///Prinsip Alkitab Kekuatan untuk Mengumpulkan Harta

Prinsip Alkitab Kekuatan untuk Mengumpulkan Harta

Bagian 1: Prinsip 1-5

 

Apa Kata Alkitab tentang Menjadi Kaya?

Ada dua teologi yang berkaitan dengan keuangan, harta, atau kekayaan yang sering kita dengar di kalangan Kristen, yaitu teologi kemakmuran dan teologi kemiskinan.

Teologi yang pertama dianut oleh kelompok yang percaya bahwa kekayaan merupakan tanda berkat Tuhan, dengan mengajarkan bahwa kita dapat “memerintah” atau “mengatur” Tuhan hingga memakmurkan kita secara finansial melalui cara-cara tertentu seperti memberi, lalu Tuhan memberikan peningkatan kemakmuran kepada kita sebagai imbalannya. Di sisi lain, penganut teologi ini percaya bahwa kondisi keuangan yang kurang makmur menandakan kekeringan berkat Tuhan akibat dosa kurang memberi atau kurang beriman. Bagian-bagian favorit dari Firman Tuhan yang sering digaungkan dalam teologi kemakmuran adalah “Allah adalah Sumber segala sesuatu yang Mahakaya”, “Allah adalah Bapa yang baik kepada kita sebagai anak-anak-Nya”, dan sejenisnya. Jika kita cermati, teologi ini sesungguhnya bertentangan dengan kebenaran Firman, karena bersumber dari keserakahan, keegoisan, ketamakan, penyembahan berhala, dan cinta uang. Alkitab tegas sekali memberi peringatan tentang hal-hal ini, salah satunya yang paling jelas di 1 Timotius 6:10-11, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.  Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman  dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

 

Sebaliknya, ada keyakinan yang berbeda yang berlawanan dengan teologi kemakmuran, yaitu ajaran yang mengklaim bahwa uang dan harta adalah jahat, bahwa orang kaya adalah serakah dan berdosa, serta bahwa miskin adalah kondisi hidup yang lebih benar dan lebih diperkenan di mata Tuhan. Inilah teologi kemiskinan, yang terlalu ekstrem berpegang pada paham “memikul salib”. Bagi para penganutnya, kelimpahan uang dan harta pasti membawa dosa dan penghukuman. Padahal, Amsal 30:8 berkata, “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Jelaslah, Alkitab sejatinya tidak mengutuk kekayaan atau meninggikan kemiskinan sebagai jalan menuju kebenaran. Kita seharusnya mengikuti kebenaran Firman Tuhan di dalam Alkitab pula.

 

Ada tidaknya uang atau harta bukanlah cara yang benar untuk kita mengukur kadar berkat Tuhan. “Kaya dan miskin memiliki kesamaan: Tuhan adalah Pencipta mereka semua,” catat Amsal 22:2. Masalah utamanya bukanlah kaya atau miskin, melainkan cara pandang atau sikap hati kita terhadap uang atau harta. Satu-satunya cara pandang yang tepat adalah yang seimbang menurut kebenaran Firman Tuhan.

 

Abraham, Ishak, dan Yakub adalah orang-orang kaya. Raja Salomo pun disebut sebagai raja terkaya di dunia, dan kekayaan itu diterimanya sebagai hadiah dari Tuhan. Dalam Lukas 8:3, tercatat bahwa seorang wanita kaya mendukung pelayanan Yesus di bumi dengan kekayaannya. Ketika Yesus mati di kayu salib, orang-orang kaya yang punya jejaring kuat di antara mereka meminta jasad-Nya lalu menguburkannya dengan biaya pribadi mereka sendiri. Dalam Kisah Para Rasul 2, kita membaca bagaimana Gereja mula-mula saling berbagi sumber daya mereka, kaya dan miskin, demi mencukupi kebutuhan seluruh anggota jemaat. Perhatikan bahwa di seluruh catatan ini dan banyak lagi lainnya, Tuhan tidak pernah mengutuk kekayaan. Tuhan justru memperingatkan kita bahwa dosa akan masuk saat uang atau harta itu menjadi tujuan akhir atau prioritas utama manusia, sehingga keserakahan untuk memuaskan keinginan akan kekayaan membuat manusia itu mengejarnya dengan segala upaya.

 

Pada intinya, kehendak Tuhan mengenai uang dan harta dapat disimpulkan. Tuhan ingin agar melalui apa pun yang kita miliki (talenta, keahlian, sumber daya, termasuk harta), siapa pun kita (baik yang berkelimpahan harta maupun yang berkekurangan harta), kita menggunakan segala milik kita itu untuk kepentingan-Nya di bumi, yaitu untuk pekerjaan Kerajaan Allah dan menjalankan Amanat Agung.

 

Bagaimana cara mengumpulkan harta dengan benar menurut Alkitab?

Sama seperti usaha apa pun lainnya, usaha untuk mengumpulkan harta tentunya membutuhkan kekuatan. Seri artikel yang berisi dua bagian ini akan membahas sepuluh prinsip Alkitab yang merupakan kekuatan bagi kita untuk mengumpulkan harta. Pada bagian 1 ini, kita membahas lima prinsip yang pertama.

 

1.Prinsip setia pada proses

Prinsip ini berarti kita mencari harta dengan tekun, tanpa terburu-buru karena hawa nafsu untuk cepat kaya. Beberapa dasar kebenarannya:

Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.” – Amsal 13:11

Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati.” – Amsal 20:21

Orang yang setia akan berlimpah berkat, tetapi siapa yang tergesa-gesa menjadi kaya tidak akan luput dari hukuman.” – Amsal 28:20

Meskipun skema cepat kaya kadang berhasil, sering kali karena hati kita tidak berada di posisi yang tepat, harta yang dikumpulkan dengan cepat itu akan menghilang secepat kemunculannya. Sebaliknya, jika kita bekerja secara tekun dan tidak bernafsu ingin cepat kaya, kita akan lebih menghargai kekayaan yang dikumpulkan dengan jujur dan melewati proses waktu itu. Kita jadi lebih bisa bersyukur dan lebih bijak untuk memanfaatkannya dengan baik. Mengumpulkan harta perlahan-lahan dalam proses ketekunan akan membangun karakter baik, mengasah kompetensi, dan melimpahkan ucapan syukur. Sebaliknya, mendapatkan harta dalam jumlah besar sekaligus dalam waktu cepat sering kali justru menjadi penghalang untuk kita menikmati berkat Tuhan. Di dalam sejarah, banyak sekali contohnya dari kehidupan orang-orang yang menang lotere besar atau mendapat “rejeki nomplok” yang pada akhirnya bangkrut.

 

Orang yang tekun dalam proses meskipun sulit dan panjang, biasanya akan memiliki karakter yang lebih positif dan punya kompetensi yang terasah dengan baik. Mereka biasanya lebih tahan banting, mudah bersyukur, sabar, dan murah hati. Setia pada proses dalam mengumpulkan harta adalah kekuatan yang mengantar kita ke “sustainable growth”, yaitu pertumbuhan harta yang terus-menerus dan konstan.

 

2.  Prinsip bekerja keras

Alkitab konsisten memperingatkan kita semua untuk tidak bernafsu mengejar harta, sekaligus rajin bekerja keras. Alkitab sangat mengecam sikap malas atau suka bermimpi belaka tanpa kerja keras.

Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.” – Amsal 28:19

Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.” – Amsal 14:23

Janganlah menyukai tidur, supaya engkau tidak jatuh miskin, bukalah matamu dan engkau akan makan sampai kenyang.” – Amsal 20:13

Dengan bekerja keras dan setia pada proses, usaha kita akan terarah pada “memiliki banyak roti”, yaitu keberhasilan dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya, sikap malas dan membuang-buang waktu hanya mengarah pada kemiskinan. Prinsip ini berlaku universal, bukan hanya untuk orang Kristen: tidak ada orang yang berhasil tanpa bekerja keras.

 

3.Prinsip mencari nasihat

Tidak ada orang yang pintar atau ahli dalam segala hal sendirian saja. Untuk bisa sukses di dalam usaha kita mengumpulkan harta (bisnis atau pekerjaan), kita perlu mendapat banyak nasihat atau pandangan yang baik dari orang-orang yang lebih pintar atau ahli daripada diri kita. Bahkan, adalah baik jika kita bisa belajar dari para ahli yang spesifik sesuai kebutuhan kita: konsultan, penasihat hukum, pengacara bisnis, pendiri bisnis di bidang tertentu, atau apa pun dan melalui cara apa pun (pelatihan, seminar, komunitas bisnis, dsb). Semua ini bermanfaat untuk menyalurkan hikmat dari orang yang lebih berpengalaman kepada tangki kapasitas kita dalam mengumpulkan harta. Orang yang malas belajar dan sok tahu atau sok pintar akan mudah terjerumus ke lubang kegagalan.

Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.” – Amsal 12:15

 

4.Prinsip mengandalkan Tuhan

Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” – Ulangan 8:18

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.” – 1 Samuel 2:7

Banyak orang yang berhasil mengumpulkan harta memiliki pikiran bahwa semua keberhasilannya itu adalah hasil karyanya, kemampuannya, dan perjuangannya sendiri. Orang-orang seperti ini rentan sekali menjadi sombong dan melupakan Tuhan. Mereka cenderung mengagung-agungkan harta hasil usaha mereka dengan berbagai cara, seperti pamer kekayaan, merendahkan sesama yang tidak sekaya meeka, serta cinta akan uang melebihi segala hal lain. Hidup dan fokus mereka berpusat pada pengumpulan harta, dan hatinya makin lama makin menjauh dari Tuhan. Padahal, yang Tuhan inginkan dari kita adalah kesadaran yang terus-menerus bahwa Tuhanlah yang memampukan kita mencari harta, karena di luar Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa (Ams. 10:22). Mengandalkan Tuhan akan menjadi kekuatan terbaik untuk kita mengumpulkan harta yang akan menjadi berkat.

 

5.Prinsip kejujuran dalam kewajiban

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” – Amsal 30:8

Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” – Roma 13:7

Alkitab memerintahkan kita untuk jujur dalam segala kewajiban kita. Dalam konteks uang dan harta, ini berarti kita kita membayar segala yang menjadi kewajiban kita dengan adil, tepat waktu, dan sesuai jumlah seharusnya. Belajarlah untuk melakukan prinsip ini dalam membayar upah karyawan, dalam membayar pajak kepada pemerintah, dalam membayar tagihan kepada pemasok bahan atau produk, dalam melunasi utang, dan dalam segala kewajiban lainnya; tanpa mengurang-ngurangi, menahan-nahan, atau menunda-nunda. Bukankah Allah pun tidak pernah mengurang-ngurangi, menahan-nahan, atau menunda-nunda kebaikan-Nya bagi Anda? Prinsip ini berlaku luas dalam segala usaha kita dalam mengumpulkan harta, bukan hanya dalam hal membayar kewajiban Jujurlah terhadap pelanggan, jangan menipu rekan bisnis, bersikaplah transparan kepada karyawan, dan jangan bersiasat licik terhadap para pesaing. Memang, dalam dunia bisnis masa kini, prinsip ini adalah tantangan tersendiri yang sulit, tetapi jika kita tetap teguh melakukannya, kita akan mengalami penyertaan Tuhan dalam mengumpulkan harta, dan itu menjadi kekuatan yang luar biasa bagi kita.

2022-01-26T08:46:08+07:00