“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” – Kolose 3:2, TB
Bagi seorang profesional, kemampuan mengelola pola pikir negatif yang sering muncul di tempat kerja ialah sangat penting. Pola pikir negatif di tempat kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat memiliki dampak yang serius pada kesejahteraan dan kinerja seseorang. Sebaliknya, kemampuan mengelola dan mengatasi pikiran negatif ini akan membantu Anda menghadapi tantangan di tempat kerja dan meningkatkan kinerja Anda.
Setelah bagian pertama topik ini mengulas empat pola pikir negatif yang pertama, kali ini mari kita lanjutkan dengan pembahasan empat pola pikir negatif yang berikutnya.
- “Saya tidak punya cukup keterampilan”
- Pikiran ini muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Contohnya, pikiran, “Saya tidak mampu menyelesaikan tugas ini karena saya tidak punya keterampilannya.” Pemikiran semacam ini dipicu oleh berbagai faktor, biasanya kurangnya pengalaman atau latihan, kegagalan sebelumnya, atau perbandingan dengan orang lain yang dianggap lebih terampil.
- Pola pikir negatif “saya tidak punya cukup keterampilan” membuat seseorang merasa kurang percaya diri dengan kemampuan mereka dan cenderung meremehkan diri sendiri. Alhasil, orang dengan pola pikir ini cenderung berfokus pada kekurangan dan kelemahannya saja dan sering kali mengabaikan kekuatan dan kemampuan yang sebenarnya dimiliki.
- Untuk mengatasi pola pikir negatif ini, Anda dapat mulai mengevaluasi kemampuan diri dengan objektif, yaitu mengenali kekuatan dan kelemahan diri serta menentukan keterampilan spesifik yang perlu ditingkatkan. Selanjutnya, Anda dapat mencari pelatihan atau pengalaman yang diperlukan untuk meningkatkan keterampilan tersebut. Dengan berlatih melakukan evaluasi objekif secara teratur, Anda dapat membangun kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan diri. Gantikan pikiran “saya tidak punya cukup keterampilan ” dengan pikiran seperti “saya sekarang belum punya keterampilan yang diperlukan, tetapi saya akan belajar dan mengembangkan kemampuan saya supaya kelak menguasai keterampilan itu”. Dengan mengubah pikiran demikian, Anda akan mengalami peningkatan kepercayaan diri dan motivasi. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain dan berfokuslah pada kemajuan pribadi saja. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan perbandingan dengan orang lain hanya akan membuat Anda merasa tidak cukup. Fokus pada kemajuan pribadi dan pengembangan keterampilan akan membantu Anda merasa lebih percaya diri dan membangun kemampuan secara bertahap.
- “Saya tidak punya cukup pengalaman”
- Pikiran negatif “saya tidak memiliki cukup pengalaman ” adalah ketika seseorang memiliki keyakinan diri yang rendah terhadap kemampuannya karena kurangnya pengalaman yang dianggap penting untuk sukses. Pikiran semacam ini muncul dipicu oleh berbagai faktor, seperti kurangnya kesempatan untuk mengembangkan pengalaman dalam bidang tertentu, atau perbandingan dengan orang lain yang dianggap lebih berpengalaman.
- Pola pikir merasa kurang berpengalaman sering kali membuat seseorang merasa tidak percaya diri, cemas, dan kurang yakin dalam mengambil tindakan atau keputusan. Akibatnya, pekerjaan dilakukan dengan penuh keraguan dan tidak ada kemantapan.
- Untuk mengatasi pola pikir negatif “saya tidak punya cukup pengalaman”, Anda dapat mulai mengubah cara berpikir yang salah. Ketimbang merasa tidak percaya diri dan cemas karena kurangnya pengalaman, Anda dapat berfokus pada kemampuan dan kekuatan yang memang telah dimiliki sambil terus berusaha meningkatkan kemampuan dan pengalaman. Dengan memusatkan perhatian pada keterampilan dan pengalaman yang telah dimiliki dan memperoleh pengetahuan/pengalaman baru melalui pelatihan atau belajar mandiri, Anda dapat membangun kepercayaan diri dan melihat sendiri pengalaman Anda bertambah.
- “Saya tidak diperhitungkan”
- Pikiran negatif “saya tidak diperhitungkan” adalah ketika seseorang merasa bahwa kontribusinya tidak dihargai atau diabaikan oleh orang lain, baik itu di tempat kerja, dalam hubungan pribadi, atau di lingkungan sosial lainnya. Pola pikir negatif ini sering muncul di tempat kerja, dan dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengakuan atas prestasi yang telah dicapai, atau perasaan bahwa orang lain tidak memperhatikan atau menghargai kontribusi yang telah diberikan.
- Pola pikir ini sering kali membuat seseorang merasa tidak berharga, tidak dihargai, dan kurang dihormati. Akibatnya, orang yang demikian akan melakukan pekerjaannya dengan ogah-ogahan, malas, dan tidak termotivasi. Alhasil, hasil kerjanya tidak maksimal karena memang bukan merupakan hasil upaya terbaik.
- Untuk mengatasi pola pikir negatif ini, berlatihlah untuk memusatkan perhatian pada prestasi dan kontribusi yang telah Anda berikan. Dengan cara ini, Anda dapat membangun kepercayaan diri dan meningkatkan rasa penghargaan pada diri sendiri. Kemudian mintalah umpan balik dari atasan, rekan kerja atau orang lain untuk mengetahui apakah kontribusi Anda telah diperhitungkan atau tidak. Dengan cara ini, Anda dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan diri dan meningkatkan kontribusi di masa depan. Terakhir, berlatihlah mengganti pikiran negatif “saya tidak diperhitungkan” dengan pikiran positif seperti “saya senang telah memberikan kontribusi yang berarti, dan saya akan terus melakukannya” serta “saya tidak memerlukan pengakuan dari orang lain untuk merasa baik tentang diri saya sendiri”. Dengan mengubah pola pikir seperti ini, Anda dapat membangun kepercayaan diri dan merasa lebih dihargai, lalu bekerja lebih giat dan menghasilkan produktivitas yang maksimal.
- “Saya terlalu tua/muda”
- Pikiran negatif “saya terlalu tua/muda” adalah ketika seseorang memiliki keyakinan diri yang rendah karena usianya, baik merasa terlalu muda atau terlalu tua. Kemunculannya dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbandingan dengan orang lain yang dianggap lebih ideal karena lebih muda atau lebih tua, atau stereotipe sosial yang mengaitkan kemampuan dengan usia.
- Orang yang terbiasa merasa terlalu muda atau terlalu tua cenderung merasa tidak berharga atau kurang kompeten dibandingkan dengan orang lain. Biasanya, orang yang demikian akan enggan atau takut mengambil tanggung jawab baru dalam pekerjaan, sehingga kinerja serta kariernya cenderung stagnan.
- Untuk mengatasi pola pikir negatif ini, Anda dapat mulai mengubah cara berpikir dengan mengalihkan perasaan tidak berharga karena usia dan mengalihkan perhatian pada kekuatan dan pengalaman yang Anda miliki. Dengan cara ini, Anda dapat membangun kepercayaan diri dan meningkatkan kinerja mereka. Penting pula untuk menghindari perbandingan diri dengan orang lain atau stereotipe sosial yang berkaitan dengan usia. Setiap orang memiliki kemampuan dan kekuatan yang unik, dan usia tidak mencerminkan kemampuan seseorang. Berfokuslah pada kekuatan dan pengalaman pribadi, maka Anda akan membangun kepercayaan diri dan meraih kesuksesan yang diinginkan. Selain itu, adalah baik untuk mencari inspirasi dari orang-orang yang memiliki usia yang sama atau berbeda dari Anda dan telah mencapai kesuksesan dalam bidang yang sama. Dengan cara ini, Anda dapat memperoleh motivasi dan dukungan orang lain untuk mengatasi pola pikir negatif dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Kolose 3:2 berbunyi, “Pikirkanlah yang di atas, bukan yang di bumi.” Ayat ini penting untuk mengingatkan kita agar berpikir tentang hal-hal yang sesuai perspektif Tuhan saja, bukan hal-hal yang menurut kacamata dunia, yang sebenarnya remeh dan rendah. Mari arahkan pikiran kita pada hal-hal surgawi atau hal-hal yang bersifat rohani, bukan pada hal-hal duniawi atau hal-hal yang menurut ukuran dunia. Dalam konteks dunia kerja, kita dapat menerapkan ayat ini dengan mengubah pola pikir kita sebagai umat Kristen, sehingga kita dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah. Mari fokuskan perhatian kita pada Kristus saja dan hal-hal yang menurut kehendak-Nya.
Selamat mempraktikkan!