas, sekaligus bersalah, semuanya jalin-menjalin dan membuat mata rasanya sulit terpejam walaupun waktu sudah menjelang tengah malam. Melewati hari yang panjang dari pagi sampai malam dengan aktivitas masing-masing lalu berkumpul kembali di ujung hari sambil menceritakan apa yang dialami biasanya merupakan kebiasaan keluarga yang membuat hati Wulan bersemangat, tetapi tidak malam itu.

Aktivitas Wulan memang padat sepanjang hari itu. Sejak pagi, dia menyelesaikan menyetrika pakaian sekeluarga, yang sudah menumpuk setelah tiga hari tidak sempat dikerjakan karena adik-adik dari Bandung semua datang berlibur di Jakarta. Setelah urusan setrika, Wulan melanjutkan persiapannya untuk jadwal pelayanan virtual, lalu langsung hadir di pertemuan keluarga yang membahas rencana reuni keluarga besar almarhum Bapak awal tahun depan. Hari itu padat dan menguras energi, tetapi hati Wulan melaluinya dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat mendengar apa yang dialami oleh putri tunggalnya, Ingga.

Ingga menceritakan pengalamannya dalam keadaan yang lebih tenang, karena rupanya sebelumnya dia sudah bercerita kepada ayahnya. Hari itu Putro dan Ingga sudah tiba di rumah sejak sebelum Wulan pulang, maka mereka sudah membahas hal itu berdua. Saat Ingga akan mulai bercerita, Putro memberikan pendahuluan dengan tenang kepada Wulan, “Mama, ini ada yang Ingga mau ceritakan soal apa yang dia alami tadi saat sedang ngebolang bareng sepupu-sepupu. Sekarang Ingga sudah lebih tenang Ma, tadi Papa sudah doakan Ingga dan kami juga sudah berdoa bersama.” Hm. Pikiran Wulan justru terkejut mendengar prolog yang tidak biasa itu, dan hatinya ternyata tetap tidak sepenuhnya siap menerima kenyataan itu.

Terbata-bata, Ingga bercerita… Dalam perjalanan pulang setelah bersenang-senang berkeliling kota bersama para sepupu siang itu, Ingga mengalami sesuatu yang membuat dirinya syok. Suara lirihnya mengucapkan dua kata, “Sexual harassment…” Dua kata itu seketika membuat tubuh Wulan kaku, pikirannya beku, dan hatinya termangu. Selama beberapa, Wulan hanya diam tanpa sanggup mengeluarkan respons apa pun. Dia berjuang dalam sunyi untuk mengelola dan memahami informasi yang diterimanya itu, sambil menganalisis segala sesuatu tentang informasi itu lebih lanjut. Sejenak, hanya ada hening di antara ayah, ibu, dan anak itu. Lalu terdengar Ingga melanjutkan kalimatnya, “Tapi aku sudah oke, Ma… Jangan khawatir, ya. Tadi Papa sudah doain aku dan sudah doa bareng…” Mendengar kelanjutan kalimat ini, Wulan baru memperhatikan, wajah putrinya itu memang terlihat sembap, mata putrinya bengkak dan memerah. Tanda-tanda baru menangis. Seketika, logikanya bekerja kembali dan keluar pertanyaan dari mulut Wulan, “Kamu tahu siapa pelakunya? Apa yang dia lakukan sama kamu? Bagian tubuh kamu yang mana yang dipegang? Kamu tadi lakukan yang Mama ajarkan sama kamu kalau ada orang yang berbuat nggak sopan dan nggak pantas sama kamu sebagai perempuan?” Tanpa sadar, Wulan memberondong putrinya dengan rentetan pertanyaan dan itu justru membuat Ingga jadi kembali terpancing emosinya, “Sudah, Ma… Please don’t ask me those questions. It’s already happened!! Tadi di bus memang penuh… Aku berdiri dan aku balas chat di HP, terus awalnya aku beberapa saat nggak kepikir bahwa itu adalah pelecehan, tapi akhirnya aku sadar dan aku merasa takut. Aku nggak bisa jelaskan gimana rasa takutnya, tapi aku takut. Tadi aku sudah cerita dan didoakan Papa, setelah itu kami berdua berdoa berbahasa Roh sama-sama. Tuhan sudah tolong aku Ma, rasa takut itu sudah nggak ada lagi.”

Jawaban putrinya itu, sama seperti prolog suaminya tadi, tidak berhasil membuat Wulan tenang. Justru, ada pikiran lain mulai masuk, “Semestinya aku ada di sana bersama dengan Ingga… Semestinya aku menjaga dia. Semestinya aku bisa kasih pelajaran kepada orang yang melecehkan putriku. Semestinya tidak boleh ada orang yang kurang ajar begitu terhadap putriku. Semestinya Ingga melakukan apa yang sudah kuajarkan dulu, kalau ada orang yang bersikap kurang ajar kita pelototi saja dia sampe dia salah tingkah… Semestinya… Semestinya…” Semua pikiran itu datang susul-menyusul memenuhi hati Wulan hingga sesak, dan pecahlah tangisnya. Tangis penyesalan, kemarahan, dan rasa bersalah.

Ingga kenal betul mamanya. Dibukanya kedua tangannya dan dibawanya tubuhnya mendekat dan memeluk mamanya. Berdua, mereka berpelukan lama tanpa kata-kata. Putro memandang istri dan putrinya itu juga dalam diam, tetapi hatinya terus berdoa meminta agar Tuhan yang sudah berbicara kepada Ingga berbicara juga kepada Wulan. Beberapa saat ibu dan anak putri itu larut dalam pelukan dan di sela tangisan keduanya Ingga beberapa kali berucap, “It’s okay, Ma… aku sudah oke. Mama jangan menyalahkan diri… Ini bukan salah Mama. Aku sudah nggak takut lagi dan aku akan lebih berhati-hati…” sambil terus mengusap punggung Wulan.

Dalam kondisi kecamuk hati dan pikirannya itu, sebersit muncul kesadaran di batin Wulan bahwa Tuhan sungguh telah berbicara secara pribadi kepada Ingga, dan itulah yang menolong Ingga untuk menolong Wulan, mamanya, menjadi tenang. Badai di dalam diri Wulan pun mulai mereda. Wulan menatap mata Ingga dan melihat harapan dan senyum di sana, meskipun masih ada sedikit sisa trauma dari kejadian yang hari itu dialaminya. Terang kecil itu lebih dari cukup untuk Wulan percaya bahwa satu saja perkataan Tuhan sanggup menenangkan badai.

Sejurus kemudian, terdengar Putro berkata, “Ayo, sekarang kita berdoa bersama… Sekarang kita doakan Mama, untuk Mama juga mendengar apa yang Tuhan mau katakan lewat semua peristiwa ini. Pasti ada maksud dan kehendak Tuhan lewat semuanya buat kita bertiga.” Doa sederhana Putro sebagai kepala keluarga memimpin mereka, memberikan keteduhan yang perlahan tetapi pasti membuat hati Wulan tenang untuk mendengar Tuhan berbicara. Dalam hatinya, Wulan menjerit jujur, “Bapa, tolong aku untuk percaya… bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi, Engkau punya maksud baik untukku.”

Malam itu menjadi malam yang istimewa bagi keluarga kecil ini.  Adalah sebuah sukacita untuk mengenal Tuhan lewat pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, tetapi adalah sebuah keindahan khusus pula jika kita mengenal Tuhan melalui berbagai pengalaman saat berada di lembah kekelaman. Di saat-saat gelap itulah hati sulit untuk percaya kepada Allah dan kedaulatan-Nya, harapan serasa kandas, dan masa depan seolah tidak jelas. Namun, justru itulah saat terbaik untuk kembali datang kepada Tuhan dan mengerti maksud-Nya, mengalami pertolongan-Nya untuk menang atas ketakutan dan kembali memercayai Tuhan yang tidak terbatas mengatasi segala rasa dan pertimbangan manusia yang terbatas.

Malam itu berlanjut dengan percakapan suami-istri yang biasa dilakukan Putro dan Wulan sebelum tidur. Saat Wulan hampir terlelap, Putro bercerita dengan lembut, “Sebenarnya ada hal baik yang kita patut syukuri lewat semua kejadian tadi siang. Tadi waktu aku berdoa dengan Ingga, Tuhan ingatkan aku untuk mengajak dia berdoa dengan berbahasa Roh. Ternyata, waktu berbahasa Roh itulah Ingga tahu bahwa dia sudah tidak takut lagi. Takut yang dirasakan Ingga itu memang sulit digambarkan dengan kata-kata; tapi terbukti bahwa hal yang sulit diungkapkan pun Tuhan tahu. Ingga jadi menang atas ketakutannya saat berdua saja dengan Tuhan dalam percakapan berbahasa Roh itu. Lewat ini kita juga perlu bersyukur karena putri kita diingatkan pentingnya disiplin rohani secara pribadi, untuk dia terus bertumbuh secara pribadi makin mengenal dan mengasihi Tuhan.” Semua perkataan Putro itu tersimak dengan baik oleh Wulan. Di dalam hatinya, ada suara lembut yang melanjutkan berbicara, “Semuanya akan baik-baik saja, Wulan. Aku mengasihimu.” Wulan tahu, itu suara Tuhan, dan dia percaya. Menutup malam itu, Wulan tidur dengan nyenyak. Hatinya rela dan pikirannya dimerdekakan oleh perkataan Tuhan.

Selalu dan pasti… Perkataan Tuhan lebih dari cukup untuk terus menyadarkan manusia bahwa Dia adalah Tuhan, dengan kuasa dan kedaulatan-Nya yang melebihi apa pun yang dapat disebut, termasuk kekhawatiran, ketakutan, kesusahan, kekacauan, maupun setiap pemikiran kita yang tidak sesuai dengan isi hati-Nya. Perkataan Tuhan adalah Firman-Nya yang hidup, kehadiran-Nya yang nyata di dalam setiap peristiwa hidup sehari-hari, pernyataan kasih dan kuasa-Nya yang menolong, menghibur, menguatkan, mengarahkan, menasihati, dan menegur untuk kita kembali kepada kasih-Nya. Oleh perkataan Tuhan, kita dapat memercayai Dia di atas segalanya dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia.

 

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.– Mazmur 56:3

 

Pertanyaan refleksi pribadi:

  1. Seberapa sering engkau menemukan perkataan Tuhan saat menghadapi ujian dan tantangan hidup sehari-hari?
  2. Seberapa teguh engkau memercayai Tuhan di atas segala masalah hidupmu?
  3. Bagaimana pertumbuhan pengenalanmu secara pribadi akan Tuhan selama ini?
  4. Ambillah waktu tenang dan lakukan refleksi pribadi berdua saja dengan Tuhan. Temukan perkataan-Nya untuk dirimu secara pribadi.
2022-05-27T13:12:16+07:00