//Pura-pura benar, pura-pura kudus

Pura-pura benar, pura-pura kudus

Sulit sekali rasanya membayangkan dan memahami bagaimana mungkin kenyataan itu berlangsung selama bertahun-tahun, karena saya secara pribadi pun tahu (atau bahkan sempat mengalami) betapa hebatnya image diri serta karunia dan pelayanan-pelayanan yang mereka lakukan. Setiap kali berita seperti ini terdengar, saya selalu jadi merenung: alangkah ngerinya hidup di balik topeng kebenaran dan kekudusan yang pura-pura!

Yang menyedihkan, kenyataan ini memang ada dan Firman Tuhan pun menyatakan demikian. Bahkan di hari penghakiman Tuhan kelak, Yesus sendiri akan menghakimi mereka yang pura-pura benar dan pura-pura kudus itu. Matius 7:22-23 yang dikutip di awal artikel ini tegas menyebutkan bahwa orang-orang yang seperti ini adalah pembuat kejahatan, bukan orang-orang benar atau orang-orang kudus. Surat 2 Petrus dan Yudas yang selama bulan ini kita renungkan dalam saat teduh setiap hari pun meneguhkannya: sejak zaman dahulu, ada orang-orang yang terlihat hebat, padahal mereka sebenarnya adalah para pelayan/pengajar palsu yang mengajarkan ajaran salah/sesat, dan karakter/moralitas mereka yang bobrok menjadi buah yang menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Faktanya, memang orang-orang terdekat dan orang-orang yang ikut menghidupi ajaran sesat para guru palsu itu biasanya juga memiliki kualitas karakter/moral yang sama bobroknya, yang terbukti dari berbagai kasus yang telah naik ke permukaan dan diketahui publik. Masalahnya, sebelum buah kebobrokan karakter/moral ini terlihat, bagaimana kita bisa mengenali orang-orang dan ajaran-ajaran yang pura-pura benar dan pura-pura kudus ini?

Pada prinsipnya, yang asli/sejati akan mengenali sesama yang asli/sejati. Iman sejati muncul dari kelahiran baru di dalam Roh Kudus, maka siapa pun yang telah mengalami kelahiran baru yang sejati pasti memiliki iman yang sejati dan di dalam dirinya tinggal Roh Allah. Roh itu adalah Roh Kudus, Roh Kebenaran, Roh Allah dan Roh Kristus sendiri! Roh itu memunculkan kemampuan membedakan roh (discernment, mengenali) di dalam diri kita terhadap roh apa pun yang ada di luar diri kita. Maka, kunci untuk mengenali pelayan/pengajar dan ajaran palsu adalah iman sejati di dalam diri kita sendiri. Mustahil kita bisa memiliki kemampuan mengenali atau membedakan ini kalau kita sendiri tidak memiliki Roh Allah. Oleh Roh itulah, iman sejati dalam diri kita akan menghasilkan buah karakter/moralitas, buah pelayanan/karunia, dan buah jiwa/dampak. Oleh Roh itu pulalah, iman sejati dalam diri kita akan mengenali sesamanya:
• Orang lain yang juga punya iman sejati akan mengenali buah kita (buah karakter/moralitas, buah pelayanan/karunia, dan buah jiwa/dampak)!
• Kita yang punya iman sejati juga akan mengenali buah orang lain (buah karakter/moralitas, buah pelayanan/karunia, dan buah jiwa/dampak)!

Memang, kita tahu bahwa setiap orang Kristen, orang yang sudah lahir baru dan yang memiliki iman sejati, masih bisa berbuat dosa dan kesalahan. Namun, kita juga perlu senantiasa mengingat bahwa kelahiran baru dan iman sejati akan menjaga setiap orang Kristen untuk tidak terus-menerus berbuat dosa/kesalahan dan tidak hidup di dalam kegelapan; mereka pasti memiliki hati nurani yang setia bertobat dan mereka pasti tidak betah untuk tinggal di dalam gaya hidup dosa. Ada perbedaan yang jelas dan nyata di antra keduanya! Iman yang sejati di dalam diri kita akan membuat:
• kita tahu membedakan hal-hal mana yang merupakan kegagalan, kejatuhan, atau kesalahan; dan hal-hal mana yang merupakan karakter/moralitas buruk karena tidak adanya kelahiran baru,
• kita tahu membedakan hal-hal mana yang merupakan ketidaktahuan, ketidakpahaman, kurang pengalaman; dan hal-hal mana yang merupakan ajaran yang sesat dan salah karena ambisi atau ego berbalut kemasan “pelayanan” atau “karunia” yang tidak bersumber dari kelahiran baru,
• kita tahu membedakan hal-hal mana yang merupakan kelemahan, kurang keterampilan, atau kurang pelatihan; dan hal-hal mana yang merupakan dampak atau buah negatif dan tidak adanya kelahiran baru pada orang-orang yang “dilayani” (meskipun mungkin jumlahnya besar/banyak).

Hal pertama dan terutama yang harus kita lakukan dalam urusan ini adalah senantiasa memeriksa diri sendiri: apakah kita tetap bertumbuh di dalam iman yang sejati, apakah kita masih setia bertobat dan hati nurani kita tetap terjaga bersih, apakah kita tetap menghasilkan buah karakter/moralitas, buah pelayanan/karunia, dan buah jiwa/dampak? Inilah yang memastikan bahwa kita punya iman yang sejati dan Roh Allah tinggal di dalam kita; kita bukan sedang berpura-pura benar dan kudus. Para pelayan/pengajar palsu dan ajaran-ajaran yang salah/sesat akan selalu ada dan berusaha untuk merusak jemaat Tuhan. Selanjutnya, adalah tanggung jawab kita untuk mengenali dan menghadapi semuanya itu, bahkan mungkin termasuk menjawab, mendebat, dan membuktikan kebenarannya jika perlu, semuanya di dalam keyakinan iman yang sejati dan di dalam tuntunan Roh Allah.

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat. 7:22-23)

2019-10-11T11:11:50+07:00