///Prinsip Umum dalam Penafsiran Alkitab

Prinsip Umum dalam Penafsiran Alkitab

(Bagian pertama)

Prinsip Konteks

Dalam build! edisi bulan Mei 2019, kita telah membahas beragam pola penafsiran Alkitab dan hermeneutika, yang dalam sejarahnya mengalami perkembangan melintasi zaman. Dari sejarah perkembangan hermeneutika bagi kita orang-orang Kristen Injili (iman/keyakinan berdasarkan Injil) yang percaya akan innerancy Alkitab (Alkitab tidak memiliki kesalahan karena merupakan Firman Tuhan yang berotoritas penuh dan sempurna), kita mendapati pendekatan para reformator, terutama John Calvin, adalah pendekatan yang paling tepat dan ilmiah. John Calvin berpendapat bahwa tujuan penafsiran Alkitab adalah untuk menggali makna sesungguhnya dari teks Alkitab (eksegesis), yaitu sesuai dengan maksud sebenarnya dari penulis teks Alkitab itu. Karena itulah, John Calvin sangat menentang penafsiran alegoris, yang penuh spekulasi, “tebak-tebakan” dan kesalah-pengertian Alkitab; kesalah-pengertian ini adalah sesuatu yang jahat dan menyesatkan, yang harus selalu dihindari.

Seperti yang pernah dibahas pada artikel Pendahuluan Hermeneutika bahwa semua orang yang membaca dan merenungkan Alkitab pada dasarnya sedang menafsirkan Alkitab, kita perlu selalu menafsirkan dan menggali kebenaran Alkitab sesuai makna sesungguhnya yang dimaksud penulisnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat kita membaca, menafsirkan dan menggali kebenaran Alkitab, dan kita akan membahas satu per satu bersama-sama dalam masing-masing edisi build!. Kali ini, kita akan mulai dengan membahas prinsip konteks, yaitu bagaimana menafsirkan dan memahami isi Alkitab berdasarkan konteks isi Alkitab dengan benar.

Penjelasan arti dan konteks istilah: 

Midrash: “Cerita sejarah” dari zaman PL, yang tidak tertulis sebagai bagian dari isi Alkitab; kata “midrash” juga diterjemahkan sebagai “buku sejarah” dalam 2 Taw. 13:22.

Pesher: Tafsiran isi kitab-kitab PL yang ditulis pada zaman Herodes, yaitu pada awal abad ke-1 SM, seperti gulungan naskah yang ditemukan di Qumran, dekat Laut Mati.

Penafsiran alegoris: Secara sederhana, istilah ini dalam konteks pembahasan kita berarti “me-rohani-kan segala sesuatu sekalipun tidak ada hubungannya”. Maksudnya, penafsiran alegoris adalah penafsiran dengan mencari-cari “arti rohani” dari segala sesuatu (karena dianggap sebagai kiasan yang mengandung arti rohani), tanpa kejelasan sumber atau dasar kebenarannya. Penafsiran semacam ini bersifat sangat subjektif dan tidak dapat diandalkan ketepatannya.

Penafsiran rasionalisme: Cara penafsiran yang biasanya dipakai oleh kaum liberal, yang mempercayai bahwa Alkitab tentu sangat mungkin mengandung berbagai kesalahan karena ditulis oleh manusia. Penafsiran rasionalisme menyatakan bahwa kebenaran Alkitab haruslah ditentukan atau didapatkan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta atau ilmu pengetahuan. Para penganut aliran penafsiran ini tidak percaya akan “innerancy” Alkitab (“ketidakbersalahan Alkitab” – akan dijelaskan di poin selanjutnya); hal-hal yang mereka anggap tidak masuk akal secara rasio di dalam Alkitab seperti mukjizat-mukjizat, termasuk peristiwa kebangkitan Yesus, tidak dapat mereka terima secara harfiah.

Innerancy Alkitab: “Ketidakbersalahan” Alkitab, yaitu pandangan ortodoks yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang merupakan kebenaran yang absolut dan obyektif, maka tidak mungkin salah atau mengandung kesalahan.

 

Pendekatan atau prinsip hermeneutika John Calvin adalah bagaimana ayat-ayat dalam Alkitab hendaknya ditafsir atau dipahami berdasarkan:

  1. konteks dari ayat-ayat yang kita tafsirkan,
  2. tata bahasa dan makna literal bahasa asli yang digunakan oleh penulis,
  3. latar belakang sejarah dan budaya saat kitab itu ditulis.

Oleh karenanya, pendekatan hermeneutik dari John Calvin ini umum dipakai oleh kalangan Injili, termasuk kita. Dalam artikel ini, kita akan belajar secara khusus dasar penafsiran yang pertama, yaitu konteks dari ayat-ayat yang sedang kita tafsirkan.

 

Konteks

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbaru, “konteks” berarti:

  1. Bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna
  2. Situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian

Contoh: ‘orang itu harus dilihat sebagai manusia yang utuh dalam konteks kehidupan pribadi dan masyarakatnya

Dalam menggali konteks suatu teks, ada dua metode yang kita kenal, yang berikut ini kita telaah secara praktis dan khusus langsung dari sudut pandang memahami Alkitab:

Metode Deduktif

Metode deduktif ialah metode menggali makna teks Alkitab dengan memasukkan ide-ide kita atau pendapat kita ke dalam teks Alkitab  itu. Dalam hal ini kita menggunakan Alkitab untuk membenarkan pendapat kita (yang telah kita miliki/tetapkan sejak sebelum kita melakukan penggalian). Akibatnya, kita menyajikan seolah-olah pendapat kita benar dan didukung oleh dasar Alkitab, tanpa memperhatikan makna sesungguhnya dari ayat yang dikutip (=eisegesis).

Metode Induktif

Metode induktif, seperti telah disinggung sebelumnya, ialah metode menggali makna teks Alkitab dengan membiarkan Alkitab “berbicara” sendiri kepada kita sesuai dengan isi dan data-data yang ada pada teks Alkitab itu. Dalam metode ini, kita datang mendekati Alkitab dengan posisi pikiran yang bersih (“kosong”) dari pendapat, ide-ide, atau asumsi yang sudah ada atau yang sudah pernah kita dengar. Kita justru mengajukan pertanyaan kepada ayat-ayat Alkitab yang sedang digali dan mengamati semua isi/data yang ditampilkan darinya. Inilah yang dimaksud dengan membiarkan Alkitab berbicara sendiri kepada kita.

 

Sekarang, kita akan mempelajari bagaimana menggali Alkitab dengan metode induktif dalam prinsip konteks. Yang pertama-tama perlu kita perhatikan adalah konteks dari ayat-ayat yang akan kita tafsirkan, dan untuk itu ada tiga tahap penggalian yang perlu kita lakukan:

  1. Observasi (pengamatan)

Observasi ialah tahap pertama yang kita gunakan untuk menggali Alkitab, yaitu kita melihat, menelusuri, mencari data-data dari isi teks Alkitab itu, secermat mungkin. Pengamatan dapat dilakukan dengan membaca berulang-ulang teks yang sedang digali; kemudian kita mengajukan pertanyaan yang menyangkut:

Waktu dan tempat: kapan dan di mana peristiwa dalam teks yang digali itu terjadi

Konteks: apa dan bagaimana saja keterkaitan teks yang digali dengan unsur sejarah, sosial dan budaya dan politik aslinya

Latar belakang penulis: siapa si penulis menurut aspek budaya, pendidikan, dan lingkungan

Isi: apa pesan yang sedang disampaikan oleh teks yang digali

Sederhananya, dalam tahap ini, pertanyaan yang biasa diajukan adalah:

What: apa yang terjadi? apa saja implikasi dan dampaknya?

Who: siapa saja yang terlibat dalam peristiwa/isi teks? siapa penulisnya? siapa pelakunya dalam peristiwa itu?

Whom: kepada/terhadap/dengan siapa?

When: kapan terjadinya?

Where: di mana kejadiannya?

How: bagaimana hal itu terjadi? bagaimana seluruh situasinya?

– Why: mengapa peristiwa itu dicatat demikian? apa kesimpulan dan pesan yang dimaksud? apa alasan dan tujuan penulisannya?

Semakin dalam kita mengajukan setiap pertanyaan dalam tahap observasi, akan semakin banyak pula data yang dapat kita kumpulkan, sehingga semakin baik pula kita memahami konteks teks Alkitab dan menginterpretasikannya. Pada akhirnya, ini berarti semakin baik pula aplikasi atau penerapan kita akan isi teks itu yang kita bisa lakukan dan teruskan kepada orang lain. Namun, tahap penggalian konteks tidak berhenti di sini; kita perlu melanjutkan ke tahap selanjutnya.

  1. Pemahaman konteks yang lebih utuh

Ada pendapat yang berkata, “Konteks kata adalah kalimat, konteks kalimat adalah paragraf, konteks paragraf adalah perikop, konteks perikop adalah pasal, konteks pasal adalah kitab, dan konteks kitab adalah Alkitab.” Pendapat ini benar dan harus kita pegang teguh agar interpretasi kita tidak salah arah atau terjadi salah tafsirkan. Konteks lebih utuh yang dimaksud dalam hal ini meliputi:

  1. Konteks ayat

Suatu ayat tidak boleh kita tafsirkan tanpa melihat apa yang menjadi konteks di dalam paragraf dan perikop itu.

  1. Konteks perikop

Suatu perikop tidak boleh boleh kita tafsirkan tanpa melihat apa yang menjadi konteks di dalam perikop-perikop yang terkait dengannya, misalnya perikop sebelum dan sesudah perikop yang sedang digali itu.

  1. Konteks pasal

Suatu pasal tidak boleh boleh kita tafsirkan tanpa melihat apa yang menjadi konteks di dalam pasal itu, misalnya pasal sebelum dan sesudah pasal yang sedang digali itu.

  1. Konteks kitab

Suatu kitab juga tidak boleh boleh kita tafsirkan tanpa melihat apa yang menjadi konteks di dalam kitab itu secara keseluruhan maupun kitab-kitab lain yang terkait dengannya.

  1. Konteks Alkitab

Segala sesuatu yang kita gali di dalam Alkitab tidak boleh kita tafsirkan tanpa memperhatikan maksud penulisan dan pesan dari Alkitab secara keseluruhan.

  1. Hubungan

Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa menafsirkan dan menggali makna ayat-ayat Alkitab tidak boleh berdiri sendiri tanpa konteks. Maka, dalam menafsirkan kita harus selalu memperhatikan hubungan-hubungan (keterkaitan) dari teks yang kita gali dengan segala hal lainnya, yang mencakup:

– Hubungan antar ayat dan paragraf,

– Hubungan antar perikop,

– Hubungan antar pasal, dan

– Hubungan antar kitab.

Dengan selalu memperhatikan tiga tahap penggalian ini, kita akan terbiasa membaca dan menafsirkan teks Alkitab menurut langkah-langkah yang sehat:

  1. Mengamati teks dengan saksama, dengan membaca teks berulang kali dan memperhatikan setiap kata/detail
  2. Mencatat semua data dan fakta yang ditampilkan secara mendetail
  3. Memperhatikan bentuk tulisan: apakah bentuknya surat, puisi, sejarah, biografi, perumpamaan, nubuat, kitab khusus (Injil), dll, karena karakter dan pendekatan untuk masing-masing bentuk tulisan berbeda-beda
  4. Memperhatikan apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya dalam teks yang digali, termasuk perikop sebelum dan sesudahnya
  5. Memperhatikan pengertian dan isi yang ditampilkan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam tahap kedua yang sudah dijelaskan sebelumnya.
  6. Memperhatikan dan mempelajari interaksi/hubungan/keterkaitan yang terjadi dalam teks itu

– Apa hubungan yang terjalin di dalamnya

– Apa arti dari interaksi itu

– Apa implikasi dari hubungan-hubungan itu

  1. Memperhatikan teks yang digali: apakah teks itu berupa fakta langsung (sesuai dengan yang tertulis) atau fakta tak langsung (butuh imanjinasi lebih dulu untuk merekonstruksi kembali peristiwa tersebut seolah-olah kita terlibat langsung di dalamnya).
  2. Memperhatikan bentuk tulisannya, dengan cara mengamati:

– tanda baca

– kata-kata atau ide yang muncul berulang

– penekanan pada kata-kata tertentu, misalnya: aku berkata kepadamu; sesungguhnya; dll.

– proporsi yang lebih besar diberikan pada seseorang atau situasi tertentu.

 

Jika kita mulai membiasakan diri untuk tekun belajar membaca, menggali, dan menafsirkan Firman Tuhan sesuai konteksnya dengan benar, kita akan semakin mengerti dan mengalami betapa hidup dan berkuasanya kebenaran Firman Tuhan dalam hidup kita. Sekali lagi, hal ini tentu juga akan berpengaruh pada semakin efektifnya kita meneruskan pemahaman kita kepada orang lain.

Dalam build! edisi berikutnya, kita akan melanjutkan membahas prinsip umum dalam penafsiran Alkitab bagian kedua, yaitu bagaimana menafsirkan dan memahami ayat-ayat Firman Tuhan dengan melihat dari tata bahasa dan makna literal bahasa asli yang digunakan oleh penulis.

Mari setia belajar dan menggali Firman Tuhan.

2019-09-27T11:44:59+07:00