///Persiapan untuk Tuaian Besar

Persiapan untuk Tuaian Besar

Tahun ini, saya percaya, merupakan era/musim yang baru bagi kita semua. Bagi Gereja, ini adalah masa transisi menuju persimpangan jalan, dengan dua pilihan yang terpampang: apakah kita mau memilih jalan menuju kehancuran dan kemunduran, atau memilih jalan menuju pemulihan total yang akan terjadi di era/musim yang baru ini? Apakah kita memilih ditinggalkan dan kehilangan jemaat, atau justru memilih pertumbuhan dan penuaian besar? Apa saja langkah-langkah yang perlu kita lakukan sebagai Gereja demi memastikan kita memilih pilihan yang tepat? Bagaimana agar kita dapat menjadi tidak terguncangkan dan siap untuk melakukan penuaian besar?

 

Belajar dari gaya hidup Gereja mula-mula

Pada era/musim yang baru ini, standar minimal yang harus kita capai adalah menjadi seperti Gereja mula-mula, yang lahir pada hari Pentakosta. Standar ini ialah standar minimal, yang menunjukkan kriteria Gereja akhir zaman yang sedang dipersiapkan Tuhan. Gereja akhir zaman yang demikian akan terus tumbuh menuju kepenuhan Kristus dan menyelesaikan Amanat Agung (Ef. 5:25-27; Mat. 24:14). Untuk mencapai standar ini, untuk siap memasuki masa penuaian besar, kita sebagai Gereja harus memiliki gaya hidup Gereja mula-mula. Bacalah dan praktikkan gaya hidup ini dari isi kitab Kisah Para Rasul.

 

Mempraktikkan seluruh esensi Gereja secara utuh dan bersamaan

Kita tahu bahwa esensi Gereja adalah gaya hidup ibadah sejati (“Up“), persekutuan yang autentik (“In“), dan Amanat Agung (“Out“). Kini, kita juga perlu mengerti bahwa seluruh esensi itu perlu dipraktikkan secara utuh dan bersamaan. Secara simultan. Banyak orang berpikir salah, yaitu ketiga esensi itu seharusnya dipraktikkan secara berurutan satu per satu. Mereka berpendapat bahwa kita harus mantap dalam hal esensi “Up” dan “In” dulu, kemudian barulah mampu/perlu mulai mempraktikkan “Out“. Sebenarnya, kebenarannya tidaklah demikian. Jika kita memperhatikan cara hidup yang dipraktikkan Gereja mula-mula, ketiga esensi ini harus dipraktikkan secara bersamaan/simultan setiap hari, sebagai kesatuan yang utuh.

Catatan di Kisah Para Rasul 2:42, 46-47 (TB) menunjukkan kebenaran ini. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Gereja mula-mula berdoa (Up) setiap hari (ayat 42b), mereka bersekutu, memecah roti/perjamuan kudus bersama (In) setiap hari (ayat 42a, 46), sekaligus mereka bersaksi, memenangkan jiwa baru, serta mengajarkan/memuridkan jiwa baru (Out) dengan pengajaran rasul-rasul (ayat 42, 47). Semua esensi ini mereka praktikkan secara utuh dan bersamaan.

Gaya hidup Up, In, dan Out yang dipraktikkan secara utuh dan bersamaan inilah yang membuahkan hasil berupa penuaian jiwa-jiwa setiap hari. Penuaian yang besar. Setiap orang percaya dalam Gereja mula-mula mempraktikkannya, dan kita pun dalam Gereja akhir zaman perlu mempraktikkannya.

 

 Mempraktikkan “4 Segera”

Dalam Gereja mula-mula, jumlah orang yang bergabung ke dalam Gereja setelah menjadi percaya, dapat diduga kuat mendekati seratus persen. Artinya, hampir semua orang percaya baru masuk menggabungkan diri ke dalam Gereja. Hal ini berbeda dengan kondisi Gereja masa kini, yang paling banyak hanya menampung 10% dari jumlah orang percaya hasil penginjilan. Mengapa Gereja mula-mula begitu efektif memenangkan dan menjangkau jiwa? Pelajari penyebabnya di Kisah Para Rasul 2:40-42; 47 (TB), yaitu Gereja mula-mula mempraktikkan “4 Segera”:

Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: ‘Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.’ Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Apa itu “4 Segera”?

  1. Segera menindaklanjuti jiwa-jiwa baru (ay. 40-41),
  2. Segera membawa jiwa-jiwa baru bergabung ke dalam komunitas kecil (jemaat di rumah) (ay. 42),
  3. Segera memuridkan jiwa-jiwa baru dengan pengajaran rasul-rasul (ay. 42), dan
  4. Segera membawa jiwa-jiwa baru untuk bersaksi dan memenangkan jiwa pula (ay. 47).

 

Keempat “segera” ini dipraktikkan di dalam kehidupan Gereja mula-mula, sehingga penuaian dapat terjadi setiap hari. “4 Segera” ini ibarat jaring ikan yang dibentangkan maksimal oleh para penjala bersama-sama, untuk menjaring ikan (jiwa-jiwa) dengan efektif, sehingga tidak ada yang lolos.

 

Mempraktikkan Amanat Agung

Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’” (Mat. 28:18-20, TB)

 

 

Hal ketiga yang harus dilakukan oleh Gereja agar siap menuai di akhir zaman adalah mempersiapkan dan membawa semua anggotanya untuk melaksanakan Amanat Agung. Setiap murid Kristus perlu melakukan Amanat Agung, karena Yesus memberikan amanat itu untuk setiap murid-Nya tanpa kecuali. Ada sebagian gereja yang percaya bahwa Amanat Agung hanyalah berlaku bagi orang-orang yang berstatus atau memiliki karunia rasul, gembala, atau misionaris saja. Pandangan demikian akan membuat Gereja tidak mampu menuai dengan efektif. Apalagi jika Gereja benar-benar mengabaikan pentingnya Amanat Agung, tentu akan kehilangan momentum penuaian jiwa-jiwa besar-besaran di era/musim yang baru ini! Amanat Agung perlu dilakukan oleh setiap murid Kristus, seperti yang dipraktikkan oleh Gereja mula-mula, meski dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kasih karunia, hikmat, dan tuntunan Tuhan.

Salah satu kisah yang menunjukkan setiap murid menjangkau jiwa adalah ketika 70 murid Yesus kembali dari perjalanan praktik memenangkan jiwa (menemukan “orang damai”, yaitu yang terbuka terhadap berita injil tentang Yesus Kristus). Saat itu, mereka begitu bersukacita karena berbagai mukjizat ajaib yang terjadi dalam pelayanan mereka. Namun, ternyata Yesus lebih bersukacita lagi.

Kemudian ketujuhpuluh murid-murid itu kembali dengan gembira dan berkata: ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.’ Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: ‘Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.’” (Luk. 10:17, 21, 24, TB)

 

Yesus sangat bergembira dalam Roh Kudus ketika setiap murid-Nya menjangkau jiwa-jiwa! Kata “bergembira” dalam konteks ini dalam bahasa Yunaninya adalah “agaliao“, yang berarti “sangat girang sampai melompat-lompat”. Ini merupakan jenis kegembiraan yang lebih daripada kegembiraan manusia, ini adalah kegembiraan yang ilahi. Yesus bergembira, karena “semua hal itu” (pengusiran setan, kesembuhan, pemberitaan injil, nama manusia yang tercatat di surga) dinyatakan kepada orang “kecil” (orang percaya baru, bayi-bayi rohani, atau orang-orang “biasa”). Itulah yang membuat Yesus begitu bersukacita. Inilah era kedatangan Kerajaan Allah di perjanjian baru, yang tidak pernah dilihat oleh raja-raja dan nabi-nabi era perjanjian lama, ketika orang-orang “kecil” dapat menghadirkan Kerajaan Allah dengan mengusir setan, menyembuhkan penyakit, memberitakan injil Kerajaan, membawa orang dari kegelapan ke dalam terang, dan menjangkau meraka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Salah satu peristiwa lain yang mendukung nilai mulia dan penting praktik Amanat Agung ialah ketika Yesus melayani dan menjangkau seorang perempuan Samaria (Yoh. 4:1-42). Bagi Yesus, misi memenangkan jiwa adalah “makanan bagi jiwanya”. Setelah Yesus melayani dan memenangkan perempuan Samaria itu, para murid-Nya datang membawa makanan bagi-Nya, tetapi Yesus berkata bahwa Dia mempunyai jenis makanan lain yang tidak dikenal murid-muridNya. Alkitab mencatat bahwa ternyata makanan tersebut adalah melakukan dan menyelesaikan misi Bapa-Nya, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa.

 

Mari peka terhadap tuntunan Tuhan pada era/musim yang baru ini. Kita juga harus melihat betapa pentingnya melakukan persiapan yang sebaik-baiknya menuju masa tuaian besar yang akan segera datang ini. Biarlah Anda dan saya, masing-masing dan bersama-sama, tetap teguh mempraktikkan gaya hidup Gereja mula-mula, seluruh esensi Gereja secara utuh dan bersamaan, “4 Segera”, serta Amanat Agung. Biarlah kita merasakan yang Yesus rasakan, yaitu lapar dan haus untuk melaksanakan semuanya ini di dalam hidup kita, sehingga jika kita tidak taat melaksanakannya kita tidak mengalami sukacita penuh (agaliao) seperti yang Yesus alami itu. Mari menjadi Gereja yang siap menuai besar-besaran pada era/musim yang baru ini.

2022-01-26T09:14:06+07:00